Kayu Manis Gantikan Bahan Kimia Berbahaya dalam Pembuatan Nanopartikel

ImageNanopartikel emas yang merupakan potongan-potongan kecil dari emas yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dan digunakan dalam elektronik, produk kesehatan, ataupun sebagai obat-obatan untuk melawan kanker. Meski dengan tujuan yang positif, tapi proses yang digunakan untuk membuat nanopartikel tersebut melibatkan beberapa bahan kimia yang berbahaya dan sangat beracun. Di saat yang sama, industri teknologi membutuhkan nanoteknologi dalam jumlah besar dalam waktu dekat dan itu membuat para peneliti khawatir akan dampaknya pada lingkungan akan hal ini.

Kini, sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti yang berasal dari University of Missouri dan dipimpin oleh Kattesh Katti, seorang professor kurator radiologi dan fisika di Sekolah Kedokteran dan Sekolah Tinggi Kesenian dan Ilmu Pengetahuan sekaligus ilmuwan senior di University of Missouri Research Reactor serta direktur pada Cancer Nanotechnology Platform. Beliau berhasil menemukan metode yang dapat menggantikan hampir seluruh bahan kimia yang beracun yang dibutuhkan untuk membuat nanopartikel emas dengan menggunakan kayu manis yang biasa kita kenal dan gunakan sebagai bumbu dapur.

Metode yang biasa digunakan dalam menciptakan nanopartikel emas menggunakan bahan kimia yang berbahaya dan asam yang tidak aman bagi lingkungan serta mengandung racun. Dalam studi MU, Katti dan para peneliti lainnya seperti Raghuraman Kannan, J.Michael dan Sharon R.Bukstein yanh merupakan asisten professor radiologi dan direktur Sarana Produksi Nanopartikel inti serta ditemani oleh Nripen Chanda yang merupakan ilmuwan peneliti asosiasi. Serbuk emas  tersebut lalu dicampurkan dengan kayu manis dan diaduk dalam air sehingga terjadilah sintesis nanopartikel emas. Proses baru tersebut tidak menggunakan listrik dan tidak menggunakan bahan yang beracun.  Kannan mengatakan bahwa prosedur yang dikembangkan tidak mengandung racun dan tidak ada bahan kimia lainnya dalam proses generasi nanopartikel emas, kecuali serbuk emas tersebut.

Katti mengatakan bahwa dari proyek yang disebut dengan “Green Nanotechnology” ini, jelas bahwa kayu manis dan tumbuhan lainnya berpotensi sebagai reservoir fitokimia dan memiliki kemampuan dalam mengubah loga menjadi nanopartikel.

Katti juga mengungkapkan bahwa selama studi tersebut, para peneliti juga menemukan bahwa bahan kimia aktif yang dilepaskan ketika nanopartikel mulai diciptakan.  Saat bahan kimia yang dikenal sebagai fitokimia tersebut dikombinasikan dengan nanopartikel emas, hal itu dapat digunakan dalam pengobatan kanker. Fitokimia dapat masuk ke dalam sel-sel kanker dan membantu dalam penghancuran sel kanker. Sehingga Katti membuat kesimpulan bahwa nanopartikel emas tersebut tidak hanya ekologis dan biologis, namun juga biologis aktif terhadap sel kanker.

Dengan adanya perkembangan tersebut, pengaplikasian nanoteknologi  tersebut dapat digunakan dalam bidang elektronik, produk kesehatan dan farmasi, dan implikasi ekologis. Dengan demikian, penciptaan nanopartikel emas dari kayu manis tersebut dapat menggantikan proses yang menggunakan bahan kimia berbahaya yang malah merusak lingkungan.

Sumber : sciencedaily.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.