Buah Hutan Kalimantan: Kenangan Manis yang Kini Memanggil Kesadaran
Kenangan yang Dikunyah
Bagi saya—dan mungkin bagi banyak anak Kalimantan—buah hutan bukan sekadar urusan rasa. Ia adalah kenangan. Ia adalah masa kecil yang manis, sedikit asam, kadang getir, tapi selalu membekas. Buah hutan adalah nostalgia yang bisa dikunyah, diisap, bahkan diperebutkan sambil tertawa di bawah pohon. Ia bukan sekadar pangan, melainkan penanda cara hidup.
Dulu, musim buah adalah musim pesta. Tidak perlu undangan, tidak ada protokol. Alam yang mengundang, kami yang datang. Sepulang sekolah, tas tak langsung ditaruh. Kami menyeberang parit, menyusuri tembawang, masuk ke hutan yang kami yakini sebagai milik bersama. Tidak ada pagar, tidak ada papan “dilarang masuk”. Yang ada hanya hukum tak tertulis: ambil secukupnya, jangan merusak.
Di sanalah kami mengenal peluntan, tasam, tiop, bungkang, tampui, jantak, durian hutan, asam Kalimantan, asam mawang, asam buluh, poret, telur lele, belimbing hutan, ceriak, langsat, kelupai, sibao, rambai, kotub, dan entah berapa nama lain yang mungkin tak pernah masuk kamus besar. Nama latin? Jangan tanya. Kami mengenalnya lewat lidah, bukan lewat jurnal ilmiah. Setiap buah punya rasa khas: ada yang masam sampai membuat mata terpejam, ada yang manis lembut, ada pula yang aromanya tajam tapi rasanya bersahabat.
Pelajaran dari Hutan
Buah hutan mengajarkan kami banyak hal. Tentang musim, tentang kesabaran, tentang berbagi. Jika satu pohon sedang “ramai”, kabar akan menyebar lebih cepat dari pesan berantai. Anak-anak datang, orang dewasa ikut, dan hutan berubah menjadi ruang sosial. Di sanalah cerita bertukar, tawa pecah, dan rasa kebersamaan tumbuh. Hutan bukan ruang sunyi, melainkan ruang hidup.
Sayangnya, cerita itu kini terdengar seperti dongeng. Pelan tapi pasti, buah-buah hutan itu mulai menghilang. Bukan karena musim yang salah, melainkan karena hutannya sendiri tak lagi ada. Perkebunan skala besar, penebangan, dan alih fungsi lahan telah memaksa banyak pohon buah hutan hengkang—bukan bermigrasi, tapi punah. Yang tersisa hanyalah ingatan, dan sesekali cerita yang terdengar terlalu romantis untuk dipercaya generasi hari ini.
Ironisnya, kita sering baru sadar nilai sesuatu setelah ia nyaris habis. Buah hutan yang dulu dianggap biasa—bahkan kadang diremehkan—kini tak ternilai. Ia bukan hanya soal rasa, tetapi soal identitas dan kearifan lokal. Buah hutan adalah arsip hidup tentang bagaimana masyarakat Kalimantan membangun relasi dengan alam: mengambil tanpa merampas, menikmati tanpa menguasai.
Masa Depan yang Terancam
Dalam logika pembangunan modern, hutan sering dilihat sebagai angka: hektare, ton, atau nilai ekspor. Buah hutan kalah pamor dibanding sawit yang seragam dan cepat panen. Padahal, di balik keragaman buah hutan tersimpan potensi pangan, obat, bahkan ekonomi berbasis lokal. Yang kurang bukan potensi, melainkan kemauan untuk melihat hutan sebagai mitra, bukan sekadar objek.
Tentu, tidak adil jika semua kesalahan ditimpakan pada “pembangunan”. Kita juga punya tanggung jawab kolektif. Banyak tembawang yang tak lagi dirawat, banyak pengetahuan lokal yang tak diwariskan. Anak-anak kini lebih hafal nama gim daring daripada nama buah di halaman sendiri. Ini bukan salah mereka sepenuhnya, tapi cermin dari perubahan cara hidup yang terlalu cepat.
Kembali ke Akar
Buah hutan Kalimantan seharusnya tidak berhenti sebagai nostalgia. Ia perlu dihidupkan kembali—bukan sekadar dalam cerita, tetapi dalam kebijakan, pendidikan, dan kesadaran publik. Pelestarian hutan adat, penguatan tembawang, hingga dokumentasi pengetahuan lokal adalah langkah kecil yang bisa berdampak besar. Kita tak harus menolak kemajuan, tetapi perlu menegosiasikannya dengan akal sehat dan empati ekologis.
Humornya begini: kita bangga dengan buah impor yang namanya sulit dieja, tapi lupa pada buah sendiri yang rasanya sudah hafal sejak kecil. Kita rela antre kopi mahal, tapi lupa bahwa dulu kebahagiaan cukup dengan tampui masak di tangan. Ini bukan ajakan untuk mundur ke masa lalu, melainkan untuk membawa nilai masa lalu ke masa depan.
Penutup
Buah hutan Kalimantan bukan hanya nostalgia. Ia adalah pengingat bahwa ada cara lain untuk hidup—lebih selaras, lebih adil, dan mungkin lebih bahagia. Jika suatu hari anak-anak Kalimantan hanya mengenal peluntan dan tampui dari buku atau unggahan media sosial, maka yang punah bukan hanya pohonnya, tetapi juga sepotong jati diri kita. Dan itu harga yang terlalu mahal untuk sebuah kemajuan yang lupa arah.
- Solusi Kemasan Paperboard untuk Segala Kebutuhan - April 4, 2026
- Why White Tea is Worth Trying – and How to Brew It Perfectly - April 4, 2026
- LIHAT: Bagaimana fasilitas perawat Hawaii menjadi viral - April 4, 2026




Leave a Reply