Ilmuwan Nyatakan 269 Ribu Ton Plastik Cemari Lautan

141210140827-large
Hasil model untuk kepadatan jumlah global dalam empat kelas ukuran. Prediksi model kepadatan hitungan global (potongan km persegi; lihat baris warna) untuk masing-masing empat kelas ukuran (0,33-1,00 mm, 1,01-4,75 mm, 4,76-200 mm, dan> 200 mm).

 

Hampir sekitar 269 ton polusi plastik telah mengambang di lautan dunia, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada tanggal 10 Desember 2014 dalam jurnal akses terbuka PloS ONE oleh Marcus Eriksen da rekan-rekannya yang berasal dari Five Gyres Institute.

Konsentrasi Microplastik ditemukan dalam berbagai konsentrasi seluruh lautan, namun perkiraan global dan kelimpahan global dan berat plastik masih tidak diketahui secara pasti baik mikro maupun makroplastik sebab karena data yang masih belum lengkap. Untuk dapat memperkirakan jumlah partikel plastik da berat yang mengambang di lautan dunia, para ilmuwan dari enam negara memberikan kontribusi data dari 24 ekspedisi yang dikumpulkan selama enam tahun dari tahun 2007 sampai tahun 2013 di semua area subtropis, pesisir Australia, Bay Bengal, dan Laut Mediterania. Data termasuk informasi tentang mikroplastik dikumpulkan dengan menggunakan jaring dan sampah plastik besar dari survei visual yang kemudian digunakan untuk mengkalibrasi model laut dalam distribusi plastik yang terhampar.

Berdasarkan data dan model, penulis studi tersebut memperkirakan minimal 5.250.000.000.000 partikel plastik dengan berat hampur 269.000 ton di lautan dunia. Plastik besar tampak berlimpah di dekat garis pantai di mana hal itu merupakan di luar dugaan penulis tentang apa yang terjadi. Distribusi mikroplastik ini mungkin menunjukkan bahwa semua hal itu berasal dari sungai-sungai yang akhirnya berakhir di lautan dan menumpuk dalam waktu lama.

Marcus Eriksen mengatakan bahwa temuan ini menunjukkan bahwa sampah-sampah di tengah-tengah daerah subtropis bukan tempat terakhir bagi sampah plastik untuk mengambang. Bisa jadi mikroplastik ini mencemari seluruh ekosistem laut di dunia dan memberikan dampak buruk bagi semesta.

Sumber : sciencedaily.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.