UNICEF Perangi Hambatan Imunisasi di Tanah Papua dengan Kampus Kesehatan
Pentingnya Pemahaman Gender dalam Layanan Imunisasi di Papua
UNICEF terus berupaya mendukung Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Tanah Papua dalam meningkatkan cakupan imunisasi. Namun, masalah gender sering kali menjadi hambatan dalam proses ini. Bukan hanya ketersediaan vaksin atau tenaga kesehatan yang menjadi kendala, tetapi juga peran dan tanggung jawab dalam mengurus anak serta pengambilan keputusan untuk membawa anak ke Puskesmas.
Untuk mengatasi hal ini, UNICEF mengundang pimpinan dan staf pengajar dari berbagai jurusan di lima kampus kesehatan di Provinsi Papua, Papua Barat, dan Papua Barat Daya, bersama dengan dinas kesehatan provinsi dan kabupaten di wilayah tersebut. Mereka mengikuti Workshop Institusionalisasi Materi Pentingnya Pemahaman Gender Terhadap Layanan Imunisasi Bagi Kampus Kesehatan yang diselenggarakan di Horison Hotel Kotaraja pada hari Selasa (10/3/2026).
Pada workshop ini, peserta yang umumnya berasal dari kampus kesehatan diberikan pemahaman tentang gender dan kaitannya dengan layanan imunisasi. Tujuannya adalah agar kampus-kampus kesehatan dapat memberikan kemampuan kepada mahasiswa calon tenaga kesehatan untuk memberikan layanan kesehatan yang peka terhadap gender di Papua. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan imunisasi dan cakupannya.
Health Officer UNICEF Papua, dr. Husny Muttaqin, menjelaskan pentingnya permasalahan gender dalam konteks kesehatan. Ia menyatakan bahwa angka kematian ibu, bayi, dan balita di Papua lebih tinggi dari rata-rata nasional. Untuk mencegah hal ini, ia menekankan perlunya memastikan ibu mendapatkan pemeriksaan yang memadai saat hamil, serta pertolongan terbaik saat melahirkan. Setelah lahir, pencegahan penyakit seperti melalui imunisasi juga sangat penting.

Menurut dr. Husny Muttaqin, cakupan imunisasi di Papua masih rendah. Penyebabnya bisa karena layanan kesehatan tidak tersedia, layanan yang ada tidak berkualitas, atau minat masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan yang rendah. Minat ini bisa dipengaruhi oleh masalah gender. Jika calon tenaga kesehatan memahami isu gender sejak dini, diharapkan masalah ini dapat teratasi.
Lebih lanjut, dr. Husny Muttaqin menjelaskan bahwa melalui pertemuan ini, diharapkan dapat ditemukan satu metode agar materi tentang gender dapat diterapkan di kampus kesehatan melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi – Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Arinus Weya S.KM, M.Kes, menjelaskan bahwa masalah gender sangat berperan dalam menentukan akses kesehatan anak. Selain faktor usia, status ekonomi, dan pendidikan, isu gender juga menjadi faktor penentu perilaku imunisasi pada anak, pencarian layanan kesehatan, dan manfaat kesehatan lainnya.
- Isu gender mencakup perilaku, peran, dan aktivitas yang diharapkan dari perempuan dan laki-laki di masyarakat, yang menjadi faktor penentu dalam akses layanan kesehatan.
- Pemahaman tentang gender akan membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi.
- Keterlibatan kampus kesehatan dalam edukasi gender diharapkan mampu menciptakan tenaga kesehatan yang lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat.




Leave a Reply