Fathan Bengkulu Utara Lolos UI Tanpa Tes, Juara OSN Informatika

Kehidupan Fathan Rizky Janathan: Dari Bengkulu Utara ke UI Tanpa Tes

Fathan Rizky Janathan, seorang mahasiswa baru Teknik Metalurgi dan Material Universasi Indonesia (UI) angkatan 2025, menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih prestasi. Ia diterima di UI tanpa tes tertulis melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), yang merupakan pencapaian luar biasa bagi seorang anak dari keluarga sederhana.

Prestasi Sejak Sekolah Menengah Atas

Sejak SMA, Fathan sudah menunjukkan ketekunan dan semangat belajar. Ia memanfaatkan internet sebagai sumber utama pembelajaran. “Belajar otodidak saja, paling belajar dari internet atau YouTube,” ujarnya. Minatnya terhadap bidang Informatika mendorongnya untuk aktif dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN). Meski pada tahun 2023 ia belum berhasil meraih juara, ia tidak menyerah.

Pada tahun 2024, Fathan kembali mencoba dan berhasil meraih juara satu tingkat kabupaten dalam OSN bidang Informatika. Ia pun melanjutkan ke tingkat provinsi, meski sayangnya belum mendapat kesempatan lebih besar.

Beasiswa Penuh dan Dukungan Keluarga

Setelah diterima di UI, Fathan mendapatkan beasiswa penuh dari salah satu perbankan hingga lulus. “Alhamdulillah baru dapat beasiswa full dari BSI sampai 8 semester dan ada uang sakunya juga,” kata Fathan. Beasiswa ini menjadi penopang utama dalam menjalani studinya.

Dukungan keluarga juga sangat penting. Fathan adalah anak sulung dari tiga bersaudara, dengan ibu tunggal yang berjualan burger di Alun-alun Argamakmur, Bengkulu Utara. Novi Hartati, ibunya, menjual makanan sederhana untuk menghidupi tiga anaknya. Namun, biaya pendidikan Fathan menjadi beban berat baginya.

Adaptasi di Perantauan

Awalnya, Fathan sempat ragu mendaftar ke UI. Ia bahkan mempertimbangkan jurusan Teknik Geologi di UGM atau FTTM ITB. Namun akhirnya ia memilih UI dan dinyatakan lolos tanpa tes tertulis.

Baca Juga  Panduan Sambung Email Google di EMIS GTK 2025

Kini, Fathan sedang beradaptasi sebagai mahasiswa perantau. Untuk saat ini, ia hanya mengikuti satu organisasi kampus karena masih dalam tahap penyesuaian. “Kalau untuk saat ini kan memang baru semester awal ya jadi baru ikut satu organisasi aja. Tapi untuk tingkat kedua mungkin ini lebih pengen dibanyakin lagi organisasi,” katanya.

Bahagiakan Ibu

Cita-cita besar Fathan adalah membahagiakan ibunya. Baginya, ibunya adalah idola sekaligus inspirasi terbesar. “Perempuan bisa sekuat itu. Kadang saya ngerasa saya sendiri belum tentu bisa sekuat mama,” ujarnya. Keinginan untuk meningkatkan derajat keluarga menjadi motivasi utamanya.

Masalah Biaya Kosan

Biaya kosan di Jakarta menjadi tantangan tersendiri. Fathan mengakui bahwa biaya kos di sekitar kampus UI cukup mahal. “Itu termasuk yang paling murah. Rata-rata di sekitar sini itu udah di atas Rp 1,3 juta dan itu belum termasuk listrik,” ujarnya.

Ia sempat ditawari tinggal di asrama yang lebih murah, tetapi jaraknya jauh dari kampus dan harus melewati area hutan UI. Oleh ibunya, ia diminta untuk tinggal di kosan dekat kampus agar lebih fokus pada kuliah.

Rajin Ibadah dan Aktivitas di Masjid

Di sela aktivitas kuliah, Fathan sering menghabiskan waktu di masjid untuk beribadah sekaligus melepas lelah. Di bulan Ramadan, ia kerap berbuka di masjid jika tidak ada kegiatan kuliah. “Sebenarnya saya ngekos di dekat masjid. Cuma memang sering ke sini buat salat atau ibadah,” ujarnya.

Kisah Perjuangan Keluarga

Novi Hartati, ibu Fathan, setiap sore berdiri di Alun-alun Argamakmur, Bengkulu Utara, berjualan burger dengan gerobak sederhana. Dari sanalah ia menghidupi tiga anaknya. Sayangnya, pendidikan anak kedua Fathan terancam tersendat karena sering membantu sang ibu berjualan.

Baca Juga  Kemendikti Tetapkan Dua Guru Besar dan Empat Lektor Kepala di Unika St. Paulus Ruteng

“Anak kedua, antara sekolah dan tidak, karena membantu saya jualan. Katanya dia mau jualan saja untuk biaya kakak kuliah,” ujarnya. Novi mengaku kesulitan menghadapi biaya hidup yang semakin tinggi, terutama biaya kosan Fathan di Jakarta.

Kesimpulan

Fathan Rizky Janathan menjadi contoh nyata bahwa tekad dan semangat belajar bisa mengubah nasib. Dengan dukungan keluarga dan beasiswa penuh, ia terus berjuang untuk meraih cita-cita. Kisahnya menginspirasi banyak orang, terutama mereka yang memiliki latar belakang ekonomi terbatas.

unnamed Fathan Bengkulu Utara Lolos UI Tanpa Tes, Juara OSN Informatika