Skip to content
Iklan

KAKTUS SEBAGAI PENJERNIH AIR RAMAH LINGKUNGAN


Sudah dikatakan pada artikel sebelumnya Kelebihan dosis dalam menggunakan koagulan kimia terutama yang berbahan dasar aluminium, dapat menambah residual kation dalam air. Hal ini dapat merugikan kesehatan apabila air tersebut dikonsumsi terus-menerus. Penelitian Balaet tahun 2013 menyatakan bahwa 65% darah pasien Alzheimer mengandung Al lebih besar 1-5% dari kadar normal Al dalam darah. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan penggunaan koagulan alami yang ramah lingkungan sebagai contoh dapat digunakan Kaktus Sebagai bahan baku koagulan.
Kaktus yang digunakan sebagai koagulan adalah kaktus centong, yang telah di identifikasi oleh Herbarium Bogoriense dengan hasil uji menyatakan bahwa kaktus tersebut termasuk ke dalam suku Cactaceae dengan jenis Opuntia ficus-indica (L.) Mill. O. ficus-indica disebut “chumbera” di Spanyol, kaktus pir berduri di Amerika Utara, dan Nopal di Meksiko. Nopal merupakan tumbuhan berair banyak yang dapat tumbuh hingga 3-5 meter.

kaktus sebagai penjernih airKandungan utama dari O. ficus-indica menurut Shilpa et al. tahun 2012 adalah air, karbohidrat, protein, abu dan serat. Sedangkan kandungan mineral berdasarkan penelitian Perez et al. tahun 2009 adalah fosfat, mangan, besi, seng, kalsium, magnesium, kalium dan natrium. Hasil penelitian Matsuhiro et al. tahun 2006, getah (mucilage) dari O. ficus-indica mengandung asam galakturonat, rhamnosa, ksilosa , arabinosa dan galaktosa. Asam galakturonat berperan sebagai zat pengkoagulan dan meknisme koagulasinya adalah adsorpsi dan penggabungan dimana partikel tidak bersentuhan satu sama lain tetapi terikat pada senyawa seperti polimer dari kaktus (Zimmerman et al., 2008). Kemungkinan besar asam galakturonat hadir dalam bentuk polimernya (asam poligalakturonat) sebagai penghubung untuk mengadsorpsi partikel.

Dilihat dari strukturnya, asam poligalakturonat bersifat anionik. Hal ini didasarkan pada deprotonasi parsial gugus fungsi karboksilat dalam larutan. Adanya gugus karboksilat pada struktur tersebut memungkinkan terjadinya adsorpsi antara partikel bermuatan dengan –COO- , walaupun hal ini memerlukan pembuktian empiris lebih lanjut. Gugus –OH pada rantai polimer memungkinkan adanya interaksi intra molekuler yang dapat mengubah linearitas rantai. Hasil penelitian yang dilakukan Shilpa et al. tahun 2012 menunjukkan bahwa kaktus Opuntia ficus-indica mengurangi kekeruhan air danau dari 83 NTU menjadi 9,1 NTU.

Namun, dalam pelaksanaannya banyak kendala yang dihadapi. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai efektifitas penggunaan kaktus sebagai koagulan alami ini. Selain itu, perlu dilakukan penelitian dalam wujud seperti apa kaktus dapat digunakan sebagai koagulan apakah dalam bentuk serbuk atau ektrak yang lebih efektif dan efisien. Penelitian yang telah dilakukan, bagian kaktus yang digunakan adalah pada getahnya karena efektifitasnya paling tinggi. Namun, apabila hanya digunakan getahnya saja kaktus ini tidak memiliki nilai jual sebagai koagulan karena kandungan getah kaktus hanya sedikit. Sehingga akan sulit untuk menggeser penggunaan koagulan kimia sebagai penjernih air.

Iklan

4 Comments »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: