Posted on 1 Comment

Memahami Reaksi polimerisasi

Yaooo… semua nya¬† ūüėĬ†kembali lagi dengan, siapa lagi kalo bukan si (Penulis) tentunya , gimana kabar kalian adakah sebagian dari kalian yang masih UAS ? Hehe¬†¬†:-D. Berikut ini saya akan membuat artikel mengenai Memahami Reaksi polimerisasi dan sebenarnya apasih polimer itu, Yuk langsung saja dibaca. Monggo… hehe¬†ūüėÄ Continue reading Memahami Reaksi polimerisasi

Posted on 1 Comment

Perkembangan Nanoteknologi

Pengembangan nanoteknologi atau teknologi rekayasa zat bersekala nanometer belumlah tergolong lama. Orang yang pertama kali menciptakan istilah ‚Äúnanoteknologi‚ÄĚ adalah Profesor Nario Taniguchi dari Tokyo Science University pada tahun 1940. Ia mulai mempelajari mekanisme pembuatan nanomaterial dari kristal kuarts, silikon dan keramik alumina dengan menggunakan mesin ultrasonik. Komersialisasi (potensi penerapan nanoteknologi sesungguhnya tidak hanya pada piranti mikroelektronik saja tetapi juga pada berbagai industri membuka peluang aplikasi bahan dan teknologi nano di berbagai bidang, yakni pada produk makanan, kemasan, mainan anak, peralaatan rumah / kebun, kesehatan, kebugaran, obat-obatan, tekstil, keramik dan kosmetik.
Material berskala nano merupakan material yang sangat atraktif karena memiliki sifat-sifat yang sangat berbeda dibandingkan dengan yang diperlihatkan pada skala makroskopisnya. Terdapat berbagai fenomena quantum atraktif yang timbul sebagai akibat pengecilan ukuran material hingga ke dimensi nano. Logam platina meruah yang dikenal sebagai material inert dapat berubah menjadi material katalitik jika ukurannya diperkecil mencapai skala nano. Material stabil, seperti aluminium, menjadi mudah terbakar, bahan-bahan isolator berubah menjadi konduktor (Karna, 2010). Sehingga dengan nanoteknolgi maka setiap bahan atau material akan memungkinkan pengurangan berat disertai dengan peningkatan stabilitas dan meningkatkan fungsionalitas.
Sejarah nanomaterials

Munculnya kesadaran terhadap ilmu dan teknologi nano diinspirasi dan didorong oleh pemikiran futuristik dan juga penemuan peralatan pengujian dan bahan-bahan. Pada tanggal 29 Desember 1959 dalam pertemuan tahunan Masyarakat Fisika Amerika (American Physical Society) di Caltech, Richard Phillips Feynman (Pemenang Hadiah Nobel Fisika tahun 1965) dalam suatu perbincangan berjudul ‚Äú There‚Äôs plenty of room at the bottom‚ÄĚ, memunculkan suatu isu yaitu permasalahan memanipulasi dan mengontrol atom (ukuran 0,001 nm) dan molekul (ukuran 0,1 nm) pada dimensi kecil (nanometer) . Di tahun 1981, Scanning Tunneling Microscopy (STM) diciptakan oleh Heinrich Rohrer dan Gerd Binnig (Pemenang Hadiah Nobel Fisika tahun 1986).
Beberapa tahun kemudian (1986), Gerg Binnig, Calfin F Quate, dan Christoph Gerber menemukan Atomic Force Microscope (AFM). Melalui peralatan STM dan AFM, para ilmuwan dapat melihat, memanipulasi, dan mengontrol atom-atom secara individu di dimensi nano. Penemuan bahan buckyball/fullerene dan carbon nanotube semakin mendorong para ilmuwan untuk meneliti ilmu dan teknologi nano. Robert Curl, Harold Kroto, dan Richard Smalley (Pemenang Hadiah Nobel Kimia tahun 1996) menemukan buckyball/fullerene di tahun 1985. Buckyball/fullerene tersusun oleh molekul-molekul karbon dalam bentuk bola tak pejal dengan ukuran diameter bola 0,7 nm. Sumio Iijima menemukan carbon nanotube pada tahun 1991 saat ia bekerja di perusahaan NEC di Jepang.

Posted on Leave a comment

Grafin, Jutaan Kali Lebih Tipis dari Kertas,  Dua Ratus Kali Lebih Kuat dari Baja

‚ÄčSetipis dan sekuat itukah?

Siapa grafin?

Grafin, materi dalam bentuk lembaran paling tipis yang pernah ditemukan manusia. Tersusun atas atom karbon dalam kerangka segi enam yang berbentuk seperti sarang lebah, bila diperbesar graphene akan tampak seperti kawat kasa.

Grafin sendiri adalah layer yang menyusun susunandi grafit. Jadi, dari susunan yang sebegitu tebalnya di ambil satu lapisan maka pemanfaatannya akan sangat luar biasa. Sebanding dengan ide yang luar biasa sederhananya

Grafin merupakan material baru yang memiliki sifat elektronik unggul, di antaranya adalah  mobilitas pembawa muatan yang tinggi. Sifat ini dan lainnya menyebabkan graphene banyak diteliti, baik secara teori maupun eksperimental. Grafit sebagai bahan grafin adalah salah satu bentuk alami karbon. Satu milimeter grafit terdiri atas tiga juta lapisan grafin yang berdiri satu sama lain, tapi dalam susunan yang lemah. Namun, bila grafit itu diiris tipis-tipis menggunakan selotip hingga tersisa satu lapisan tunggal atom saja dengan metode chemical exfoliation (pengelupasan kimiawi) yang ditemukan Geim dan Novoselov enam tahun lalu, akan menjadi material yang sangat kuat. Meski tak lebih tebal dari sebuah atom, kekuatan graphene memang 200 kali lebih kenyal daripada baja. Sifat tipis dan kuat saja tak cukup untuk menggambarkan kelebihan material ini. Grafin memiliki sifat penghantar (konduktivitas) listrik yang tinggi, seperti halnya tembaga. Massa efektif elektronnya bernilai nol dengan pita celah energi (band gap) juga nol. Elektron-elektron di dalamnya pun bersifat relativistik, yang berarti kecepatannya tinggi. 

sumber

Bagaimana aplikasinya dalam kehidupan?

  1. Dengan sifatnya yang transparan, Grafin berpotensi menggantikan bahan film oksida logam berbasis indium yang selama ini dipakai untuk layar LCD televisi dan telepon seluler. Padahal, bahan indium semakin mahal karena jumlahnya terbatas. Ini bisa menjadi solusi baru teknologi layar sentuh atau panel surya.

  2. Grafin bersifat elastis seperti karet dan tahan dari liquid dan gas.  Karena strukturnya yang begitu rapi, ia dapat digunakan sebagai saringan super detail, karena atom-atom besar tidak lewat diantaranya. Ini adalah bagian dari teknologi nano.
    Kira-kira Apa saja yang harus dikembangkan dari grafin ini?

Pertama, stuktur molekulnya sangat tahan terhadap kerusakan. Para peneliti harus membuatnya dengan buatan tangan untuk meneliti efek-efek yang dimilikinya. Kedua, elektron-elektron yang membawa muatan listrik berjalan jauh lebih cepat dan umumnya berperilaku seolah-olah mereka mempunyai massa yang jauh lebih kecil daripada jika mereka melewati logam-logam atau super konduktor biasa.

Posted on 2 Comments

Materi Logam dan Pengolahannya

Materi Logam dan PengolahannyaLogam memiliki peranan penting dalam peradaban manusia dan telah dimanfaatkan oleh manusia sejak berabad lamanya. Bahkan kita mengenal istilah zaman perunggu, zaman besi. Sebagai contoh tanpa sumbangsih dari dunia metalurgi (pengolahan metal), kita tak akan pernah kenal dengan musik  rock, musik metalik. Karena senar gitar yang dimainkan dalam gambar ini adalah produk dari teknologi yang sangat kompleks. Inti dari senar dibuat dari baja lunak, dengan memvariasikan kekerasan dan kelenturannya , bisa menghasilkan bunyi yang berbeda. Continue reading Materi Logam dan Pengolahannya

Posted on Leave a comment

Graphen, Material Terkuat di Dunia

graphene

Graphene terdiri dari lapisan atom tunggal karbon yang disusun dalam kisi sarang lebah. James Hone yang merupakan professor teknik mesin sekaligus pemimpin penelitian bersama Jeffrey  Kysar mengatakan bahwa ia telah mempelajari kekuatan graphene hingga mencapai kesempurnaan tertentu. Graphene murni itu sendiri ternyata hanya berada di daerah-daerah yang sangat kecil, lembaran area yang besar juga dibutuhkan untuk aplikasi yang berisi banyak butiran kecil dan terhubung dan masih tidak jelas seberapa kuat batas butir mereka tersebut. Laporan kekuatan film graphene tumbuh di wilayah yang sangat besar dengan menggunakan deposisi uap kimia atau biasa disebut CVD. Penemuan tersebut membuat mereka bergembira dan mengatakan bahwa graphen telah kembali dan lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Continue reading Graphen, Material Terkuat di Dunia

Posted on 5 Comments

Materi yang lebih keras dari berlian

English: Nearly octahedral diamond crystal in ...
English: Nearly octahedral diamond crystal in matrix. (Photo credit: Wikipedia)

Berlian telah lama dianggap materi yang paling Keras di dunia. Mengikis di permukaan apapun, dan akan meninggalkan goresan. Tekanlah permukaan apapun, dan itu akan membuat penyok. Tetapi Predikatnya sebagai benda terkeras oleh mineral berharga itu sekarang dalam bahaya: Para peneliti telah menciptakan sebuah material baru yang mungkin bahkan lebih keras dari berlian.

Kunci kesuksesan tim: Tekanan. Menurut Lin Wang, yang bekerja untuk Carnegie Institution of Washington di Argonne, Illinois Sebagai seorang ilmuwan material, studi Lin bagaimana struktur bahan pada skala atom dan molekul berhubungan dengan sifat mereka secara keseluruhan.

Untuk membuat substansi super Keras, timnya mulai dengan molekul karbon yang disebut fullerenes. Setiap molekul mengandung atom karbon 60 diatur dalam pola yang menyerupai kandang berbentuk bola. Bahkan, jika Anda adalah untuk menggambar molekul fullerene dan juga menggambar semua ikatan kimia yang menghubungkan atomnya bersama-sama, fullerene terlihat seperti bola sepak.

Para peneliti kemudian menambahkan cairan yang kaya karbon yang disebut xylene pada  fullerenes. Atom karbon dalam setiap molekul xilena tersusun dalam cincin. Molekul Xylene berikatan lemah ke fullerenes dan  membantu menjaga  molekul berbentuk bola tersebut terpisah dalam jarak tertentu , jelas Wang . Continue reading Materi yang lebih keras dari berlian