Pameran Pendidikan Bali Nusra 2026 Buka Wawasan Pendidikan Tinggi di NTT
Talk Show Bali Nusra Education Fair 2026: Pendidikan Tinggi yang Inklusif dan Relevan
Pada hari kedua Bali Nusra Education Fair 2026, suasana Atrium Lippo Plaza Kupang semakin ramai dengan hadirnya talk show inspiratif yang dihadiri oleh para pemimpin perguruan tinggi. Acara ini berlangsung selama 30 menit penuh semangat dan dipandu oleh host Annie Toda.
Dalam talk show tersebut, hadir dua tokoh penting yaitu Direktur Universitas Terbuka Kupang, Dr. Albert Gamot Malau, S.Si., M.Si., dan Direktur Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Johanis A. Jermias, S.Pt., M.Sc. Diskusi yang berlangsung dinamis dan interaktif mencerminkan antusiasme generasi muda NTT terhadap pendidikan tinggi.
Para pengunjung tampak sangat antusias dalam menyimak paparan dari para pembicara. Banyak pertanyaan dan saran yang dilontarkan, mulai dari sistem pembelajaran hingga peluang kerja setelah lulus.
Visi dan Misi Universitas Terbuka
Dr. Albert Gamot Malau menjelaskan bahwa Universitas Terbuka (UT) memiliki misi untuk memberikan akses pendidikan tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat. UT didirikan pada 4 September 1984 berdasarkan Keputusan Presiden Soeharto dengan tujuan agar masyarakat dapat menikmati pendidikan tinggi.
Ia menambahkan bahwa UT diberi mandat oleh kementerian untuk meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia. Dengan sistem pembelajaran jarak jauh, UT mampu menjangkau mahasiswa hingga ke pelosok daerah.
“UT termasuk salah satu perguruan tinggi berbadan hukum dengan biaya di bawah satu juta rupiah. SPP kami sekitar 900 ribuan. UT adalah universitas ke-23 yang berbadan hukum, sehingga kualifikasinya setara dengan UI, UGM dan lainnya,” ujarnya.
Ia optimistis bahwa masyarakat NTT memiliki peluang besar untuk mengenyam pendidikan tinggi tanpa terkendala biaya. UT juga telah menerapkan kurikulum Outcome Based Education (OBE), yang memastikan setiap lulusan memiliki kompetensi yang jelas saat menyelesaikan studi.
Pendidikan Vokasi di Politeknik Pertanian Negeri Kupang
Sementara itu, Direktur Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Johanis A. Jermias, menekankan perbedaan mendasar antara pendidikan akademik dan vokasi. Ia menjelaskan bahwa di universitas lain lebih fokus pada aspek filosofis keilmuannya, sedangkan di politeknik lebih pada aspek keterampilannya.
“Kurikulum kami 60–70 persen adalah praktikum, sisanya 30–40 persen teori,” ungkapnya. Metode pembelajaran yang diterapkan juga mengikuti perkembangan zaman melalui project based learning. Mahasiswa diberi kesempatan merancang, melaksanakan, hingga mempertanggungjawabkan sebuah proyek, sehingga aspek teknis dan nonteknis dipelajari secara bersamaan.
Menurutnya, dengan adanya program pemerintah seperti swasembada pangan dan Makan Bergizi Gratis (MBG), peluang kerja di sektor pertanian semakin terbuka lebar.
“Peluang kita di bidang pertanian untuk mendukung program ini dengan menciptakan SDM yang kompeten sangat besar, artinya peluang kerja sangat besar,” ujarnya optimistis.
- Pameran Pendidikan Bali Nusra 2026 Buka Wawasan Pendidikan Tinggi di NTT - March 17, 2026
- ‘Bagaimana Saya Mengetahui Saya Menderita Miokarditis’: Pengalaman Seorang Pria Berusia 46 Tahun dengan Gagal Jantung Setelah Terinfeksi COVID - March 17, 2026
- Pemda KSB Siapkan Rp5 Miliar dan Akses Ke 6 Kampus Top untuk Mahasiswa - March 17, 2026




Leave a Reply