Fatima Gassama, Mahasiswi UIN Salatiga yang Rindu Pulang ke Afrika

Kehidupan Seorang Mahasiswi Asal Gambia di Kota Salatiga

Di balik sejuknya udara Kota Salatiga dan gema takbir yang bersahut-sahutan, terselip kisah emosional dari Fatoumatta Gassama. Seorang mahasiswi asal Gambia yang harus berjuang melawan rasa sepi dan hambatan bahasa demi menuntaskan mimpinya menempuh pendidikan di Indonesia.

Ada rasa rindu kampung halaman, mengingat ia kini terpisah jarak lebih dari 15.300 kilometer dari negara asalnya, Gambia di Benua Afrika. Fatima, sapaan akrabnya, adalah mahasiswa program kelas internasional di UIN Salatiga. Gadis ini datang ke Indonesia demi mengejar mimpi melalui jalur beasiswa.

Mimpi di Tanah Rantau

“Saya dari Banjul, ibu kota Gambia. Ini kota yang kecil dan damai, dekat laut. Ya, saya datang ke Indonesia melalui program beasiswa,” ujarnya saat diwawancarai beberapa waktu lalu.

Langkah Fatima menapakkan kaki di Indonesia didasari keinginan kuat untuk mempelajari budaya baru. “Saya memilihnya karena saya ingin melanjutkan studi di luar negeri dan mengalami budaya yang baru. Saya melihat ini sebagai peluang yang bagus untuk tumbuh dan belajar hal-hal baru,” tambahnya dalam bahasa Inggris yang terus ia asah.

Menembus Hambatan Bahasa di Kota Sejuk

Kini, Fatima telah menetap selama 1,5 tahun dan duduk di semester 4 Jurusan Bisnis Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. UIN Salatiga sendiri memang menyediakan skema beasiswa bagi mahasiswa asing, termasuk dari Benua Afrika, yang mencakup biaya kuliah hingga akomodasi.

Meski menikmati studinya, Fatima tak menampik bahwa hidup sebagai perantau lintas benua memberikan tantangan tersendiri, terutama soal komunikasi. “Hidup di Indonesia terasa campuran antara pengalaman yang baik dan menantang. Saya bertemu orang-orang baik dan budayanya, tapi jujur saja, hambatan bahasa sangat sulit bagi saya,” keluhnya.

Baca Juga  Fairmont Lions Club hosts annual Child in Need Christmas party

Ketidakmampuan berbahasa Indonesia terkadang membuatnya merasa terisolasi di tengah keramaian. “Kadang saya merasa orang mengabaikan saya karena saya tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik, dan itu membuat saya merasa terpinggirkan dalam percakapan. Itu benar-benar sangat sulit bagi saya,” ungkap Fatima.

Ramadan yang Berbeda: Takjil dan Rasa Sepi

Menjalani Ramadhan di Indonesia memberikan warna tersendiri bagi Fatima. Meski dikelilingi teman-teman dari Madagaskar dan Uganda di asrama, rasa “terputus” dari tradisi rumah tetap ada. “Pengalaman Ramadhan saya di Indonesia cukup berbeda bagi saya, rasanya keren tapi saya tidak selalu merasa begitu terhubung. Berada jauh dari keluarga dan kesulitan bahasa terkadang membuatnya terasa sedikit menyendiri,” tuturnya.

Meski demikian, satu hal yang membuatnya terkesan adalah kekayaan kuliner Indonesia. Menjelang berbuka, Fatima kerap berburu takjil bersama teman-temannya. “Saya tinggal dengan teman saya yang berasal dari Madagaskar dan Uganda, setiap mau berbuka terkadang kami membeli makanan ringan. Kebanyakan makanan di sini enak, saya suka hampir semua makanan di sini,” katanya sembari tersenyum.

Ia memuji kemudahan menemukan makanan di Indonesia, sesuatu yang berbeda dengan situasi di kampung halamannya. “Satu hal yang paling saya sukai di sini adalah banyaknya pilihan makanan yang tersedia di mana-mana. Sangat mudah menemukan berbagai macam makanan kapan saja.”

Kerinduan pada Kehangatan Banjul

Di balik keceriaan mencicipi makanan baru, momen menjelang Idul Fitri selalu menjadi waktu yang emosional. Fatima merindukan keriuhan dapur di Banjul dan kehangatan sanak saudara. “Yang paling saya rindukan adalah berada bersama keluarga dan rasa kebersamaan yang sangat kuat. Di rumah kami biasanya menyiapkan makanan berbuka bersama, berbagi makanan, dan mengunjungi kerabat, yang membuat suasana terasa sangat hangat dan dekat,” kenangnya.

Baca Juga  20 Ide Buket Hari Guru 2025 Sederhana dan Murah untuk Semua Jenis Kelamin

Tahun lalu, Fatima melaksanakan shalat Idul Fitri seorang diri di masjid dekat kampus. Pengalaman itu diakuinya sangat mengharukan sekaligus menyesakkan dada. “Berada jauh dari keluarga di saat yang sangat penting membuat saya merasa cukup kesepian, terutama karena di rumah Id adalah tentang berkumpul bersama, berbagi makanan, dan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kita kasihi,” jelasnya.

Kini, Fatima hanya bisa bersabar sembari menuntaskan studinya. Ia berharap, dalam dua tahun ke depan, ia bisa kembali bersimpuh di pelukan keluarganya saat fajar Idul Fitri menyingsing. “Mungkin dalam 2 tahun lagi saya, insya Allah, walaupun itu belum tahu pasti,” pungkasnya menutup percakapan.


unnamed Fatima Gassama, Mahasiswi UIN Salatiga yang Rindu Pulang ke Afrika