Posted on Leave a comment

Bagaimana Membuat Kol Warna-Warni

​Mau lihat sayur kol warna-warni tanpa larutan pewarna?

Bagaimana caranya?yuk kita siapkan bahan-bahannya. Apa saja?

Kol ungu yang dipotong kecil-kecil, toples, gelas plastik, air panas, cuka, cairan detergent.

Bagaimana caranya?

  1. Rendamlah potongan kol ungu di dalam air panas, biarkan sampai menjadi dingin.

  2. Pisahkan cairan dari ampas kol ungu. Dan kita akan mendapatkan larutan berwarna biru ungu.

  3. Tuang sebagian larutan ini ke dalam gelas yang berisi cuka.

  4. Tuang sebagian lagi ke dalam gelas yang berisi larutan detergent.

  5. Amati apa yang terjadi ?
    Larutan kol ungu akan berubah menjadi merah ketika bertemu cuka, dan berwarna hijau ketika bertemu cairan detergent. Mengapa hal ini terjadi??

Beberapa jenis tanaman, termasuk kol ungu, mengandung zat berwarna biru yang disebut dengan antosianin. Antosianin bersifat unik, yaitu bisa berubah warna di dalam cairan yang berbeda. Di dalam cairan yang bersifat asam seperti cuka, asam sitrat, air perasan jeruk nipis, antosianin akan berubah warna dari merah muda hingga merah. Di dalam cairan yang bersifat basa seperti cairan detergent, larutan soda kue, cairan obat sakit maag, antosianin akan berubah warna menjadi hijau. Sedangkan dalam larutan yang bersifat netral seperti larutan garam atau gula, antosianin akan berwarna biru. Zat warna yang bisa berubah warna seperti ini biasa disebut dengan sebuah indikator.

Apa itu antosianin?

Antosianin merupakan salah satu zat warna (pigmen) alami dengan sifat antioksidan, serta paling banyak ditemukan didalam bagian-bagian tanaman.

Pigmen berwarna kuat ini, ialah penyebab utama tanaman memiliki berbagai warna.

Hingga saat ini, tercatat lebih dari 300 macam antosianin yang sudah ditemukan dan sudah di identifikasi secara alami.

Pada umumnya, antosianin ialah pigmen yang berasal dari flavonoid. Kemudian larut dalam air, memiliki warna merah hingga biru, dan tersebar luas pada sebagian tubuh tanaman.

Tetapi paling banyak terdapat pada bunga hingga buah seperti bunga mawar, kamboja, pacar air, bunga sepatu, bunga tasbih, kana, tulip, krsan, anggrek, pelargonium, aster cina, dan buah naga, apel, bluberry, chery, anggur, stoberi, buah manggis serta ubi ungu.

Di dalam bagian-bagian tanaman antosianin mengandung glikosida dimana kandungan utamanya merupakan sifat gula (sebagian besar glukosa, namun ada juga ramnosa, galaktosa, silosa, dan arabinosa), letak ikatan gula (3- dan 5- hidroksi), dan jumlah satuan gulanya (mono-did an triglikosida).

Lapisan inti dasar antosianin adalah flavan atau fenil-2-benzo pirilium, inti tersebut tersusun dari dua cincin benzene yang dihubungkan oleh tiga atom karbon.

Ketiga atom karbon tersebut, disatukan oleh sebuah atom oksigen. Sehingga mengakibatkan terbentuk cincin diantara dua cincin benzena.

Posted on Leave a comment

Bagaimana Indikator Asam-Basa Berubah Warna?

Telah ada artikel sebelumnya yang menjelaskan bahwa ada suatu senyawa yang berfungsi sebagai suatu indikator yang

English: natural pH indicator Red Cabbage (lef...
English: natural pH indicator Red Cabbage (left side with acid) Indikator Blaukrautsaft (links sauer, rechts alkalisch) (Photo credit: Wikipedia)

menunjukkan zat bersifat asam dan zat bersifat basa. Salah satu contoh indikator asam-basa yang terkenal adalah indikator phenolphtalein (PP) yang biasanya digunakan dalam praktikum titrasi. Indikator PP ini mempunyai rentang pH 8,0 – 9,6 dengan perubahan warna dari tak berwarna (colorless) – merah keunguan. Bagaimana sebenarnya indikator ini bisa berubah warna?

Indikator asam-basa akan cenderung untuk bereaksi dengan kelebihan asam atau basa pada saat titrasi untuk menghasilkan warna. Perubahan warna ini disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Setiap indikator asam-basa merupakan ion yang memiliki tetapan ionisasi yang berbeda-beda. Ion ini memiliki sistem yang terkonjugasi yang dapat menyerap gelombang warna tertentu dan meneruskan gelombang warna lainnya. Gelombang warna yang diserap adalah bagian dari spektrum warna, sehingga ion tersebut akan terlihat berwarna. Continue reading Bagaimana Indikator Asam-Basa Berubah Warna?

Posted on 5 Comments

Mengenal Titrasi

English: Photograph by Will Woodgate (Cornwall...
English: Photograph by Will Woodgate (Cornwall College, UK) Subsample stood under the burette prior to titration. (Photo credit: Wikipedia)

Titrasi atau titrimetri mengacu pada analisa kimia kuantitatif yang dilakukan dengan menetapkan volume suatu larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat, yang diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutan dari zat yang akan dianalisis. Larutan dengan konsentrasi yang diketahui tersebut disebut larutan standar. Bobot zat yang hendak dianalisis dihitung dari volume larutan standar yang digunakan serta hukum stoikiometri yang diketahui.

Untuk memperoleh larutan standar, perlu dilakukan proses standarisasi sebelum melakukan analisa konsentrasi larutan yang ingin dianalisa. Secara umum, larutan standar ada dua jenis. Pertama, larutan standar primer yang menjadi acuan dalam proses standarisasi. Kedua, larutan standar sekunder, yaitu larutan standar yang akan distandarisasi dan lebih lanjutnya akan digunakan untuk proses analisis sampel. Standarisasi perlu dilakukan, karena larutan standar sekunder biasanya bersifat tidak stabil jika disimpan dalam waktu yang lama. Sedangkan larutan standar primer yang dipilih biasanya memiliki sifat stabil jika disimpan dalam waktu yang lama, misalnya saja tidak higroskopis sehingga konsentrasinya tidak mudah berubah.

Setelah proses standarisasi, dilanjutkan dengan proses analisa larutan sampel. Larutan standar tersebut akan dialirkan dari buret ke larutan sampel yang biasanya berada di labu erlenmeyer. Adapun syarat terjadinya reaksi titrasi dengan baik adalah: Continue reading Mengenal Titrasi

Posted on Leave a comment

Yuk, Bereksperimen! – Bunga dan Asam-Basa

Sudah baca artikel Kimia di Sekitar Kita: Indikator Asam-Basa, kan? Nah, di artikel itu ditulis bahwa bunga bisa menjadi indikator alami supaya kita tahu sifat larutan. Bagaimana caranya? Mari kita coba!

Siapkan:

Posted on 10 Comments

Kimia di Sekitar Kita: Indikator Asam-Basa

Asam dan basa adalah sifat larutan yang ditentukan dari nilai pH atau tingkat keasaman. Menurut Svante Arrhenius, seorang ilmuwan Swedia, suatu larutan dapat digolongkan dalam larutan asam jika larutan tersebut dapat melepaskan ion H+ dalam air dalam proses yang disebut ionisasi. Reaksi yang ditimbulkan oleh larutan asam dalam air ini dapat ditulis sebagai HxZ –> xH+ + ZX- dengan x adalah jumlah ion H+ yang dilepaskan. Contoh larutan asam adalah asam klorida (HCl). Asam klorida ini dapat ditemukan salah satunya di lambung, sebagai asam lambung. Reaksi asam klorida dalam proses ionisasi dapat ditulis sebagai HCl –> H+ + Cl, dengan jumlah ion H+ yang dilepas 1.

Sedangkan larutan disebut basa jika larutan tersebut melepaskan ion OH dalam proses ionisasi. Secara umum reaksi ionisasi larutan basa dapat ditulis sebagai M(OH)x –> Mx+ + xOH dengan x adalah jumlah ion OH yang dilepaskan. Salah satu contoh larutan basa adalah natrium hidroksida atau soda kaustik. Natrium hidroksida banyak digunakan di bidang industri, contohnya industri sabun, deterjen, kertas, dan lain-lain. Reaksi ionisasi natrium hidroksida dapat ditulis sebagai NaOH –> Na+ + OH, dengan jumlah ion OH yang dilepas sejumlah 1. Continue reading Kimia di Sekitar Kita: Indikator Asam-Basa