Dokter Berlayar ke Posko Banjir, Banyak Warga Terkena ISPA
MEDAN, Bisakimia
– Pada siang hari, dr Kiky terlihat sibuk melayani keluhan para pengungsi di MTsN 1 Langkat, Desa Pekubuan, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.
Dia datang untuk memberikan bantuan pengobatan bersama dua tenaga medis lainnya.
Dia adalah salah satu tenaga medis yang diturunkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumut untuk menjangkau posko yang sulit diakses.
“Kami ada delapan orang. Kemarin kami dibagi ke tiga titik, yaitu di Stabat, rest area Tanjung Pura, dan Koramil Hinai,” ujar Kiky saat diwawancarai pada Jumat (5/12/2025).
Sudah lebih dari seminggu ini, dia membantu pengobatan di posko Koramil Hinai.
Ia bekerja mulai malam hingga pagi hari.
Sementara itu, dari pagi sampai sore, berganti shift dengan tenaga medis dari puskesmas setempat.
“Jadi waktu pagi sampai sore itulah kami mencari titik posko yang tidak terjangkau. Artinya, yang terisolasi akibat banjir,” ujar Kiky.
Dia tiba di MTsN 1 Langkat dengan menggunakan sampan dan membawa obat-obatan seadanya.
Timnya didampingi dua petugas Puskesmas Pantai Cermin.
“Tinggi air di sini cukup tinggi. Kondisi pengungsi sangat memprihatinkan. Tadi kami tiba pukul 12 siang di sini. Banyak pengungsi yang mengeluh,” ujar Kiky.
“Ada orang tua yang menggigil, ada yang masuk angin, sakit kulit, gatal-gatal. Ada yang hamil enam bulan kondisinya lemas dan darah rendah. Anak-anak juga batuk, pilek, sesak napas. Rata-rata keluhannya adalah ISPA,” tambahnya lagi.
Dia bersama timnya telah mendata seluruh kelurahan tersebut dan memberikan obat-obatan.
Jika ada pengungsi yang kondisinya sangat memprihatinkan, akan dilarikan ke Rumah Sakit Bidadari.
“Data ini akan disampaikan ke dinas terkait agar segera diberi bantuan. Kami akan kembali sore ini karena harus ke posko Hinai lagi,” kata Kiky.
Pihaknya akan terus berjuang sekuat tenaga untuk mengobati pengungsi yang sedang sakit.
Harapannya, bencana ini segera berakhir agar kondisi masyarakat dapat kembali pulih.
Pantauan Bisakimia, kondisi pengungsi di MTsN 1 Langkat sangat memprihatinkan.
Ratusan warga memanfaatkan ruang kelas serta pendopo sebagai tempat beristirahat.
Lokasi ini masih terbilang terisolasi banjir. Sebab, akses jalan menuju ke sana masih tergenang air setinggi 60-80 cm.
Akibatnya, cara pengungsi untuk keluar mencari sembako beragam. Beberapa hanya mengandalkan kedua kakinya.
Ada pula yang menaiki perahu, rakit, atau menumpang kendaraan seperti mobil atau truk yang lewat.
Mayoritas warga mengungsi karena rumah mereka masih tergenang di Desa Pekubuan. Mereka sudah bertahan hidup di sana selama sepuluh hari.
Ratusan pengungsi yang terdiri dari anak-anak, lansia, orang tua, dan pemuda ini tidur di atas tikar tipis dan selimut seadanya.
Listrik mati, stok makanan menipis, minim air bersih, dan bantuan pemerintah belum juga tiba.
Kondisi Pengungsi yang Memprihatinkan
- Para pengungsi tinggal dalam kondisi yang sangat tidak layak.
- Ruang kelas dan pendopo digunakan sebagai tempat beristirahat.
- Banyak pengungsi mengalami gangguan kesehatan seperti ISPA, gatal-gatal, dan masuk angin.
- Terdapat ibu hamil dengan kondisi lemas dan darah rendah.
-
Anak-anak juga mengalami gejala batuk, pilek, dan sesak napas.
-
Akses ke lokasi pengungsi sangat terbatas.
- Jalan menuju MTsN 1 Langkat tergenang air setinggi 60-80 cm.
- Pengungsi harus berjalan kaki, naik perahu, rakit, atau menumpang kendaraan.
-
Keterbatasan akses menyebabkan kesulitan dalam mendapatkan bantuan.
-
Kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan listrik tidak terpenuhi.
- Stok makanan menipis dan tidak ada bantuan yang tiba.
- Listrik sering mati, membuat suasana gelap dan tidak nyaman.
- Minimnya pasokan air bersih meningkatkan risiko penyakit.
Upaya Bantuan Medis
- Tim medis berusaha maksimal untuk memberikan layanan kesehatan.
- Dokter dan tenaga medis melakukan kunjungan ke posko yang sulit dijangkau.
- Data pengungsi dikumpulkan dan disampaikan ke dinas terkait.
-
Pengungsi yang kondisinya parah dirujuk ke rumah sakit.
-
Kerja keras tenaga medis terus dilakukan meskipun dalam kondisi sulit.
- Waktu kerja dimulai dari malam hingga pagi hari.
- Berganti shift dengan tenaga medis dari puskesmas setempat.
- Keterbatasan alat dan obat-obatan membuat pekerjaan semakin berat.
Harapan Masyarakat
- Semua pengungsi berharap bencana segera berlalu.
- Agar kondisi kembali normal dan kebutuhan dasar terpenuhi.
-
Agar bantuan pemerintah segera tiba dan meringankan beban mereka.
-
Masyarakat berharap kehidupan bisa kembali stabil.
- Berharap bisa kembali ke rumah yang tidak tergenang.
- Berharap tidak ada lagi korban jiwa atau penyakit yang menyebar.
- The 7 processed foods scientists now tie to early cognitive decline, according to new research - December 16, 2025
- Kolaborasi Kalbe dan Kemendiktisaintek Dorong Hilirisasi Riset via RKSA - December 16, 2025
- Cahaya Kepedulian PLN, Bantu Guru Pondok Pesantren Darul Khoir Arrosyid - December 16, 2025




Leave a Reply