Posted on Leave a comment

Pembuatan Balsem Cair Aromatherapy “Freshcare”

Hai sahabat bisakimia😁

Saat merasa pusing dan pegal-pegal kita biasanya langsung berpikir untuk mengoleskan balsem pada bagian tubuh yang sakit. Salah satu balsem yang sangat populer pada saat ini adalah balsem cair, selain praktis digunakan, pembuatannya juga sangat sederhana. Berikut akan dijelaskan proses pembuatannya.

A. Pengertian Balsem Cair

Minyak Angin Aromatherapy “Freshcare” (Balsem Cair) adalah kombinasi untuk minyak angin yang terbuat dari menthol, campoor dan essential oil. Kini juga hadir dalam satu kemasan mungil berbentuk roll-on. Continue reading Pembuatan Balsem Cair Aromatherapy “Freshcare”

Posted on Leave a comment

Ladang Helium Ditemukan, Masa Depan Cukup Aman

helium_main

Sebuah pendekatan yang baru dan menakjubkan pada eksplorasi gas dimana telah ditemukan ladang helium raksasa dimana hal tersebut mampu mengatasi kekurangan gas helium yang cukup langka namun penting ini.

Helium memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah digunakan pada scanner MRI dalam kedokteran, pengelasan, mendeteksi kebocoran industri dan energi nuklir. Naman, hingga akhir-akhir ini pasokan gas helium semakin menipis dan mulai terancam habis. Dan tak terbayangkan bila ditemukan tanpa sengaja jumlah sejumlah kecil gas helium yang terjadi selama pengeboran minyak dan gas.

Hal tersebut ditemukan oleh sebuah kelompok riset dari Universitas Oxford dan Universitas Durham yang bekerja dengan Helium One, sebuah perusahaan ekplorasi helium yang bertempat di Norwegia. Penggunaan pertama dari metode ini telah menghasilkan penemuan ladnag gas helium kelas dunia yang berada di Tanzania.

Penelitian mereka menunjukkan bahwa aktivitas gunung berapi memberikan panas yang hebat dan diperlukan untuk melepaskan gas dari batuan kuno yang mengandung gas helium tersebut. Di Tanzania, Afrika Timur terdapat gunung berapi yang bernama Rift Valley yang telah memproduksi helium dari batuan kuno yang berada di dalam dan terbentuklah ladang gas helium namun jumlahnya masih terbilang “dangkal” dibandingkan dengan penemuan baru-baru ini. Pada saat itu, penelitian dilakukan oleh mahasiswa Universitas Durham yang bernama Diveena Danabalan PhD pada konferensi geokimia Goldschmidt di Yokohama, Jepang.

Diveena Danabalan mengatakan bahwa gunung berapi Rift Valley memainkan peran penting dalam pembentukan cadanga helium yang layak. Aktivitas vulkanik cenderung memberikan panas yang diperlukan untuk melepaskan helium yang terakumulasi dalam batuan kerak kuno. Namun, jika perangkap gas berada terlalu dekat dengan gunung berapi, maka helium beresiko menjadi encer akibat gas vulkanik seperti karbondioksida seperti yang kita lihat pada mata air panas tersebut.

Profesor Chris Ballentine yang beralasa dari Departemen ilmu Bumi dan Universitas Oxford mengatakan bahwa dengan menggabungkan pemahaman kita tentang helium geokimia dengan gambar seismik struktur perangkap gas, ahli independen telah menghitung sumber daya yang tercipta kemungkinan sekitar 54 BCF (Billion Cubic Feet) yang bertempat hanya dalam satu bagian dari celah lembah. Hal ini cukup untuk mengisi lebih dari 1,2 juta scanner medis MRI. Untuk menempatkan penemuan ini secara perspektif, konsumsi global helium sekitar 8 BCF per tahun dan dari United States Federal Helium Reserve yang merupakan pemasok terbesar di dunia memiliki cadangan helium sebesar 24,2 BCF. Total cadangan saat ini dihitung sekitar 153 BCF. Dan ini terbilang cukup untuk masa depan dalam kebutuhan helium bagi masyarakat bahkan temuan serupa di masa mendatang mungkin tidak terlalu lama sampai persediaan habis.

Profesor Jon Gluyas yang berasal dari Departemen Ilmu Bumi dan Universitas Durham mengatakan bahwa ini adalah contoh yang luar biasa dari industri dan akademisi berkerja sama erat untuk memberikan nilai nyata bagi masyarakat. Dan dari sinilah diharapkan penemuan helium di masa depan diharapkan dengan tujuan untuk mengamankan pasokan untuk pemindaian medis maupun industri lainnya.

Dr Pete Barry yang berasal di Departemen Ilmu Bumi Universitas Oxford pun juga smenambahkan bahwa dirinya dapat menerapkan strategi yang sama ke bagian lain dari dunia dengan sejarah geologi yang sama untuk menemukan sumber daya helium yang baru.

Sumber : sciencedaily.com

 

Posted on Leave a comment

Mengapa Tiap Orang Memiliki Sensasi Sakit yang Berbeda?

​Setiap orang memiliki pendapat yang berbeda dalam merasakan rasa sakit. Contohnya ibu A menyatakan sakit luar biasa saat melahirkan, sedangkan ibu B berpendapat sakit melahirkan biasa saja.

Mengapa bisa berbeda?

Apa yang menyebabkan perbedaan di antara mereka?

Adanya perbedaan tentang rasa sakit di antara orang satu dengan yang lain karena masing-masing dari kita memiliki ambang batas rasa sakit yang berbeda pula. Apa itu ambang batas rasa sakit?

Sebelumnya kita harus mengenali apa itu rasa sakit?

Sakit adalah mekanisme perlindungan diri dalam tubuh yang akan muncul ketika suatu jaringan mengalami kerusakan. Dan ini menyebabkan individu bereaksi untuk menghilangkan rasa nyeri. Sebagai contoh sederhana, duduk di kursi yang terlalu lama akan menyebabkan kerusakan jaringan karena kurangnya aliran darah pada kulit karena tertekan oleh berat badan.

Hal ini menyebabkan kondisi iskemia dan rasa sakit pada area kulit tersebut. Pada orang normal, dia akan merubah posisi duduknya atau bahkan berdiri untuk mengurangi rasa sakitnya, tetapi pada orang yang kehilangan sensasi sakit, seperti pada penderita kelainan batang otak (spinal cord injury), dia tidak akan beranjak dari tempat duduknya. Hal ini akan menyebabkan ulserasi pada kulit yang mengalami tekanan. Ini membuktikan bahwa masing-masing individu memiliki reaksi sakit yang berbeda-beda meskipun menerima rangsangan nyeri yang sama.

Respons yang bervariasi terhadap stimulus sakit yang identik bukan disebabkan oleh perbedaan persepsi rasa sakit tetapi disebabkan oleh variasi reaksi rasa sakit. ‘Reaksi rasa sakit’ adalah istilah yang digunakan untuk mendiskripsikan integrasi dan apresiasi rasa sakit pada sistem saraf pusat di korteks dan thalamus posterior.

Orang dianggap mempunyai ambang batas rasa sakit yang tinggi bila ia hanya memberikan sedikit atau tidak bereaksi terhadap stimulus sakit, sedang orang dianggap mempunyai ambang batas sakit rendah bila ia cenderung memberi eraksi berlebihan terhadap stimulus yang sama atau yang lebih kecil. Dengan kata lain ambang rasa sakit umumnya berbanding terbalik dengan reaksi terhadap rasa sakit.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ambang batas rasa sakit diantaranya psikologis, usia, jenis kelamin dan hormonal. Jadi sensasi sakit tiap orang berbeda.

Posted on Leave a comment

Penemuan Bahan Baku Pesawat dari Kulit Singkong dan Batang Pisang

​Dua ilmuwan muda asal Semarang buktikan kejeniusan mereka dalam ajang International Young Inventors Project Olympiad (IYIPO) 2016 di Georgia, beberapa waktu lalu, menyingkirkan lebih dari 100 proyek ilmiah milik 35 negara di dunia, seperti Amerika Serikat, Jerman, Slovakia, Bosnia, Denmark dan lainnya.

Siapa mereka dan apa yang mereka usung sebgai proyek ilmiah mereka?

Raafi Jaya Sutrisna (17) dan Suprihatin (17) sukses membuktikan bahan baku pesawat dan kapal bisa terbuat dari limbah kulit singkong dan batang pisang.

Di usia semuda itu mereka telah menemukan sesuatu dari bahan yang tidak terpikirkan oleh kebanyakan orang.

Serat batang pisang dan kulit singkong yang merupakan bahan baku dicampurkan menggunakan resin dan katalis, sehingga terciptalah komposit sebagai alternatif bahan baku pesawat dan kapal.

“Dari situ serat aktif batang pisang dan kulit singkong kita campurkan menjadi satu menggunakan resin dan katalis. Lalu menggunakan komposit tertentu, jadilah komposit dari limbah batang pisang dan kulit pisang sebagai bahan alternatif industri otomotif kapal maupun pesawat,” jelas Raafi.

Komposit yang berasal dari bahan alami ini diklaim lebih efisien, ringan, tahan api dan kuat, sehingga sebenarnya bisa digunakan untuk industri secara luas.

Apa itu komposit?

Komposit didefinisikan sebagai dua macam atau lebih material yang digabungkan atau dikombinasikan dalam skala makroskopis ( dapat terlihat langsung oleh mata)sehingga menjadi material baru yang lebih berguna.komposit terdiri dari 2 bagian utama yaitu :

Matriks, berfungsi untuk perekat atau pengikat dan pelindung filler (pengisi) dari kerusakan eksternal. Matriks yang umum digunakan : carbon, glass, kevlar, dll

Filler (pengisi), berfungsi sebagai Penguat dari matriks. Filler yang umum digunakan : carbon, glass, aramid, kevlar.sumber
Selama setahun meneliti, Raafi mengaku mengalami tiga kali kegagalan, salah satunya saat percetakan komposit tak sempurna

“Kami mengalami tiga kali kali percobaan gagal. Salah satunya saat percetakan komposit adanya void (rongga udara atau lubang), maka diulang lagi, sehingga kami harus sempurnakan,” kata Raafi. 

“Karena jika banyaknya void pada komposit kami, maka membuat ikatan antar serat dan matrik (kuat dan tariknya) semakin menurun,” imbuh dia. 

Kini, Raafi mengaku akan terus mengembangkan temuannya agar dapat segera diaplikasikan dalam industri otomotif dan industri secara luas. Tentu tetap menggunakan serat alam berbasis limbah. 

“Kami ingin mengembangkan penelitian ini lebih lanjut. Jika berhasil diaplikasikan, Indonesia bisa menjadi produsen pembuatan komposit dari serat alam. Mengurangi penggunaan fiber glass dan menggantinya dengan menggunakan serat alam,” kata Raafi. 
Temuan Raafi dan Suprihatin rupanya menarik minat perusahaan penyedia layanan dan teknologi, Bosch di Indonesia. 

“Para inventor muda ini telah membuat kami terkesan dengan rangkaian inovasi mereka yang diciptakan untuk mendukung sebuah perubahan dalam industri pesawat, bidang otomotif,” ujar Managing director Bosch di Indonesia, Ralf von Baer. 

Sebagai bentuk apresiasi, Baer mengatakan telah memfasilitasi kedua ilmuwan muda itu untuk melakukan studi banding ke kantor pusat dan sentra riset serta pengembangan Bosch di Indonesia.sumber

Posted on Leave a comment

Baterai Ramah Lingkungan yang Tahan Lama dan Bertegangan Tinggi

​Sebuah tim ahli kimia University of Toronto telah menciptakan baterai yang menyimpan energi dalam unit bio-derivat sehingga membuka jalan untuk pemakaian elektronik yang lebih murah dan lebih ramah lingkungan.
Baterai ini mirip dengan banyak baterai lithium-ion energi tinggi yang tersedia secara komersil dengan satu perbedaan penting. Menggunakan flavin dari vitamin B2 sebagai katoda: bagian yang menyimpan listrik yang dilepaskan ketika tersambung ke perangkat.
“Kami sudah mencari ke alam untuk sementara waktu untuk menemukan molekul kompleks untuk digunakan dalam sejumlah aplikasi elektronik konsumen,” ucap Dwight Seferos, seorang profesor di departemen  kimia Universitas Toronto dan Penelitian Polymer Nanoteknologi Kanada.
“Ketika Anda mengambil sesuatu yang dibuat oleh alam yang sudah kompleks, Anda akhirnya menghabiskan lebih sedikit waktu membuat materi baru,” kata Seferos.
Dasar-dasar  latar belakang baterai

Untuk memahami penemuan, penting untuk mengetahui bahwa baterai modern mengandung tiga bagian dasar:

  1. Terminal positif – bagian logam yang menyentuh perangkat untuk memberikan power – terhubung ke katoda dalam baterai .

  2. Terminal negatif dihubungkan ke anoda di dalam baterai.

  3. Larutan elektrolit di mana ion dapat melakukan perjalanan antara katoda dan anoda elektroda
    Ketika baterai terhubung ke ponsel, iPod, kamera atau perangkat lain yang membutuhkan daya, elektron mengalir dari anoda – elektroda bermuatan negatif dari perangkat memasok arus – ke perangkat, kemudian ke katoda dan ion bermigrasi melalui elektrolit solusi untuk menyeimbangkan muatan. Ketika terhubung ke pengisi daya, proses ini terjadi secara terbalik.
    Reaksi di anoda menghasilkan elektron dan reaksi di katoda menyerap elektron ketika pemakaian. Produknya adalah listrik. Baterai akan terus menghasilkan listrik sampai salah satu atau kedua elektroda kehabisan bahan yang diperlukan agar reaksi terjadi.
    Kimia organik seperti Lego
    Sementara bagian baterai bio-derivat telah dibuat sebelumnya, ini adalah pertama kalinya menggunakan bio-derivat yang berasal dari polimer – molekul rantai panjang – untuk salah satu elektroda. Pada dasarnya memungkinkan energi baterai disimpan dalam vitamin, digunakan plastik sebagai gantinya, tetapi mahal, sulit prosesnya, dan lebih berbahaya lingkungan  seperti logam kobalt.
    “Mendapatkan bahan yang tepat berevolusi dari waktu ke waktu dan pasti mengambil beberapa reaksi tes,” kata co-author dan mahasiswa doktoral Tyler Schon pada penelitiannya. “Dalam banyak hal, tampak seperti gagal. Ini membutuhkan ketekunan. ”
    Schon, Seferos dan rekan terjadi pada bahan sambil menguji berbagai polimer rantai panjang – khususnya liontin polimer kelompok: molekul yang melekat pada rantai ‘backbone’ dari molekul yang panjang.
    “Kimia organik seperti Lego,” katanya. “Anda meletakkan segala sesuatu bersama-sama dalam urutan tertentu, tetapi beberapa hal secara  teori diatas kertas tidak sesuai dengan kenyataan. Kami mencoba beberapa pendekatan dan pada percobaan ke lima puluh satu baru berhasil, “kata Seferos.
    Tim kami menciptakan materi dari vitamin B2 yang berasal jamur rekayasa genetik menggunakan proses semi-sintetik untuk mempersiapkan polimer dengan menghubungkan dua flavin unit ke rantai panjang molekul tulang punggung.
    Hal ini memungkinkan untuk baterai hijau dengan kapasitas tinggi dan tegangan tinggi – sesuatu yang semakin penting sebagai ‘Internet of Things’ terus menghubungkan kita bersama-sama lebih dan lebih melalui perangkat portabel bertenaga baterai .
    “Ini adalah, senyawa alami yang cukup aman,” Seferos menambahkan. “Jika Anda ingin, Anda benar-benar bisa makan bahan sumber asalnya.”
    Kemampuan B2 untuk tereduksi dan teroksidasi cocok untuk baterai ion lithium.
    “B2 dapat menerima hingga dua elektron pada suatu waktu,” kata Seferos. “Hal ini mempermudah untuk beberapa kali pengisian dan memiliki kapasitas tinggi dibandingkan dengan banyak molekul lain yang tersedia.”
    Sebuah langkah untuk elektronik yang ramah lingkungan
    “Sudah banyak trial-and-error,” kata Schon. “Sekarang kami sedang mencari untuk merancang varian baru yang dapat diisi ulang lagi dan lagi.”

Sementara prototipe saat ini adalah pada skala baterai alat bantu dengar, tim berharap terobosan mereka bisa meletakkan dasar untuk kuat, tipis, fleksibel, dan bahkan transparan baterai bebas logam yang dapat mendukung gelombang berikutnya elektronik konsumen.

sumber

Posted on 1 Comment

Kurkumin (Kunyit dan Temulawak) untuk Menekan Sel Kanker

https://moko31.files.wordpress.com/2012/11/curcumin.png

Kurkumin

Kurkumin merupakan salah satu produk senyawa metabolit sekunder dari tanaman kunyit dan temulawak. Secara tradisional, kurkumin sudah dimanfaatkan dalam pengobatan di Asia, termasuk Indonesia, untuk mengobati luka, menghilangkan rasa nyeri dan artritis. Kini para ahli menemukan bahwa kurkumin juga bisa mengobati kanker.

Continue reading Kurkumin (Kunyit dan Temulawak) untuk Menekan Sel Kanker