Skip to content
Iklan

Metode Analisis Kualitatif untuk Beberapa Kation dan Anion


Preparing an analytical standard

Preparing an analytical standard (Photo credit: Sanofi Pasteur)

            Tiap jenis ion, positif maupun negatif mempunyai sejumlah sifat khas misalnya: ukuran, bentuk, muatan dan warnanya. Tiap ion bereaksi secara khas baik dalam bentuk larutan maupun padatan. Pengetahuan mengenai ion-ion menyebabkan kita dapat mengenal garamnya. Beberapa sifat utama dari ion ialah reaksi-reaksi kimia yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi ion tersebut.

            Dalam percobaan ini, kita akan mengidentifikasi secara langsung beberapa kation dan anion dengan menggunakan pereaksi-pereaksi yang khas untuk ion-ion tersebut.

 

 

1.       IDENTIFIKASI KATION

Tatakerja :

 a)       Ion Perak (Ag+)

Ÿ   Ambil 1 ml larutan AgNO3 0,1 M dalam sebuah tabung reaksi, lalu tambahkan 1 ml NaCl. Endapan yang terbentuk disaring dengan cara didekantasi dan dicuci dengan air yang mengandung HCl.

Ÿ   Tambahkan 1 ml NH4OH 6 M lalu dikocok endapan akan larut. Asamkan larutan ini dengan menambahkan HNO3 6 M. Terbentuknya endapan putih menunjukkan adanya ion perak.

 

b)      Ion Timbal (Pb2+)

Ÿ   Ambillah 1 ml 0,1 M Pb(NO3)2 dalam sebuah tabung reaksi, lalu tambahkan 1 ml 0,1 M NaCl. Biarkan endapan yang terbentuk turun lalu dekantasi, cucilah endapan dengan 2 ml aquadest dan tambahkan 1 ml aquadest setelah endapan larut, panaskan agar seluruh endapan larut dinginkan larutan tersebut dibawah aliran air kran, apakah yang anda amati? Terbentuknya kristal-kristal jarum yang berwarna putih menandakan adanya ion Pb2+.Panaskan lagi dan larutan dibagi dua.

Ÿ   Larutan pada tabung pertama, ditambahkan beberapa tetes larutan KI , endapan kuning jingga PbI2 menandakan adanya Pb.

Ÿ   Larutan yang kedua ditambahkan 4 tetes K2CrO4 1 M, terbentuknya endapan yang berwarna kuning dan dapat larut di dalam NaOH 6 M menyatakan adanya Pb2+.

 

c)       Ion Seng (Zn2+)

Ÿ   Dalam sebuah tabung reaksi ambil 1 ml  Zn(NO3)2 0,1 M.

Ÿ   Tambahkan 5 tetes larutan NH4Cl 6 M dan 1 tetes NH4OH 6 M. Guna penambahan NH4Cl dan NH4OH adalah sebagai buffer untuk mengatur pH larutan.

Ÿ   Pada larutan tersebut tambahkan 6 tetes Thioacetamida 1 M dan panaskan hati-hati selama 1 sampai 2 menit. Thioaceamida akan bereaksi dengan air (hidrolisis) membentuk H2S dan H2S bereaksi dengan Zn2+ membentuk endapan ZnS yang berupa gel berwarna putih, bila tidak ada Thioacetamida, dapat diganti dengan H2S dalam Aceton.

 

d)      Ion Besi (Fe2+ dan Fe3+)

Ÿ   Dalam sebuah tabung reaksi, ambil larutan 0,1 M FeSO4 sebanyak 1 ml, kemudian tambahkan 5 tetes larutan 0,1 M K3Fe(CN)6 (kalium heksa siano ferrat III), terbentuknya endapan biru tua (biru Turnbull) menandakan adanya ion Fe2+.

Ÿ   Dalam sebuah tabung reaksi, ambil larutan 0,1 M FeCl3 sebanyak 1 ml, kemudian tambahkan 5 tetes larutan 0,1 M K4Fe(CN)6 (kalium heksa siano ferrat II), terbentuknya endapan warna biru-terang (biru Berlin) menandakan adanya ion Fe3+.

 

e)       Ion Tembaga (Cu2+)

Ÿ   Dalam dua buah tabung reaksi, isilah masing-masing dengan larutan 0,1 M CuSO4 sebanyak 1 ml.

Ÿ   Pada larutan CuSO4 ditabung pertama, tambahkan beberapa tetes larutan NH4OH 6 M sampai larutan berwarna biru tua. Terbentuknya senyawa kompleks Cu(NH3)4SO4 yang berwarna biru tua menandakan adanya ion Cu2+.

Ÿ   Pada larutan ditabung kedua, tambahkan beberapa tetes larutan K4Fe(CN)6 0,1 M sampai terbentuk endapan coklat tua. Terbentuknya senyawa kompleks Cu2[Fe(CN)6] yang berwarna coklat menandakan adanya ion Cu2+.

Ÿ   Lakukan test nyala untuk larutan CuSO4 0,1 M dengan cara seperti pada percobaan test nyala pada logam Na. Terbentuknya nyala yang berwarna hijau-biru menandakan adanya logam Cu2+.

 

f)       Ion Barium (Ba2+)

Ÿ   Dengan meggunakan sebuah tabung reaksi ambil 1 ml larutan Ba(NO3)2 0,1 M. Atur pH larutan dengan cara menambahkan 5 tetes  6 M CH3COOH dan 5 tetes 6 M CH3COONH4.

Ÿ   Kemudian tambahkan 3 tetes 1 M K2CrO4, bila larutan belum berwarna kuning, tambahkan lagi. kemudian aduklah maka akan timbul endapan kuning dari BaCrO4.

Ÿ   Dengan menggunakan kawat Ni-Cr, lakukan test nyala untuk larutan Ba(NO3)2, terbentuknya nyala yang berwarna warna hijau-kuning menandakan adanya Ba2+.

 

g)      Ion Kalsium (Ca2+)

Ÿ   Dengan menggunakan sebuah tabung reaksi ambil 1 ml larutan Ca(NO3)2 0,1 M.

Ÿ   Tambahkan beberapa tetes larutan Na2C2O4 0,1 M. Terbentuknya endapan putih dari CaC2O4 menunjukkaadanya Ca2+.

Ÿ   Lakukan juga test nyala terhadap 1 ml Ca(NO3)2 1 M yang sudah diasamkan dengan beberapa tetes 6 M HCl. Terbentuknya nyala yang berwarna merah-bata menandakan adanya Ca2+.

 

h)       Ion Strosium (Sr2+)

Ÿ   Lakukan test nyala untuk logam Sr2+ dengan cara yang sama seperti test nyala logam yang lain. Ambil 1 ml larutan Sr(NO3)2 1 M asamkan dengan sedikit HCl.

Ÿ   Terbentuknya nyala yang berwarna Merah-ungu atau magenta menandakan adanya logam Sr2+.

 

i)        Ion Natrium (Na+)

Ÿ   Lakukan test nyala bagi Na+. Ambil 1 ml larutan 0,1 M NaNO3,  asamkan dengan beberapa tetes 6 M HCl. Penambahan HCl dimak-  sudkan untuk membantu pembentukan NaCl yang mudah menguap.

Ÿ   Dengan menggunakan kawat Ni-Cr yang telah berkali-kali dibersihkan dengan HCl 6 M dan dipijarkan, lakukan test nyala bagi Na.

Ÿ   Terbentuknya nyala yang berwarna kuning terang menandakan adanya Na+.

 

j)        Ion Kalium (K+)

Ÿ   Tes nyala bagi K+ serupa dengan test nyala bagi Na. Ambil 1 ml 0,2 M KNO3, asamkan dengan beberapa tetes HCl lalu laku- kan test nyala. Bila anda mempunyai suatu sampel selain mengandung K+ juga mengandung Na+ maka perlu digunakan kaca kobalt untuk menyaring nyala Na yang sangat terang.

Ÿ   Terbentuknya nyala yang berwarna ungu terang menandakan adanya K+.

 

k)       Ion Litium (Li+).

Ÿ   Lakukan test nyala untuk logam Li+ dengan cara yang sama seperti test nyala logam yang lain. Ambil 1 ml larutan LiNO3 1 M asamkan dengan sedikit HCl.

Ÿ   Terbentuknya nyala yang berwarna Merah-darah menandakan adanya logam Li+.

 

l)        Ion Magnesium (Mg2+)

Ÿ   Ambillah 1 ml larutan MgCl2 kemudian tambahkan ½ ml larutan NH4OH 6 M dan ½ ml larutan Na2HPO4 dan diamkan kira-kira 5 menit. Jika ada endapan putih MgNH4PO4 menunjukkan adanya Mg.

 

m)     Ion Ammonium (NH4+)

Ÿ   Ambil 2 ml larutan 0,1 M NH4NO3, tambahkan beberapa tetes 6 M NaOH. Basahi kertas saring merah dan letakkan pada mulut tabung reaksi.

Ÿ   Kemudian panaskan tabung reaksi dan goyangkan secara hati-hati, dan jangan sampai mendidih. Kibaskan gas yang keluar dengan tangan kearah anda, cium baunya. Gas ammoniak akan menyebabkan kertas lakmus menjadi biru.

 

n)       Ion Kadmium (Cd2+)

Ÿ   Ambilah 1 ml larutan CdCl2 tambahkan beberapa tetes H2S dalam aseton, kocoklah terbentuknya endapan kuning jingga menandakan adanya Cd. Mungkin CdS mengendap sebagai koloid sehingga larutan akan terlihat berwarna kuning atau jingga.

 

o)      Ion Kobalt (Co2+)

Ÿ   Ambil 1 mL larutan CoCl2 tambahkan beberapa butir NH4CNS dan kocoklah, kemudian tambahkan beberapa tetes amil alkohol, bila terbentuk warna biru pada lapisan organik menandakana adanya Co

 

p)      Ion Nikel (Ni2+)

Ÿ   Ambillah 1 mL larutan NiSO4 dan letakkan diatas kaca arloji, kemudian tambahkan 2 tetes NH4OH pekat aduklah, kemudian tambahkan 5 tetes dimetil glioksim. Jika terbentuk endapan merah dari Ni-dimetil glioksim menandakan adanya Ni.

 

 

2.       Identifikasi anion

a)       Anion Klorida (Cl)

Ÿ   Ke dalam 1 ml larutan NaCl 0,1 M tambahkan beberapa tetes 0,1 M AgNO3. Ion Cl bereaksi dengan ion Ag+ membentuk endapan putih AgCl. Untuk meyakinkan endapan tersebut benar-benar AgCl, larutkan kembali endapan itu dengan penambahan beberapa tetes 6 M NH4OH, kemudian asamkan dengan 6 M HNO3 maka endapan putih AgCl akan terbentuk lagi.

 

b)      Anion Yodida (I)

Ÿ   Ambil 2 ml KI dan asamkan dengan beberapa tetes HCl 6 M. Tambahkan 1 ml larutan 0,1 M FeCl3 untuk mengoksidasi I menjadi I2. Tambahkan 1 ml CCl4 lalu kocok. Warna “purple” dari lapisan CCl4 menunjukkan adanya Iodida.

 

c)       Anion Bromida (Br)

Ÿ   Pada sebuah abung reaksi, ambil 2 ml larutan KBr 0,1 M. Tambahkan 1 ml larutan air klor dan 1 ml CCl4 kocoklah. Warna lapisan CCl4 berubah menjadi coklat menunjukkan adanya ion Bromida, karena Br dioksidasi oleh Klor menjadi Br2.

d)      Anion Sulfida (S2).

Ÿ   Ke dalam 2 ml larutan Na2S tambahkan 6 M HCl berlebih. Amati bau gas H2S yang keluar. Untuk meyakinkan keluarnya gas tadi, letakkan pada mulut tabung reaksi, kertas saring yang dibasahi dengan Pb(CH3COO)2.

Ÿ   Panaskan tabung reaksi, noda berwarna hitam PbS, menunjukkan adanya Sulfida.

e)       Anion Sulfat (SO42).

Ÿ   Dalam sebuah tabung reaksi yang bersih isilah dengan 2 ml larutan Na2SO4 0,1 M dan 2 ml larutan Ba(NO3)2 0,1 M.

Ÿ   Terbentuknya endapan putih yang tidak larut ketika ditambah-kan 1 ml HCl 1 M menandakan adanya ion sulfat.

 

f)       Anion Nitrat (NO3).

Ÿ   Dalam sebuah tabung reaksi ambil 2 ml larutan NaNO3 0,1 M, asam kan dengan 1 ml H2SO4 3 M dan tambahkan 1 ml larutan FeSO4 jenuh yang baru dibuat.

Ÿ   Miringkan letak tabung reaksi kira-kira 45o , lalu masukkan perlahan-lahan 1 ml H2SO4 pekat melalui dinding tabung. Usahakan agar H2SO4 menempati bagian bawah tabung dan jangan dikocok. Terbentuknya suatu cincin coklat dari senyawa Fe(NO)SO4 pada batas kedua zat cair menunjukkan adanya NO3.

 

g)      Anion Karbonat (CO32) dan Bikarbonat (HCO32).

Ÿ   Pengujian terhadap adanya ion CO32 dilakukan dengan memakai zat padatnya. Kekhasannya terletak pada pembentukan endapan putih BaCO3.

Ÿ   Pada sebuah tabung reaksi, masukkan sedikit Na2CO3 padat, lalu tambahkan dengan hati-hati 6 tetes HCl 6 M. Amati terbentuknya gas CO2 dan cium baunya.

Ÿ   Beberapa senyawa lain misalnya, sulfida dan sulfit akan menghasilkan gas yang berbau pada penambahan HCl. Masukkan pengaduk yang telah dibasahi dengan larutan Ba(OH)2 ke dalam tabung reaksi (jangan tercelup ke dalam larutan). Terbentuk- nya endapan putih BaCO3 menandakan adanya ion karbonat.

Ÿ   Suatu bikarbonat misalnya NaHCO3 juga memberikan hasil yang sama, jadi pengujian ini berlaku juga untuk ion bikarbonat.

 

h)       Anion Phosfat (PO43)

Ÿ   Ion Phosfat diuji dengan pembentukan endapan kuning dari senyawa Ammonium Phosfo-molibdat [(NH4)3PO4.12MoO3].

Ÿ   Ke dalam sebuah tabung reaksi ambil 1 ml larutan Na3PO4 0,1 M, tambahkan 1 ml larutan HNO3 6 M dan 1 ml (NH4)3MoO3 0,5 M. Aduklah campuran tersebut, selanjutnya letakkan tabung reaksi ke dalam beaker gelas yang berisi air mendidih.

Ÿ   Setelah beberapa lama, maka akan terbentuk endapan yang berwarna kuning dari Ammonium Phosfo-molibdat, menyatakan adanya phosfat.

 

i)        Anion Oksalat (C2O43)

Ÿ   Ambil 1 ml larutan Na2C2O4 dalam sebuah tebung reaksi, kemudian tambahkan tetes demi tetes  larutan Ca-asetat 2 M sampai terbentuk endapan yang sempurna. Lakukan sentrifugasi dan  cuci endapan dengan aquadest, buang air cuciannya. Endapan ditambahkan 10 tetes H2SO4 1,5 M dan panaskan dengan penangas air selama 1 menit dan tambahkan  2 tetes larutan KMnO4 0,01 M . Hilangnya warna larutan KMnO4 menandakan adanya ion oksalat.

  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s