Posted on Leave a comment

Keadaan dan pergeseran kesetimbangan kimia

pergeseran kesetimbangan kimia

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

 

Assalamualaikum w.r.b. teman-teman

Slamat datang dibisakimia.com insyaallah pasti bisa 😉💪

Berikut ialah Keadaan dan pergeseran kesetimbangan kimia

🔖membaca materi teramat penting ya teman-teman supaya kita tahu apa sih sebenarnya yang kita hitung at least kita nda ngerasa garing,.. ya kan? hhhh

So,  Let’s study… ⏸️

Jadi… Reaksi kimia yang dapat balik ( zat-zat produk dapat kembali menjadi satu semula) disebut reaksi reversibel. Continue reading Keadaan dan pergeseran kesetimbangan kimia

Posted on Leave a comment

Gas Ideal Seperti Apa?

​Masih ingat rumus ini?

PV=nRT

Rumus ini biasanya digunakan untuk mencari volume atau tekanan gas pada suhu tertentu selain pada keadaan standar dan keadaan ruang. Pada keadaan standar (0°C, 1 atm), 1 mol gas= 22,4 liter dan dalam keadaan ruang ( 25°C, 1atm), 1 mol gas= 24 liter.

Apa sih pengertian gas ideal?

Gas ideal merupakan kumpulan dari partikel-partikel suatu zat yang jaraknya cukup jauh dibandingkan dengan ukuran partikelnya. Partikel-partikel itu selalu bergerak secara acak ke segala arah. Pada saat partikel-partikel gas ideal itu bertumbukan antar partikel atau dengan dinding akan terjadi tumbukan lenting sempurna sehingga tidak terjadi kehilangan energi. 

Bagaimana keadaan gas mueal?

Gas disebut ideal  bila memenuhi beberapa syarat yaitu:

1.Suatu gas terdiri atas molekul-molekul yang disebut molekul. Setiap molekul identik (sama) sehingga tidak dapat dibedakan dengan molekul lainnya.

2.Molekul-molekul gas ideal bergerak secara acak ke segala arah.

3.Molekul-molekul gas ideal tersebar merata di seluruh bagian.

4.Jarak antara molekul gas jauh lebih besar daripada ukuran molekulnya.

5.Tidak ada gaya interaksi antarmolekul; kecuali jika antarmolekul saling bertumbukan atau terjadi tumbukan antara molekul dengan dinding.

6.Semua tumbukan yang terjadi baik antarmolekul maupun antara molekul dengan dinding merupakan tumbukan lenting sempurna dan terjadi pada waktu yang sangat singkat (molekul dapat dipandang seperti bola keras yang licin).Hukum-hukum 

7.Newton tentang gerak berlaku pada molekul gas ideal.

Dari mana didapatkan rumus PV=nRT?

Hukum-hukum gas ideal diantaranya Hukum boyle, Hukum Charles, Hukum Gay lussac. 

Hukum Boyle : V  ∝ 1/P (n dan T tetap)

Hukum Charles : V ∝ T ( n dan P konstan)

Hukum Avogadro V ∝ n ( P dan T tetap)

Dari ketiga hukum di atas, dapat dikatakan volume gas berbanding langsung terhadap jumlah gas dan suhu dan berbanding terbalik terhadap tekanan, dirumuskan persamaang gas ideal.

Posted on 2 Comments

Hubungan Mol dengan Jumlah Partikel, Massa, Volume dan Molaritas

Belajar tentang partikel, kita harus mengetahui satuan dari partikel. Banyaknya partikel dinyatakan dalam satuan mol. Satuan mol sekarang dinyatakan sebagai jumlah patikel (atom, molekul, atau ion) dalam suatu zat. Para ahli sepakat bahwa satu mol zat mengandung jumlah partikel yang sama dengan jumlah partikel dalam 12,0 gram isotop C-12 yakni 6,02 x 1023 partikel. Jumlah partikel ini disebut Bilangan Avogadro (NA = Number Avogadro) atau dalam bahasa Jerman Bilangan Loschmidt (L). Bilangan Avogadro (L) ditemukan oleh Johann Loschmidt pada 1865. Nama Avogadro dipilih sebagai penghormatan kepada Avogadro karena beliau orang pertama yang mengusulkan perlunya satuan jumlah partikel. Adapun nama Loschmidt diabadikan sebagai simbol bilangan tersebut, L.

Bagaimana hubungan mol dengan jumlah partikel?
Hubungan mol dengan jumlah partikel dapat dirumuskan:

kuantitas (dalam mol) =  jumlah partikel / NA
atau jumlah partikel = mol x NA

Contoh soal:
Suatu sampel mengandung 1,505 x 1023 molekul Cl2, berapa mol kandungan Cl2 tersebut?

Jawab:
Kuantitas (dalam mol) Cl2 =  jumlah partikel Cl2 / NA =  1,505 x 1023 / 6,02 x 1023= 0,25 mol

Bagaimana hubungan mol dengan massa?
Hubungan antara mol dengan massa adalah:
Kuantitas (dalam mol) = Massa senyawa atau unsur (gram) / Massa molar senyawa atau   unsur (gram/mol).

Bagaimana hubungan mol dan volume?
Hubungan mol dan volume di bagi dua yaitu pada keadaan standar dan non standar.
1.Gas pada keadaan standar
Pengukuran kuantitas gas tergantung suhu dan tekanan gas. Jika gas diukur pada keadaan standar, maka volumenya disebut volume molar. Volume molar adalah volume 1 mol gas yang diukur pada keadaan standar. Keadaan standar yaitu keadaan pada suhu 0 °C (atau 273 K) dan tekanan 1 atmosfer (atau 76 cmHg atau 760 mmHg) atau disingkat STP (Standard Temperature and Pressure).

Besarnya volume molar gas dapat ditentukan dengan persamaan gas ideal:  PV= nRT
P = tekanan = 1 atm
n = mol = 1 mol gas
T = suhu dalam Kelvin = 273 K
R= tetapan gas = 0,082 liter atm/mol K

Maka:
P V = nRT
V =1 x 0,082 x 273
V = 22,389
V = 22,4 liter
Jadi, volume standar = VSTP     = 22,4 Liter/mol.
Dapat dirumuskan:  V = n x Vm
n     = jumlah mol
Vm  =  VSTP = volume molar
Contoh soal:
1) Berapa kuantitas (dalam mol) gas hidrogen yang volumenya 6,72 liter, jika diukur pada suhu 0 °C dan tekanan 1 atm?
Jawab:
Kuantitas (dalam mol) H2 =  volume H2/ VSTP
= 6,72 L / 22,4 mol/L
=   0,3 mol
2) Hitung massa dari 4,48 liter gas C2H2 yang diukur pada keadaan standar!
Jawab:
Kuantitas (dalam mol) C2H2
= volume C2H2 / VSTP
=  4,48 / 22, 4
= 0,2 mol
Massa C2H2 = mol x Massa molar C2H2
= 0,2 mol x 26 gram/mol
= 5,2 gram
3) Hitung volume dari 3,01 x 1023 molekul NO2 yang diukur pada suhu 0 °C dan tekanan 76 cmHg!
Jawab:
kuantitas (dalam mol) NO2 = jumlah partikel /NA
=  3,01 x 1023 partikel / 6,02 x 1023 partikel/mol
= 0,5 mol
Volume NO2  = mol x VSTP
= 0,5 mol x 22,4 L/mol
= 11,2 liter
2. Gas pada keadaan nonstandar
Jika volume gas diukur pada keadaan ATP (Am-bient Temperature and Pressure) atau lebih dikenal keadaan non–STP maka menggunakan rumus:
P V =  n R T
P = tekanan, satuan P adalah atmosfer (atm)
V = volume, satuan Vadalah liter
n  = mol, satuan nadalah mol
R  = tetapan gas = 0,082 liter atm / mol K
T  = suhu, satuan T adalah Kelvin (K)
Contoh soal:
Tentukan volume 1,7 gram gas amonia yang diukur pada suhu 27 °C dan tekanan 76 cmHg!
Jawab:
n = massa amonia / massa molar amonia
=   1,7 gram / 17 gram/mol
= 0,1 mol
P               = (76 cmHg / 76 cmHg)   x 1 atm = 1 atm
T               = (t + 273) K = 27 + 273 = 300 K
P V           = n R T
1 atm × V = 0,1 mol × 0,082 L atm / mol K × 300 K
V              = 2,46 L

Bagaimana hubungan mol dengan Molaritas?
Molaritas larutan didapatkan dengan membagi mol per volume.

Posted on Leave a comment

Massa Jenis dan Bobot Jenis, Sama Gak sih?

​Sekilas dilihat dari kata massa dan bobot sepertinya sama, tetapi kenyataannya berbeda lho.

Massa jenis atau densitas didefinisikan sebagai massa persatuan volume. Sebagai contoh es atau besi yang memiliki bahan homogen juga memiliki densitas yang sama pada setiap bagiannya. Simbol dari masa jenis adalah ρ (“rho”) berasar dari huruf Yunani. Apabila sebuah bahan yang homogen bermassa m dan memiliki volume v, maka densitasnya adalah m/v.
Nah bagaimana dengan bobot jenis?

Bobot jenis adalah rasio bobot suatu zat terhadap bobot zat baku yang volume dan suhunya sama dan dinyatakan dalam desimal. Bobot jenis menggambarkan hubungan antara bobot suatu zat terhadap bobot suatu zat baku. Contohnya air, yang merupakan zat baku untuk sebagian besar perhitungan dengan bobot jenis 1,00. Sebagai perbandingan, bobot jenis gliserin adalah 1,25 artinya bobot gliserin 1,25 kali bobot volume air yang setara. Dalam penerapannya bobot jenis digunakan untuk mengubah pernyataan kekuatan dalam b/b, b/v, dan v/v.

Selain digunakan untuk mengetahui kekentalan suatu zat cair bobot jenis juga digunakan untuk mengetahui kemurnian suatu zat dengan menghitung berat jenisnya kemudian dibandingkan dengan teori yang ada, jika berat jenisnya mendekati maka dapat dikatakan zat tersebut memiliki kemurnian yang tinggi.

Bagaimana cara mengukur massa jenis dan bobot jenis?

Berat jenis dapat ditentukan dengan menggunakan berbagai tipe piknometer.

Massa jenis zat cair dapat diukur langsung dengan menggunakan alat yang namanya hidrometer. Hidrometer memiliki skala massa jenis dan pemberat yang dapat mengakibatkan posisi hidrometer vertikal. Cara mengetahui massa jenis zat cair adalah dengan memasukkan hidrometer ke dalam zat cair tersebut. Hasil pengukuran dapat diperoleh dengan acuan semakin dalam hidrometer tercelup, menyatakan massa jenis zat cair yang diukur semakin kecil.

Posted on 2 Comments

Alat Ukur Volume di Laboratorium dan Cara Membacanya

Pengukuran volume larutan di laboratorium dapat menggunakan beberapa alat ukur volume. Beberapa alat ukur tersebut dibedakan sesuai dengan tingkat ketelitiannya. Apa saja ya alat-alat itu?

Mari kita urutkan mulai dari tingkat ketelitian rendah sampai ke tingkat ketelitian tinggi.

1. Gelas ukur

Alat Ukur Volume di Laboratorium

Digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Alat ini mempunyai skala, tersedia bermacam-macam ukuran, mulai dari 10 mL sampai 2 L.

2.Pipet ukur

Alat Ukur Volume di Laboratorium

Pipet ukur digubakan untuk memindahkan larutan secara terukur. Pa da pipet ukur terdapat skala yang menunjukkan volume.

3.Pipet volume atau pipet gondok

Alat Ukur Volume di Laboratorium

Pipet volume atau pipet gondok adalah salah satu alat ukur kuantitatif dengan tingkat ketelitian tinggi, ditandai dengan bentuknya yang ramping pada penunjuk volume dan hanya ada satu ukuran volume.

4.Buret

Alat Ukur Volume di Laboratorium

Buret berfungsi untuk meneteskan sejumlah reagen cair dalam eksperimen yang memerlukan presisi, seperti pada eksperimen titrasi. Buret sangatlah akurat, buret kelas A memiliki akurasi sampai dengan ± 0,05 cm3. Oleh karena presisi buret yang tinggi, kehati-hatian pengukuran volume dengan buret sangatlah penting untuk menghindari kesalahan sistematik.

5.Labu ukur atau labu takar

Labu Ukur Pyrex 100 mL - Volumetric Flask

Labu Takar berfungsi untuk menyiapkan larutan dalam kimia analitik yang konsentrasi dan jumlahnya diketahui dengan pasti dengan keakuratan yang sangat tinggi. Alat ini sangat cocok digunakan untuk mengukur sesuatu dengan keakuratan yang tinggi karena di bagian leher terdapat lingkaran graduasi, volume, toleransi, suhu kalibrasi dan kelas gelas. Pada lehernya juga terdapat tanda batas yang menunjukkan volume sebagaimana tertera pada badan labu takar. Biasanya berwarna transparan, tetapi ada juga yang berwarna gelap. Biasanya dilengkapi dengan penutup dari bahan tahan bahan kimia seperti polietilen atau dapat juga dari gelas

Cara Mengetahui Pembacaan Volume

Dari alat-alat ukur di atas yang telah kita bahas, perlu kita ketahui cara pembacaan volume larutannya. Karena jika terjadi kesalahan akan mengakibatkan hasil analisa atau perhitungan kita tidak akurat. Salah satu yang harus kita ketahui adalah pembacaan miniskus.

Apa itu miniskus?

Meniskus-Cekung-dan-Meniskus-Cembung

Miniskus adalah batas lengkungan cairan pada alat ukur. Miniskus dibagi menjadi dua yaitu:

  1. miniskus atas
  2. miniskus bawah.

Kapankah kita menggunakan miniskus atas atau bawah untuk pembacaan volume ?

Miniskus atas digunakan apabila larutan yang diukur memang memiliki miniskus atas dan juga untuk larutan berwarna. Sedangkan Untuk miniskus bawah digunakan untuk membaca volume di alat ukur jika larutan berwarna bening atau masih jelas dan pastinya memiliki miniskusus bawah.

Pada pembacaan skala, miniskus haruslah sejajar dengan mata kita. Seperti pada gambar di bawah yang terlihat garis lurusnya :

Alat Ukur Volume di Laboratorium dan Cara Membacanya

Miniskus cekung terjadi akibat gaya adhesi yang lebih kuat dari gaya adhesi, Gaya adhesi adalah gaya tariknya ke zat lain. Sedangkan gaya kohesi sebaliknya, gaya tarik antara zat sesamanya. Oleh karena itu jika gaya kohesi antara larutannya lebih besar, maka akan menjadi cembung karena menghindari kaca.

Demikian artikel Alat Ukur Volume di Laboratorium dan Cara Membacanya . silahkan berkomentar jika ada pertanyaan

Posted on Leave a comment

Pengaruh Komponen Padatan dan Cairan Murni pada Asas Le Chatelier

​Penambahan atau pengurangan komponen yang berupa padatan atau cairan murni tidak mempengaruhi kesetimbangan. Hal ini dapat dipahami sebagai berikut. Penambahan komponen yang berupa larutan atau gas akan berpengaruh pada kerapatan antar partikel dalam campuran. Jika suatu komponen gas atau larutan ditambahkan, maka konsentrasi meningkat, sehingga sistem bereaksi untuk mengurangi konsentrasi. Jika yang ditambahkan berupa padatan atau cairan murni, hal itu tidak mengubah konsentrasi karena jarak antarpartikel dalam padatan dan cairan adalah tetap.

Demikian juga halnya pada perubahan tekanan atau volume. Perubahan tekanan dan volume tidak mempengaruhi konsentrasi padatan atau cairan murni. Jadi, ketika mempertimbangkan pengaruh tekanan dan volume, koefisien komponen padat tidak diperhitungkan. Tekanan hanya berpengaruh pada sistem kesetimbangan gas. Komponen padat atau cairan murni tidak menggeser kesetimbangan.

Dalam sistem larutan (pelarut air), penambahan air dalam jumlah yang signifikan dapat juga memperbesar volume, sehingga kesetimbangan akan bergeser ke ruas yang jumlah koefisiennya terbesar.

Untuk menambah pemahaman uraian yang telah dipaparkan di atas, mari kita coba membahas soal berikut dengan menganalisis pengaruh komponen padat dan cairan murni.

1.Diketahui reaksi kesetimbangan

BiCl3(aq)+H2O(l) <===> BiOCl(s)+ 2 HCl(aq)

Ke arah mana kesetimbangan bergeser jika pada suhu tetap:

a. ditambahkan BiCl3?

b. ditambahkan air?

Jawab:

a. Penambahan BiCl3, salah satu pereaksi menggeser kesetimbangan ke kanan.

b. Penambahan air merupakan penggeseran (memperbesar volume), maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan, yaitu ke arah koefisien yang lebih besar (jumlah koefisien di ruas kiri=1, yaitu koefisien dari BiCl3 sedangkan jumlah koefisien di ruas kanan=2, yaitu koefisien dari HCl. Koefisien dari H2O dan BiOCl tidak diperhitungkan).

Bagaimana sudah bisa dipahami?

Selanjutnya coba kita menganalisis pengaruh perubahan tekanan pada kesetimbangan heterogen

2.Diketahui reaksi kesetimbangan:

3Fe(s)+4H2O <===> Fe3O4(s) + 4 H2(g)

a. ke arah manakah kesetimbangan bergeser, jika pada suhu tetap, volume campuran diperkecil?

b. bagaimana pengaruh aksi tersebut terhadap konsentrasi H2?

Jawab:

a. Pengurangan volume akan menggeser reaksi ke arah yang jumlah koefisiennya terkecil. Oleh karena koefisien dari komponen padatan murni, tidak diperhitungkan maka kesetibangan ini tidak bergeser (jumlah koefisien komponen gas di ruas kiri = di ruas kanan = 4)

b. Jumlah mol H2 tidak berubah, tetapi volume ruangan semakin kecil, jadi konsentrasi (n/V) akan bertambah (demikian juga konsentrasi H2O akan bertambah)

Posted on Leave a comment

Pengaruh Tekanan pada Asas Le Chatelier

​Setelah memahami, pengaruh konsentrasi pada asas Le Chatelier di artikel sebelumnya, sekarang kita lanjutkan ke pengaruh tekanan.

Penambahan tekanan dengan cara memperkecil volume akan memperbesar konsentrasi semua komponen. Sesuai dengan asan Le Chatelier, maka sistem akan bereaksi dengan mengurangi tekanan. Sebagaimana kalian ketahui, tekanan gas bergantung pada jumlah molekul dan tidak bergantung pada jenis gas. Oleh karena itu, untuk mengurangi tekanan maka reaksi kesetimbangan akan bergeser ke arah yang jumlah koefisiennya lebih kecil.

Sebaliknya bila tekanan dikurangi dengan cara memperbesar volume, maka sistem akan bereaksi dengan menambah tekanan dengan cara menambah jumlah molekul. Reaksi akan bergeser ke arah yang jumlah koefisiennya lebih besar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan menjadi dua keadaan yaitu:

‌Jika tekanan diperbesar (volume diperkecil), kesetimbangan akan bergeser ke arah yang jumlah koefisiennya terkecil.

‌Jika tekanan diperkecil (volume diperbesar), kesetimbangan akan bergeser ke arah yang jumlah koefisiennya terbesar.

Contoh pengaruh pembesaran tekanan (dengan cara memperkecil volume) pada kesetimbangan:

N2(g)+3H2(g) <===>2 NH3(g)

Ketika volume diperkecil, maka konsentrasi(rapatan) bertambah dan menyebabkan pertambahan tekanan. Untuk mengurangi tekanan, maka reaksi bergeser ke kanan. Satu molekul N2 bereaksi dengan 3 molekul H2 membentuk 2 molekul NH3 (4 molekul pereaksi hanya menghasilkan 2 molekul produk). Dengan berkurangnya jumlah molekul, maka tekanan akan berkurang. 

Sekarang, yuk kita coba menganalisis pengaruh tekanan pada kesetimbangan dengan menyelesaikan soal berikut:

(1) CO(g) + 3H2(g) <===> CH4(g) + H2O(g)

(2) 2 HI(g) <===> H2(g) + I2(g)

Ke arah mana keserimbangan bergeser, jika tekanan diperbesar?

Jawab: 

Jika tekanan diperbesar, maka kesetimbangan akan bergeser ke arah yang jumlah koefisiennya terkecil.

(1) CO(g) + 3H2(g) <===> CH4(g) + H2O(g)

Jumlah koefisien di ruas kiri=4, sedangkan di ruas kanan=2. Kesetimbangan akan bergeser ke kanan.
(2) 2 HI(g) <===> H2(g) + I2(g)

Jumlah koefisien di ruas kiri=2, sedangkan di ruas kanan=2. Kesetimbangan tidak bergeser.

Posted on Leave a comment

Pergeseran Kesetimbangan Kimia

kesetimbangan

Kesetimbangan kimia merupakan suatu istilah untuk kesetimbangan reaksi kimia yang reversibel atau reaksi bolak balik. Reaksi Bolak balik ini seperti namanya, bisa bergerak ke kiri (reaktan) atau kanan (kanan) tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhi. Disini kita secara khusus akan membahas faktor faktor apa saja yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan kimia dan apa pengaruhnya terhadap arah reaksinya

A + B <—> C + D Continue reading Pergeseran Kesetimbangan Kimia