Pasbata: Kami Hadir untuk Efendi, Jangan Sampai Masa Depannya Hilang
Kepedulian Pasbata Prabowo Gunungkidul terhadap Bocah yang Harus Putus Sekolah
Pasukan Bawah Tanah (Pasbata) Prabowo wilayah Gunungkidul menunjukkan tindakan nyata dalam membantu bocah Ahmad Tri Efendi (10), yang tinggal di Jeruken, Girisekar, Panggang. Efendi harus meninggalkan sekolah untuk merawat kedua orang tuanya yang sedang sakit. Tindakan ini menjadi bukti kepedulian sosial dan semangat gotong royong yang luar biasa.
Bantuan Material dan Moril dari Pasbata
Pasbata memberikan dukungan baik secara moril maupun materiil kepada Efendi dan keluarganya. Bantuan yang diberikan berupa kebutuhan pokok seperti beras, minyak, serta berbagai kebutuhan harian lainnya. Rombongan Pasbata juga bertemu langsung dengan Slamet, ayah Efendi, untuk memberikan semangat dan dorongan agar bocah tersebut tetap bisa melanjutkan pendidikannya meskipun dalam kondisi keluarga yang sulit.
Efendi mengalami kondisi yang sangat berat. Ibu dari bocah ini mengalami lumpuh akibat stroke dan gangguan saraf, sementara ayahnya juga menderita gangguan saraf. Di usia yang masih belia, Efendi menjalani hari-hari dengan penuh tanggung jawab, mulai dari memberi minum hingga menjaga ibunya hingga larut malam.
Komitmen Pasbata untuk Membantu Efendi
Ketua DPC Pasbata Prabowo Gunungkidul, Martin, menyampaikan bahwa pihaknya tidak tinggal diam melihat kondisi tersebut. “Kami hadir untuk Efendi. Jangan sampai ada anak Indonesia yang kehilangan masa depan hanya karena kondisi keluarga. Ini panggilan kemanusiaan,” ujarnya dalam pernyataannya.
Selain itu, Pasbata Prabowo Gunungkidul juga mendorong agar Efendi bisa kembali bersekolah. Mereka siap berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk mencari solusi terbaik, baik dari sisi pendidikan maupun kesehatan keluarganya.
Peran Pemerintah Kabupaten Gunungkidul
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah menyatakan komitmen untuk membantu Efendi kembali bersekolah melalui pendekatan khusus. Selain itu, mereka juga memastikan kedua orang tuanya mendapat penanganan kesehatan yang layak.
Menurut Ketua RT setempat, Wahono, Efendi sempat bersekolah. Namun, saat naik dari kelas satu ke kelas dua, kondisi ibunya memburuk, dari kebutaan hingga gangguan saraf yang berujung pada lumpuh. Akibatnya, Efendi berhenti sekolah karena tidak ada dukungan dari orang tua yang keduanya sedang sakit.
Ayah Efendi juga mengalami gangguan saraf yang membatasi geraknya. Dalam kondisi itu, Efendi menjadi yang paling aktif merawat ibunya. “Fendi itu selalu merawat ibunya, memegangi, memberi minum. Kehadirannya bisa membuat ibunya tersenyum,” tambah Wahono.
Upaya untuk Mengembalikan Efendi ke Sekolah
Banyak upaya telah dilakukan agar Efendi kembali sekolah, mulai dari keluarga, pihak sekolah, hingga warga. Bahkan, ada tawaran sekolah gratis di panti asuhan di Bantul. Namun, Efendi menolak karena tidak ingin jauh dari ibunya.
“Kalau di panti pulangnya beberapa bulan sekali. Fendi tidak mau jauh dari ibunya,” kata Wahono.
Aksi ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial dan semangat gotong royong untuk memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan masa depan.
- Pasbata: Kami Hadir untuk Efendi, Jangan Sampai Masa Depannya Hilang - April 9, 2026
- Saturday Night Forecast: Unprecedented Heat and Drought - April 9, 2026
- RFK Jr’s Daily Routine: No Breakfast, Meditation With the Deceased - April 9, 2026




Leave a Reply