DPRD Perhatikan Kekurangan Guru di Semarang, Kualitas Pendidikan Siswa Terancam
Masalah Kekurangan Guru dan Tenaga Kependidikan di Sekolah Kota Semarang
Kondisi dunia pendidikan di Kota Semarang tidak berjalan dengan lancar. DPRD Kota Semarang menyoroti kekurangan guru dan tenaga kependidikan (tendik) yang masih terjadi di sejumlah sekolah bawah Dinas Pendidikan (Disdik) setempat. Hal ini menjadi perhatian serius bagi anggota dewan, khususnya Komisi D.
Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Sodri, menyampaikan bahwa masalah ini telah dikonfirmasi langsung oleh Kepala Disdik Kota Semarang, Muhammad Ahsan. Menurutnya, kekurangan jumlah pendidik memicu situasi yang memprihatinkan di lapangan. Beberapa guru terpaksa mengajar di beberapa kelas, sementara kepala sekolah bahkan harus merangkap sebagai Pelaksana Tugas (PLT) di sekolah lain.
Dampak pada Kualitas Pembelajaran
Sodri menjelaskan bahwa kebijakan rangkap jabatan ini berpotensi menurunkan efektivitas manajerial sekolah dan fokus pengajaran. Ia menekankan bahwa kompetensi pengajar di setiap kelas merupakan kunci utama keberhasilan pendidikan siswa. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah kota untuk menjadikan pemenuhan kuota guru sebagai prioritas utama.
Menyambut Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang akan segera datang, kesiapan sarana dan prasarana, termasuk sumber daya manusia, menjadi penting. “Ini adalah kebutuhan dasar yang sifatnya wajib, khususnya di sektor pendidikan,” ujar Sodri.
Langkah Penanganan Bertahap
Meskipun mengapresiasi langkah awal pengangkatan sebagian tenaga pendidik yang telah dilakukan, DPRD meminta proses ini tidak berhenti di tengah jalan. Penyesuaian anggaran pada perubahan anggaran berikutnya diharapkan mampu menutup celah kekosongan staf tata usaha (TU) hingga guru mata pelajaran.
“Harapan kita semua, kebutuhan guru kelas, guru mapel, hingga tendik seperti TU di seluruh sekolah bawah Disdik Kota Semarang bisa segera terpenuhi agar proses pembelajaran berjalan optimal,” tambah Sodri.
Tantangan yang Dihadapi
Beberapa tantangan yang dihadapi oleh sekolah-sekolah di Kota Semarang antara lain:
- Kurangnya jumlah guru yang menyebabkan banyak guru harus mengajar di beberapa kelas.
- Krisis kepemimpinan di sekolah, terutama di tingkat SD, di mana kepala sekolah juga harus bertindak sebagai PLT di sekolah lain.
- Kurangnya tenaga kependidikan, seperti staf tata usaha, yang memengaruhi pengelolaan administrasi dan kegiatan belajar-mengajar.
Upaya Pemerintah dan DPRD
Pemerintah Kota Semarang dan DPRD memiliki tanggung jawab bersama dalam menyelesaikan masalah ini. Mereka diminta untuk bekerja sama dalam mengatur anggaran dan memprioritaskan penambahan guru serta tenaga kependidikan. Selain itu, diperlukan koordinasi yang baik antara Dinas Pendidikan dan instansi terkait lainnya.
Kesimpulan
Masalah kekurangan guru dan tenaga kependidikan di Kota Semarang tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Diperlukan langkah-langkah konkret dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah ini. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan lembaga legislatif, harapan besar dapat tercapai dalam memenuhi kebutuhan pendidikan yang layak bagi seluruh siswa.




Leave a Reply