in vitro in vivo


https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRUWSUzt14ZfhGrqQ1bU80GtbHBHDOo4JE3_ZUR8rhT67MSk6SWBg

Penelitian yang berkaitan dengan makhluk hidup khususnya manusia  dapat dilakukan dengan dua jalan yaitu in vivo dan in vitro. Sebelum melakukan penelitian, kedua metode ini harus dipahami dengan baik sehingga menjaga validitas dari kesimpulan yang diberikan.

Apa sih in vivo?dan apa in vitro?
Di dalam bahasa latin vitro memiliki arti kaca dan vivo berarti hidup. Keduanya adalah prosedur yang memiliki konsekuensi berbeda.

In vitro (dalam kaca) mengacu prosedur perlakuan yang diberikan dalam lingkungan terkendali di luar organisme hidup. Jadi peralatan dan lingkungan dibuat sedemikian  sehingga menyerupai keadaan di dalam tubuh makhluk hidup. Sebagai contoh dalam pembuatan obat yang akan larut di lambung. Maka ada uji dissolusi yang dilakukan dengan keadaan hampir sama dengan di lambung. Obat  diuji dalam cairan HCl 0.1 N yang menginterpretasikan cairan lambung. Suhunya pun dijaga sesuai dengan keadaan lambung 37oC.

Teknik in vitro mudah dilakukan. Kadang-kadang peneliti memiliki keterbatasan dalam mengakses organisme hidup dan pendekatan vitro menjadi solusi dalam hal ini.

Salah satu kelemahan in vitro adalah kegagalan meniru kondisi selular secara tepat terutama mikroba. Penelitian in vitro dapat menghasilkan kesimpulan yang tidak sesuai dengan keadaan organisme hidup.

Stefan Tunev mengatakan bahwa pertanyaan rumit tentang ekspresi protein spirochetes tidak sepenuhnya menyerupai Borrelia dalam host yaitu kegunaan lisat protein bakteri terbatas ketika menganalisis sumber antigen.

Sampai beberapa tahun terakhir upaya untuk mendeteksi dan mengidentifikasi mikroorganisme dalam tubuh manusia telah bergantung hampir secara eksklusif menggunakan penelitian in vitro.

Akibatnya banyak pemahaman patogen pada penyakit sering mewakili bakteri minoritas dalam tubuh manusia. Spesies-spesies mikrobiota manusia luput diketahui melalui teknik in vitro.

Lalu bagaimana dengan in vivo?
In vivo (dalam hidup) mengacu pada eksperimen menggunakan keseluruhan organisme hidup. In vivo berusaha menghindari penggunaan organisme secara parsial atau organisme mati.

Penelitian pada hewan dan uji klinis adalah salah satu penerapan in vivo. Pendekatan ini biasanya dilakukan untuk menguji hasil temuan in vitro karena lebih cocok untuk mengamati efek keseluruhan pada subjek hidup. Hewan yang seringkali dijadikan objek uji klinis adalah tikus putih (mencit), hal ini atas pertimbangan kesamaan sebagian besar organ dalam dengan manusia.

In vivo menawarkan wawasan konklusif tentang sifat obat dan penyakit. Tapi pendekatan ini tak luput dari sesat kesimpulan, misalnya, terapi hanya menawarkan manfaat jangka pendek dan bahaya dalam jangka panjang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s