Mahasiswa ITS Ciptakan Alat Deteksi Dini TBC Berbasis Suara Batuk

Inovasi Teknologi Kedokteran dari ITS untuk Deteksi TBC Berbasis Suara Batuk

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan inovasinya dalam bidang teknologi kedokteran. Kali ini, mahasiswa program studi Teknologi Kedokteran ITS yang tergabung dalam tim TBCare mengembangkan alat deteksi Tuberkulosis (TBC) berbasis suara batuk. Inovasi ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya dalam mendeteksi penyakit TBC secara lebih cepat dan efisien.

Latar Belakang Pengembangan Alat

Pengembangan alat ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka penderita TBC di Indonesia. Tim TBCare memilih gejala utama TBC, yaitu batuk, sebagai dasar pengembangan metode deteksi. Dengan memanfaatkan suara batuk, alat ini menjadi pendekatan medis yang inovatif, hemat biaya, dan mudah diakses oleh masyarakat.

Tantangan dalam Penelitian

Meskipun alat ini memiliki potensi besar, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Ketua tim TBCare ITS, Cahya Romadhona, menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama adalah pengolahan sinyal batuk. Suara batuk yang bersifat inharmonik memiliki pola spektral yang tidak beraturan. Sementara itu, alat ini awalnya hanya fokus pada model deteksi batuk dengan fitur akustik seperti Mel-Frequency Cepstral Coefficients (MFCC).

Untuk mengatasi hal ini, Cahya dan tim memutuskan menggunakan metode deep learning agar dapat menangkap kompleksitas sinyal batuk secara lebih komprehensif. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan Yet Another Mel Spectrogram Network (YAMNet) untuk memvalidasi jenis suara. Model ini dinilai memiliki akurasi dan performa yang unggul dalam klasifikasi dan validasi suara batuk dalam berbagai kondisi lingkungan.

Perbedaan Antara Batuk TBC dan Non-TBC

Selain itu, tim TBCare juga melakukan sejumlah modifikasi pada arsitektur deep learning. Modifikasi ini dilakukan dengan ekstraksi fitur menggunakan MFCC lalu diproses sebagai input untuk model Long Short-Term Memory (LSTM). Tujuan dari modifikasi ini adalah untuk mencapai tingkat akurasi optimal dalam membedakan antara batuk TBC dan non-TBC.

Baca Juga  WHO Mengingatkan tentang Kekhawatiran Krisis yang Mendekat saat Resistensi Antibiotik Melebihi Pengobatan BaruDiterbitkan pada: 2 Oktober 2025 Pukul 12:59 PM

Integrasi dengan Sistem IoT

Berdasarkan model tersebut, tim TBCare juga merancang perangkat perekaman suara batuk yang terintegrasi dengan sistem Internet of Things (IoT). Alat ini dirancang agar dapat terhubung dengan basis data rumah sakit, sehingga proses pengiriman dan pengelolaan data medis dapat dilakukan secara efisien dan berkelanjutan.

Cahya menjelaskan bahwa perangkat ini memiliki kemampuan pra-skrining TB portable yang mudah dioperasikan oleh kader kesehatan di berbagai daerah. Inovasi solutif ini telah melewati uji validitas medis dengan capaian tingkat klasifikasi batuk tuberkulosis sebesar 76 persen.

Prestasi yang Diraih

Sistem ini juga menggunakan data primer dari 17 pasien di RS UNAIR dengan tingkat kesipterapan teknologi (TKT) 6. Atas prestasi gemilang ini, tim TBCare ITS meraih medali emas dalam Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa (Pimnas) 2025 lalu.

Kesimpulan

Inovasi dari tim TBCare ITS menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi solusi nyata dalam menghadapi masalah kesehatan masyarakat. Dengan pendekatan berbasis suara batuk dan integrasi teknologi IoT, alat ini membuka peluang baru dalam deteksi dini TBC, terutama di daerah-daerah yang kurang memiliki akses ke fasilitas kesehatan yang memadai.

unnamed Mahasiswa ITS Ciptakan Alat Deteksi Dini TBC Berbasis Suara Batuk