Cinta Ayah di Atas Rakit Galon: Lanaufar Tetap Sekolah Meski Banjir Menenggelamkan Kampung

Ayah Tunggal yang Mengantarkan Anaknya ke Sekolah dengan Rakit dari Galon Bekas

Di tengah genangan air laut yang setiap hari menggerogoti kampungnya, seorang ayah bernama Maksudi Rifai (45) memilih bertarung dengan cara paling sederhana namun paling mengharukan: ia mengantarkan anak bungsinya ke sekolah menggunakan rakit dari galon air mineral bekas. Video berdurasi 38 detik yang diunggahnya pada Rabu 19 November 2025 kini telah ditonton lebih dari dua juta kali dan membuat ribuan warganet menitikan air mata.

Warga Blok Condong, Desa Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, itu terlihat mendayung pelan sambil duduk di atas rakit rakitan. Di depannya, Lanaufar (13), siswi kelas VII MTs Negeri Kandanghaur, duduk manis dengan seragam Pramuka yang masih kering sempurna, tas di pangkuan, dan senyum malu-malu ke arah kamera ayahnya.

“Maaf ya Bu Guru kalau Lanaufar agak telat hari ini. Beginilah keadaan kami tiap hari,” ucap Maksudi lirih dalam video itu, suaranya terdengar bergetar menahan capek sekaligus bangga.

Banjir rob yang melanda wilayah pesisir utara Indramayu sejak akhir Oktober lalu kini semakin parah. Ketinggian air di Blok Condong mencapai 60–80 cm, membuat seluruh gang kampung berubah menjadi kanal dangkal. Motor tak bisa masuk, becak pun menyerah, hanya perahu dan rakit yang menjadi tumpuan warga.

Sebelum punya rakit, Maksudi terpaksa menggendong Lanaufar setiap pagi sejauh hampir satu kilometer hingga ke Jalan Pantura. “Sudah dua minggu badan saya pegal semua, takut jatuh pula. Akhirnya saya bikin ini dari kerangka ranjang besi bekas sama 20 galon air galon,” cerita Maksudi saat ditemui di teras rumahnya yang lantainya masih tergenang, Kamis 20 November 2025.

Baca Juga  Gus Ipul Dihiasi Puisi dan Pidato Bahasa Inggris Siswa Sekolah Rakyat Mojokerto

Rakit sederhana itu ia buat hanya dalam dua hari. Galon-galon diikat rapat dengan tali raffia, lalu ditopang rangka besi, lalu diberi alas triplek bekas. “Cukup kuat buat dua orang, Alhamdulillah belum pernah bocor,” katanya sambil tertawa kecil.

Setiap pukul 06.00 WIB, Maksudi sudah bangun menyiapkan rakit. Lanaufar naik dengan hati-hati, sepatu bot karetnya tetap dipakai sampai tiba di ujung banjir, baru kemudian diganti sepatu sekolah yang disimpan rapi dalam kantong plastik.

“Kadang teman-teman menertawakan, tapi saya bilang sama Lanaufar, yang penting kamu tetap sekolah. Ilmu itu lebih tinggi dari air rob,” tutur Maksudi sambil mengusap kepala putranya yang tersipu.

Warga sekitar kini banyak yang mencontoh cara Maksudi. Dalam seminggu terakhir, setidaknya lima rakit serupa sudah muncul di Blok Condong. “Pak Maksudi jadi inspirasi kami semua,” ujar Saepul (38), tetangga yang kini juga membuat rakit untuk mengantar anaknya ke SD.

Di balik senyum dan semangatnya, Maksudi menyimpan harapan yang sama yang diucapkan ribuan warga pesisir Indramayu selama puluhan tahun: solusi permanen dari pemerintah.

“Kami bukan minta dibuatkan perahu mewah, cukup tanggul yang benar-benar kuat atau pompa yang selalu hidup saat rob datang. Biar anak-anak kami bisa berangkat sekolah seperti anak-anak lain, pakai sepatu biasa, bukan sepatu bot,” pintanya dengan suara parau.

Sampai berita ini diturunkan, video Maksudi dan Lanaufar masih terus menyebar. Banyak warganet yang menuliskan doa sekaligus mengutuk kelambanan penanganan rob di Pantura.

Di tengah tangis dan tawa yang bercampur, satu hal yang pasti: cinta seorang ayah bernama Maksudi Rifai berhasil mengapungkan mimpi anaknya, walau hanya di atas rakit galon bekas.

unnamed Cinta Ayah di Atas Rakit Galon: Lanaufar Tetap Sekolah Meski Banjir Menenggelamkan Kampung