Puskesmas Ende Tanpa Dokter, DPRD Temukan Dinding Ruang Obat Retak
Peninjauan DPRD Kabupaten Ende ke Dua Puskesmas yang Masih Kekurangan Tenaga Kesehatan
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ende, Flavianus Waro bersama Ketua Komisi III DPRD Ende, Megy Sigasare melakukan peninjauan langsung ke dua dari lima puskesmas yang belum memiliki dokter. Peninjauan ini dilakukan untuk menindaklanjuti masalah ketiadaan tenaga kesehatan di sejumlah puskesmas di Kabupaten Ende.
Dalam kunjungan tersebut, mereka mengunjungi Puskesmas Ndona dan Puskesmas Ngalupolo. Kedua puskesmas ini ditemukan masih mengalami berbagai tantangan serius, mulai dari kekurangan tenaga kesehatan hingga kerusakan fisik bangunan.
Kekurangan Tenaga Kesehatan di Puskesmas Ndona
Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Ende, Megy Sigasare menjelaskan bahwa saat monitoring di Puskesmas Ndona, keduanya menemukan bahwa fasilitas kesehatan tersebut belum memiliki tenaga dokter, dokter gigi, perawat gigi, tenaga rekam medis, apoteker, asisten apoteker, maupun tenaga gizi.
“Saat ini di Puskesmas Ndona hanya tersedia perawat, bidan, dan tenaga analis. Padahal kebutuhan pelayanan masyarakat terus meningkat,” ujar Megy.
Selain kekurangan tenaga kesehatan, Puskesmas Ndona juga masih minim sarana dan prasarana penunjang pelayanan, seperti meubeler, pendingin ruangan (AC), alat tulis kantor (ATK), komputer, hingga printer serta sejumlah sarana prasarana penunjang lainnya.
Ironisnya, sejak diresmikan beberapa waktu lalu, jumlah kunjungan masyarakat ke Puskesmas Ndona terus mengalami peningkatan. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan jika tidak segera ditangani.
Kerusakan Fisik di Puskesmas Ngalupolo
Di Puskesmas Ngalupolo, dua anggota DPRD Kabupaten Ende masing-masing dari Partai NasDem dan Partai Golkar itu menemukan adanya retakan pada dinding ruangan penyimpanan obat. Kerusakan tersebut dinilai berpotensi membahayakan keamanan dan kualitas penyimpanan obat-obatan, sehingga perlu segera diperbaiki.
Puskesmas Ngalupolo sendiri saat ini melayani satu desa, sehingga secara jangkauan pelayanan relatif lebih terfokus. Namun, tantangan utama di wilayah ini adalah kondisi geografis yang cukup sulit.
Wilayah pelayanan Puskesmas Ngalupolo mencakup daerah seperti Reka, Kekasewa, dan Nila yang memiliki medan berat dan akses yang tidak mudah dijangkau. Karena itu, DPRD Kabupaten Ende menilai kendaraan operasional puskesmas perlu disesuaikan dengan kondisi topografi. Mobil puskesmas di wilayah tersebut sebaiknya menggunakan kendaraan 4×4 double gardan agar pelayanan kesehatan dapat menjangkau seluruh masyarakat secara maksimal.
Langkah yang Diusulkan oleh DPRD
DPRD Kabupaten Ende, kata Megy Sigasare, mendorong Pemerintah Kabupaten Ende melalui Dinas Kesehatan untuk melakukan pemerataan tenaga dokter dan tenaga kesehatan di seluruh puskesmas. “Jangan sampai ada dokter dan tenaga kesehatan yang menumpuk di satu puskesmas, sementara masih ada puskesmas lain yang sama sekali tidak memiliki dokter,” tegas Megy.
Selain itu, DPRD juga mendorong pemerintah daerah untuk memberikan dukungan biaya pendidikan bagi putra-putri daerah asal Ende Lio Nage yang sedang menempuh pendidikan kedokteran. Salah satu skema yang diusulkan adalah bantuan biaya kuliah bagi mahasiswa kedokteran yang telah memasuki semester lanjut, misalnya semester empat hingga selesai studi. Setelah lulus, mereka diharapkan mengabdi di Kabupaten Ende untuk menjawab kekurangan tenaga dokter di daerah.
DPRD berharap berbagai persoalan tersebut segera ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah demi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kabupaten Ende, terutama di wilayah-wilayah yang masih mengalami keterbatasan tenaga dan fasilitas kesehatan.




Leave a Reply