Bergaji besar di luar, alumni LPDP kembali ke Papua jadi guru
Perjalanan Voni Blesia: Dari Ilmu ke Tanah Air
Voni Blesia, seorang lulusan S3 dari University of Westminster, memilih untuk kembali ke Papua meskipun memiliki peluang hidup yang mapan di luar negeri. Alih-alih berkarier di laboratorium riset, ia memutuskan untuk terjun ke dunia pendidikan dan mengabdi di Papua Hope Language Institute (PHLI). Keputusan ini bukanlah tindakan impulsif, melainkan hasil dari kesadaran penuh bahwa ilmu harus kembali ke asalnya.
Pendidikan dan Kesehatan: Dua Sektor yang Tak Bisa Ditunda
Sekembalinya ke Papua, Voni tidak langsung terjun ke dunia riset atau laboratorium kesehatan seperti jalur akademiknya selama bertahun-tahun. Ia justru memilih bidang lain yang ia anggap sama krusialnya: pendidikan. “Saat kita bicara mengenai Papua, banyak sektor yang perlu dibenahi, tapi dua yang terlihat perlu diperhatikan adalah pendidikan dan kesehatan,” ujarnya.
Kini, Voni mengabdikan dirinya di Papua Hope Language Institute (PHLI), sebuah lembaga pendidikan yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua. Di sanalah, ia terlibat langsung dalam membekali generasi muda Papua agar siap melanjutkan studi ke luar negeri bukan hanya secara akademik, tetapi juga mental dan karakter.
Lahir dari Keterbatasan, Bertumbuh dengan Harapan
Meski kini menyandang gelar doktor, Voni tumbuh dari keluarga dengan keterbatasan yang nyata. Ia lahir di Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, pada 1990. Ayahnya tidak mengenyam pendidikan formal dan bahkan kesulitan membaca. Ibunya hanya menyelesaikan pendidikan hingga Sekolah Dasar. Namun keterbatasan itu tidak mematikan mimpi. Dengan sumber daya yang minim, ayah Voni bekerja di lingkungan pertambangan asing. Dari sana, ia berinteraksi dengan orang-orang berpendidikan tinggi, dari dalam dan luar negeri—sebuah pengalaman yang perlahan membentuk cara pandangnya.
“Jadi pemikiran terbuka yang dipengaruhi dari lingkungan pekerjaan serta lingkungan keluarga yang baik, berharap agar anak-anaknya mampu mendapatkan pendidikan yang tinggi meskipun dia tidak sekolah,” ungkap Voni.
Ia lalu menambahkan kalimat yang menjadi penanda kuat perjalanan keluarganya:
“Selain itu, biarlah bapa yang berasal dari dusun dan tinggal dengan kulit kayu ini dapat menghasilkan anak-anak yang jauh lebih baik.”
Hasil dari keyakinan itu nyata. Anak sulung keluarga ini menjadi PNS di Timika, anak kedua bekerja di sektor kesehatan di Kabupaten Biak, sementara Voni sendiri sempat bekerja di New Zealand dan merampungkan studi PhD.
Kehilangan yang Mengubah Arah Hidup
Perjalanan akademik Voni tak lepas dari pengorbanan. Saat masih duduk di bangku SMA, ibunya meninggal dunia akibat gagal ginjal. Kala itu, ia menyaksikan langsung buruknya akses layanan kesehatan di Papua. Peristiwa itu menjadi titik balik. Voni memilih jalur kesehatan sejak S1 dan terus bertahan hingga S3.
“Mungkin tidak harus menjadi dokter, tapi bahkan orang-orang yang bisa membuat kebijakan itu pun sangat membantu sekali,” katanya.
Untuk mengejar pendidikan, ia hijrah ke Timika, Papua Tengah, demi menyelesaikan SMP dan SMA—sebuah langkah besar bagi seorang anak muda dari Papua.
Menembus Dunia Lewat Program 1.000 Doktor
Kecerdasan Voni membawanya terpilih sebagai peserta angkatan pertama program “1.000 Doktor” yang digagas Gubernur Papua saat itu, Barnabas Suebu. Program ini bertujuan mencetak anak-anak Papua hingga jenjang doktor. Ia mengikuti pelatihan intensif di Karawaci, Jawa Barat, di bawah bimbingan Yohanes Surya, sebelum berangkat ke Coban University pada 2009 untuk menempuh S1 Ilmu Kesehatan.
Kesempatan kuliah di luar negeri sejak S1 adalah prestasi langka bahkan bagi banyak anak di Pulau Jawa. Namun kenyataan di negeri orang tak selalu indah. Persiapan bahasa Inggris yang singkat membuat Voni sempat merasa tak siap.
“Melihat kemampuan bahasa Inggris yang menurut saya seharusnya saya tidak bisa berangkat. Tapi ya dengan kerja keras kemudian akhirnya bisa mendapatkan hasil (bahasa) yang sangat baik,” kenangnya.
Kerja keras itu berbuah manis. Ia lulus dengan predikat cumlaude pada Mei 2013.
Perempuan Papua dan Arti Pendidikan Tinggi
Bagi Voni, pendidikan tinggi memiliki makna lebih dalam karena ia adalah perempuan Papua. Ia ingin menjadi contoh bahwa mimpi tidak berhenti di batas stigma.
“Bahwa kata orang kita (perempuan) selalu kembalinya di dapur, ya itu kan role kita yang lain gitu. Tapi hal itu tidak membatasi kita untuk menggapai impian kita,” tegasnya.
Kembali ke London, Menjemput Doktor
Setelah S1, Voni melanjutkan S2 di King’s College London pada 2013 dengan jurusan Biopharmaceuticals. Tantangan baru muncul: adaptasi aksen British, lingkungan akademik cepat, dan masa studi yang singkat.
“Jadi memang berkuliah itu sendiri susah, tapi kalau kita punya komunitas yang tepat itu pasti sangat baik untuk membantu kita survive dan berkembang,” ujarnya.
Pada 2016, ia kembali ke London untuk S3 melalui beasiswa LPDP. Disertasinya membahas kelebihan glukosa dan zat besi sebagai pemicu diabetes tipe-2, dan penelitiannya terbit di jurnal PubMed pada Mei 2021.
Pulang dan Mengabdi: Pendidikan sebagai Pintu Perubahan
Setelah lulus, Voni memilih pulang ke Papua. Baginya, tanah ini harus terus melahirkan manusia-manusia kritis demi kemajuan sumber daya manusia. Pendidikan menjadi jalannya.
“Kita punya banyak ide-ide, tapi apakah itu kritis dengan mengambil semua pertimbangan, semua faktor, karena kita biasanya berpikir hanya pertimbangan satu ini saja, gitu,” ungkapnya.
Ia juga berpesan: “Tinggalkan kenyamanan karena kita di daerah sendiri, berhenti punya sikap kegengsi-gengsian. Harus embrace dengan kehidupan modern dan siap berkompetisi agar tidak tertinggal.”
Sejak 2020, Voni menjadi pengajar sekaligus kepala student life di kelas matrikulasi PHLI kelas khusus bagi anak-anak asli Papua lulusan SMA yang dipersiapkan kuliah ke luar negeri.
“Kami membuka recruitment bagi setiap anak Papua mulai yang bersekolah di kota maupun yang di kampung. Kami mempost link di social media platform dan siapa saja bisa mengaksesnya,” terangnya.
Dari Kesehatan ke Pendidikan, Tanpa Kehilangan Makna
Meski kini tak lagi bekerja langsung di dunia medis, Voni melihat pergeseran perannya sebagai kesinambungan. “Saya melihat seperti gelar saya ini sudah berpindah dari kesehatan ke pendidikan, yang mana pendidikan juga sangat penting sekali di Papua,” ucapnya.
Ilmu sains dan kesehatan yang ia miliki kini hidup kembali di ruang kelas menjadi bekal berpikir bagi generasi Papua berikutnya. “Lagipula proses selama S1 sampai S3 juga bagian dari pendidikan itu sendiri sehingga semuanya satu kesatuan yang melengkapi,” tandasnya.
- IDI Riau Buka Kesempatan Diskusi Dokter RSUD Tengku Rafian Siak tentang Kesetaraan Gaji - March 30, 2026
- Your Core Routine Is Incomplete Without These Oblique Exercises - March 30, 2026
- Mengapa Lutut Saya Memar Akibat Berlari? - March 30, 2026




Leave a Reply