Siswa SLB Kembar Karya Pembangunan III Jual Takjil Secara Mandiri

Siswa SLB Kembar Karya Pembangunan III Berjualan Takjil di Luar Sekolah

Di tengah kesibukan warga Bekasi Selatan, sebuah lapak takjil berdiri di tepi Jalan Komodo Raya, Kayuringin Jaya, Kamis (26/2/2026) sore. Di balik meja jualan itu, sejumlah siswa SLB Kembar Karya Pembangunan III tampak sibuk melayani pembeli dan menawarkan dagangan dengan bahasa isyarat, didampingi para guru. Mereka terlihat antusias dan semangat menjajakan aneka takjil hasil racikan sendiri.

Meski memiliki keterbatasan sebagai penyandang tunarungu, para siswa tersebut tetap cekatan menawarkan dagangannya kepada warga yang melintas. Selama aktivitas berjualan, mereka juga didampingi para guru tercinta.

Belajar Wirausaha dari Awal

Kepala SLB Kembar Karya Pembangunan 3, Vivi Sukmawati, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar berjualan biasa, melainkan bagian dari pembelajaran kewirausahaan yang diterapkan pihak sekolah. Aktivitas tersebut dinilainya bagian dari proses belajar siswa untuk mengenal dunia usaha secara langsung.

“Ini anak-anak saya, kebetulan hari ini yang piket tunarungu semua. Jadi mereka lagi melaksanakan pembelajaran sebenarnya, bukan jualan semata,” kata Vivi saat ditemui di lokasi.

Vivi menjelaskan, sebelum para siswa berjualan di bawah tenda berukuran kurang lebih 2×1 meter itu, mereka terlebih dahulu diarahkan untuk belanja bahan ke pasar. Selanjutnya, mereka diarahkan para guru untuk mengolah makanan, lalu memasak, dan diakhiri memasarkan hasilnya kepada masyarakat.

Terpantau, ada beberapa jenis takjil yang ditawarkan, di antaranya risol, lontong, pisang cokelat, puding, spageti, siomay, kulit lumpia krispi, telur asin, hingga puding.

Bangun Percaya Diri dan Kemandirian

Vivi memaparkan, dalam satu hari jumlah siswa yang terlibat bervariasi, mulai dari tiga hingga lima orang. Kegiatan ini menjadi pengalaman perdana bagi pihak sekolah membawa siswa berjualan langsung ke luar lingkungan sekolah. Upaya itu diharapkan dapat membangun rasa percaya diri para siswa.

Baca Juga  Hidup Seperti Berkendara Sepeda Einstein

“Awalnya kepercayaan diri mereka kurang, karena ini hal baru. Apalagi mereka sadar punya keterbatasan,” paparnya.

Selain itu, Vivi juga ingin membuktikan kepada khalayak luas bahwa siswa SLB tidak berbeda dengan anak pada umumnya. Melalui kegiatan ini, pihak sekolah juga ingin menghapus stigma negatif terhadap anak berkebutuhan khusus.

“Kami ingin menunjukkan bahwa anak SLB itu tidak berbeda. Mereka juga mampu,” tegasnya.

Sekolah yang berdiri sejak tahun 1986 ini memang berkomitmen untuk mendorong kemandirian siswa. Vivi mengaku, pengalaman mendengar keluhan alumni yang kesulitan mendapatkan pekerjaan menjadi motivasi utama digelarnya program ini.

“Banyak yang setelah lulus datang ke saya, ‘Ibu, saya harus kerja apa?’ Itu yang menggores hati saya,” ucapnya.

Menurut Vivi, masih banyak perusahaan yang belum membuka ruang bagi penyandang disabilitas. Karena itu, pihak sekolah berupaya membekali siswa dengan keterampilan agar mampu menciptakan peluang kerja sendiri.

“SLB itu memandirikan siswa. Jadi dengan kegiatan seperti ini, mereka bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri,” lugasnya.

Apresiasi Pembeli

Sementara itu, seorang pembeli, Novi (42), mengaku bangga melihat semangat para siswa tersebut. Ia menilai, kualitas produk yang dijual tidak kalah dengan takjil pada umumnya.

“Cara buatnya sama, hasilnya juga sama seperti orang pada umumnya. Prosesnya luar biasa,” kata Novi.

Novi juga mengaku tidak mengalami kesulitan saat berkomunikasi dengan para siswa. Menurutnya, interaksi justru menjadi pengalaman belajar tersendiri bagi pembeli.

“Tidak kesulitan komunikasi sih, kami justru juga jadi belajar bahasa isyarat sedikit-sedikit, jadi ngerti maksudnya,” imbuhnya.

Novi berharap kegiatan seperti ini terus dikembangkan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.

“Harapannya terus dikembangin. Warga juga harus ikut serta. Bahkan perlu dukungan lebih luas untuk ruang disabilitas, terutama di bidang wirausaha,” tutup Novi.

Baca Juga  Wisuda Kreatif UKSW, Kepala LLDIKTI VI Puji Kualitas Lulusan

Pengalaman Siswa

Menanggapi aktivitas itu, seorang siswa, Safira (16) mengaku senang dapat dilatih untuk memasak, mengolah, dan menjual hasilnya.

“Senang bisa jualan, senangnya karena ada yang beli,” ucap Safira.

Safira pun berharap para guru di sekolahnya dapat terus menggelar agenda seperti ini karena bermanfaat bagi para siswa.

“Pengennya ada terus biar bisa berjualan terus,” pungkasnya.


unnamed Siswa SLB Kembar Karya Pembangunan III Jual Takjil Secara Mandiri