Kertas Jadi Plastik? Bisakah?

plasticSaat ini sudah banyak penemuan-penemuan untuk menggantikan kemasan plastik yang tidak ramah lingkungan namun memiliki fungsi yang cukup banyak seperti kedap air, mudah dicetak, tahan lama dan memiliki kepadatan yang cukup rendah.

Penemuan tersebut akhirnya telah dicapai oleh seseorang peneliti di Kampus Terrassa UPC yang menjalankan Laboratorium Katalisis enzim dari kelompok riset Engineering and Biotechnology (ENGIBIO).

Lebih Produktif

Penemuan tersebut menggunakan metode bioteknologi terbaru yang digunakan untuk memodifikasi sifat kimia dan strukur dari bahan selulosa. Metode tersebut menggunakan sistem daur ulang kertas yang menjadi bentuk baru yang dapat tahan api, kedap air, kuat, berpori, mudah dicetak, namun lebih ramah lingkungan. Cara ini juga cara yang paling produktif untuk menciptakan pengganti plastik sebab dengan satu kilogram kertas dapat menghasilkan produk baru yang menyerupai plastik sebanyak satu kilogram pula.

Menggantikan polystyrene dan eternit

Dengan demikian, hal itupun akan mulai menggantikan posisi eternit serta polystyrene yang dianggap masih kurang ramah lingkungan. Materi yang didapatkan dari sistem daur ulang kertas ini juga tergolong kuat dan kedap air menggantikan eternit dan bahan yang lainnya yang digunakan dalam konstruksi seperti dalam pembuatan dinding partisi, ruangan kedap suara dan lain sebagainya.  Selain itu, materi baru ini juga dapat digunakan sebagai kemasan produk yang biasanya menggunakan polystyrene.

Dengan metode terbaru

Para peneliti mengatakan bahwa pembuatan materi baru tersebut adalah menggunakan teknik modifikasi dari semua jenis residu seperti selulosa pada kertas, bahan polimer yang terdapat dari plastik, serta bahan karet dari ban. Materi tersebut memang masih belum diberi nama, namun Margarita Calafell telah mematenkan produk tersebut dengan paten dari UPC atau biasa disebut dengan Universal Product Code. Ia mengatakan bahwa materi tersebut merupakan hasil fleksibilitas yang besar dan memiliki sifat materi yang cukup unik.

Sumber : sciencedaily.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.