Ambisi Upie Guava di Balik Film Pelangi di Mars

Upie Guava dan Filosofi di Balik Film “Pelangi di Mars”

Sutradara ternama, Upie Guava, mengungkapkan alasan di balik pemilihan genre fiksi ilmiah atau sci-fi dalam film terbarunya, Pelangi di Mars. Film yang ditujukan untuk anak-anak ini resmi tayang di bioskop Indonesia mulai Rabu, 18 Maret 2026. Bagi Upie, genre sci-fi menjadi tolok ukur kemajuan imajinasi sebuah bangsa. Ia membawa misi besar mengenai masa depan sinema anak Indonesia lewat film Pelangi di Mars.

Kegelisahan di Balik Layar

Proyek film ini dimulai pada 2020 saat Upie Guava bertemu kembali dengan rekan lamanya, Dendi Reynando, dalam sebuah proyek film dokumenter Kemarin (2020). Meski keduanya sudah lama bersinergi sejak era grup band Seventeen, percakapan kali ini terasa lebih personal. Upie mengaku selama ini cukup selektif menerima kesepakatan layar lebar karena merasa ada yang “tertahan.”

“Saya inginnya ke layar lebar itu kayak dari ujung perjalanan, membawa sesuatu yang anak saya bisa nonton. Karena tawaran yang masuk kebanyakan film yang anak saya belum bisa akses,” ungkap Upie kepada Tempo pada Senin, 16 Maret 2026. Baginya, Pelangi di Mars adalah jawaban atas keinginan seorang ayah untuk memberikan warisan visual bagi generasi penerusnya.

AA1Z21ks Ambisi Upie Guava di Balik Film Pelangi di Mars

Sutradara film “Pelangi di Mars” Upie Guava (kiri) dan produser Dendi Reynando di kantor Tempo, Jakarta, 16 Maret 2026. Film ini mengisahkan perjuangan dan kegigihan seorang anak dalam menghadapi tantangan besar demi menyelamatkan dunia. Film keluarga Pelangi di Mars resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026. Tempo/Ijar Karim

Melawan Pragmatisme Digital

Upie menyoroti pergeseran cita-cita anak zaman sekarang yang cenderung pragmatis akibat distorsi media sosial. Jika generasi terdahulu tumbuh dengan mimpi menjadi astronot atau ilmuwan karena terinspirasi film seperti Star Wars atau karakter Tintin, ia melihat ada tren yang diarahkan pada anak-anak kini lebih fokus pada hasil instan tanpa proses.

Baca Juga  Lewiston Schools Close as City Issues Boil Water Advisory List

“Rata-rata anak zaman sekarang kalau sudah besar maunya jadi YouTuber. Sebenarnya bukan masalah profesinya, tapi landasannya: kerja sedikit, uang banyak. Mereka tidak lagi konsen tentang cara kerja atau bermanfaat,” tuturnya. Ia bahkan prihatin melihat fenomena anak sekolah dasar yang sudah sibuk menghitung kapan mendapatkan “1 miliar pertama” tanpa mempedulikan kontribusi mereka bagi peradaban.

AA1INtLA Ambisi Upie Guava di Balik Film Pelangi di Mars

Adegan di film Pelangi di Mars. Foto: Instagram.

Sains dan Proyeksi Masa Depan

Pemilihan genre fiksi ilmiah untuk Pelangi di Mars dianggap Upie sebagai langkah strategis untuk memicu kembali imajinasi kolektif. Menurutnya, sci-fi adalah tolok ukur sebuah negara dalam merancang masa depannya. Ia melihat Indonesia sebenarnya memiliki jejak jejak literasi sci-fi yang beragam di tahun 80-an, meski sering bercampur dengan elemen klenik.

“Dunia sci-fi itu sekarang menguasai Amerika, Jepang, Cina, hingga Korea. Proyeksi masa depan dari sisi teknologi secara tidak langsung berdampak pada peradaban. Kita ingin anak-anak punya dorongan ambil beasiswa, belajar astronomi, atau jadi ilmuan, bukan sebatas dagang saja,” ungkap sutradara yang mengawali kariernya dari jurusan desain produk itu.

Bintang Lintas Generasi di Momen Lebaran

Film yang diproduksi dengan visual megah ini menggandeng deretan aktor. Nama-nama seperti Rio Dewanto, Lutesha, Livy Renata, serta talenta cilik Myesha Lin dipastikan akan menghidupkan narasi petualangan antariksa ini.

Upie berharap, mempersembahkan momen Lebaran 2026 ini bisa menjadi ajang refleksi keluarga. “Saya percaya mimpi kolektif anak-anak akan membentuk peradaban. Kita menuju Indonesia Emas, dan lewat film ini, kami ingin membangun rasa percaya diri bahwa bangsa kita mampu merancang masa depan,” ujarnya.

unnamed Ambisi Upie Guava di Balik Film Pelangi di Mars