Kisah Doktor Voni Blesia yang Kembali ke Papua untuk Membentuk Generasi Kritis

Latar Belakang dan Perjalanan Voni Blesia

Voni Blesia (36) adalah seorang lulusan doktor di bidang Biomedical Science dari University of Westminster, London. Gelar ini bukan hanya pencapaian akademik pribadi, tetapi juga menjadi mandat untuk pulang ke tanah kelahirannya, Papua. Sebagai alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Voni memutuskan kembali ke Papua dengan kesadaran penuh.

Meski memiliki latar belakang keilmuan kesehatan yang kuat, Voni kini memilih mengabdi di sektor pendidikan melalui Papua Hope Language Institute (PHLI). Menurutnya, saat membicarakan Papua, dua sektor utama yang perlu dibenahi adalah pendidikan dan kesehatan. Pendidikan, menurutnya, adalah pintu masuk bagi masyarakat Papua untuk berkembang pesat.

Tumbuh dalam Lingkungan yang Terbatas

Lahir di Sorong pada 1990, Voni tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang pendidikan formal yang terbatas. Ayahnya tidak bersekolah, bahkan untuk membaca pun tidak terlalu lancar. Sementara ibunya hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Namun, lingkungan kerja sang ayah di sektor pertambangan asing membuka cakrawala bahwa pendidikan adalah kunci perubahan nasib.

Dengan modal sumber daya yang terbatas, ayah Voni bisa bekerja di lingkungan pertambangan asing dan mengembangkan diri di sana. Dia bertemu dengan orang-orang dengan latar pendidikan tinggi baik dari dalam maupun luar negeri, membuat pemikiran sang ayah menjadi terbuka. “Jadi pemikiran terbuka yang dipengaruhi dari lingkungan pekerjaan serta lingkungan keluarga yang baik, berharap agar anak-anaknya mampu mendapatkan pendidikan yang tinggi meskipun dia tidak sekolah,” ungkap Voni.

Perjalanan Akademik yang Penuh Pengorbanan

Perjalanan akademik Voni penuh pengorbanan. Saat masih duduk di bangku AS, ibunya meninggal dunia karena penyakit gagal ginjal. Inilah yang memantik Voni untuk memilih jurusan kesehatan sejak S1 sampai terus bertahan di S3. “Mungkin tidak harus menjadi dokter, tapi bahkan orang-orang yang bisa membuat kebijakan itu pun sangat membantu sekali,” katanya.

Untuk mewujudkan mimpinya itu, Voni hijrah ke Timika, Provinsi Papua Tengah untuk menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA)-nya.

Baca Juga  Cara Terbaik untuk Mempelajari Bahasa pada Tahun 2025

Melanjutkan S1 ke Luar Negeri

Voni memang dikenal sebagai siswa yang cerdas. Dia terpilih menjadi peserta angkatan pertama program “1.000 Doktor” yang dicanangkan oleh Gubernur Barnabas Suebu kala itu. Program ini bertujuan untuk mencetak banyak anak-anak Papua yang mengenyam pendidikan tinggi hingga doktor. Mereka yang lolos proses seleksi dan rekrutmen kemudian dikirim mengikuti training persiapan di bawah asuhan langsung Yohanes Surya yang dikenal sebagai tokoh pendidikan peduli anak-anak Papua.

Di Karawaci, Jawa Barat itulah Voni bersama rekan-rekan Papua lainnya mendapatkan bekal pendidikan hingga akhirnya berangkat ke Coban University mengambil Ilmu Kesehatan pada tahun 2009 untuk gelar Sarjananya. Baginya, kesempatan berkuliah di luar negeri sejak S1 adalah sebuah tanda akan prestasi dan privilese yang gemilang.

Melanjutkan S2 di Luar Negeri

Setelah lulus, Voni sebenarnya ingin langsung melanjutkan ke jenjang S2 lagi. Namun terkendala peraturan pemerintah daerah yang belum memberi kesempatan lagi. Setelah berhasil meyakinkan pihak-pihak pemerintah daerah terkait bahwa S2 yang ingin ia tempuh akan punya dampak kontribusi bagi perkembangan Papua, lampu hijau kembali ke Inggris menyala.

Voni resmi berangkat ke London lagi dengan mengambil Biopharmaceuticals di King’s College London pada 2013. Tantangan baru kembali dihadapinya lagi. Dia dituntut cepat belajar aksen British sementara sebelumnya telah mati-matian belajar Inggris aksen Amerika. Belum lagi lingkungannya yang bagaimanapun harus perlu ada adaptasi segera dalam waktu cepat mengingat kuliah S2 di Inggris hanya setahun saja.

Beasiswa S3 dengan LPDP

Mudah bagi Voni untuk mengetahui adanya beasiswa LPDP yang mampu mewujudkan keinginannya untuk merampungkan jenjang studi S3. Dia bercerita, kala itu Voni mendengar pendaftaran LPDP dari beberapa rekan dan orang-orang lainnya. “Saya dengar dari percakapan-percakapan orang seperti itu, kemudian cari-cari di internet dan kemudian apply sendiri,” ungkapnya.

Pada 2016, alumni SMA Negeri 1 Timika ini kembali ke London. Di sana dia mengambil gelar PhD bidang Biomedical Science dari University of Westminster. Gelar S3-nya itu berhasil tercapai melalui disertasinya tentang kelebihan glukosa dan zat besi yang bisa memicu diabetes tipe-2. Penelitian disertasi Voni juga terbit dalam jurnal PubMed berjudul “Excessive Iron Induces Oxidative Stress Promoting Cellular Perturbations and Insulin Secretory Dysfunction in MIN6 Beta Cells” pada Mei 2021.

Baca Juga  Ramadan Mengaji SMA Se-Derajat di Sulsel Berlanjut Luring, Siswa Pelajari Tajwid Al-Qur'an

Memilih untuk Pulang ke Papua

Setelah lulus S3, Voni memutuskan untuk pulang ke Papua. Dia merasa, sebagai orang yang mengenyam pendidikan di luar negeri, dia harus memberikan kontribusi ke tanah airnya. Papua menjadi tempatnya mengabdi karena menurutnya wilayah ini harus berkembang dan terus memproduksi orang-orang kritis untuk pembangunan sumber daya manusia guna meraih kemajuan.

Namun, Voni memilih untuk mengabdi di bidang pendidikan. Menurut Voni, pendidikan adalah pintu masuk bagi masyarakat Papua untuk berkembang pesat. Hal ini karena pendidikan mampu memunculkan pemikiran kritis dan itu yang dibutuhkan Papua saat ini, termasuk dengan adanya beasiswa LPDP.

Pengabdiannya di Papua Hope Language Institute (PHLI)

Pengabdiannya itu berlabuh ke Papua Hope Language Institute (PHLI). Sejak 2020, dia menjadi pengajar sekaligus kepala student life di kelas matrikulasi dan membantu pengurusan pemerintah. Kelas matrikulasi adalah kelas khusus yang berisi anak-anak asli Papua lulusan SMA untuk disiapkan dalam melanjutkan pendidikan sarjana ke luar negeri.

“Kami membuka recruitment bagi setiap anak Papua mulai yang bersekolah di kota maupun yang di kampung. Kami mempost link di social media platform dan siapa saja bisa mengaksesnya,” terang Voni. Di sini, para murid yang mendapatkan pendanaan dari pemerintah daerah ini nantinya akan digembleng dengan berbagai materi pembekalan terutama kemampuan bahasa Inggris dengan berjenjang.

Mereka juga diajarkan tentang pembentukan rohani, kepemimpinan, pendidikan karakter, dan penekanan identitas sebagai orang Papua. Setelah melewati program persiapan universitas ini, mereka yang mampu mendapatkan standar skor Duolingo & baik secara akademik dinyatakan layak melanjutkan pengenalan materi kuliah langsung yang diampu oleh George Fox University sebagai partner.

Alasan Pindah Haluan dari Kesehatan ke Pendidikan

Kegiatan di tempat kerja Voni nampaknya memang jauh dari dunia kesehatan seperti yang ditekuni dari S1 hingga S3 terakhir. Dia kini justru berkecimpung di dunia pendidikan. “Saya melihat seperti gelar saya ini sudah berpindah dari kesehatan ke pendidikan, yang mana pendidikan juga sangat penting sekali di Papua,” ucap Voni.

Baca Juga  Komunitas NTT Buka 50 Beasiswa untuk Siswa di 10 Kabupaten

Dengan perannya sebagai pengajar sains dan kesehatan inilah segala materi dan wacana pengetahuannya hingga PhD ini menjadi punya arti yang mendalam saat disampaikan kepada anak-anak didiknya di sana. Menurut Voni, melalui kualitas sumber daya yang tinggi, bisa sangat membantu dalam proses pekerjaan pendidikan saat ini. “Lagipula proses selama S1 sampai S3 juga bagian dari pendidikan itu sendiri sehingga semuanya satu kesatuan yang melengkapi,” imbuhnya.

unnamed Kisah Doktor Voni Blesia yang Kembali ke Papua untuk Membentuk Generasi Kritis