Gen Z Peduli Lingkungan, Cuan dan Berdayakan Komunitas

Inspirasi dari Bunga Telang dan Mangrove

Revalina Fernanda, seorang siswa kelas VIII SMPN 1 Surabaya, menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan melalui budidaya bunga telang. Bunga bernutrisi tinggi ini tidak hanya menjadi pakan ternak, tetapi juga memiliki manfaat sebagai obat tradisional. Prestasi yang diraih oleh Reva membawa dampak positif, hingga dua kampung di Surabaya mengikuti jejaknya dalam membudidayakan bunga biru bernama latin Clitoria ternatea.

Saat ditemui di sekolahnya pada 16 Februari 2026, Reva sedang menata pot yang baru saja ditanami bunga telang di taman SMPN 1 Surabaya. Di depan taman terdapat meja yang memamerkan produk-produk inovasi dari bunga telang, seperti hand sanitizer, face mist, dan sabun cair.

Ketertarikan Reva terhadap tanaman bunga tersebut dimulai saat ia duduk di bangku kelas IV SD pada 2022 lalu. Saat itu, ia melihat tanaman merambat dengan bunga ungu yang menarik perhatian. Setelah mendapat informasi tentang manfaatnya, Reva memutuskan untuk membudidayakan bunga telang lebih banyak agar kualitas udara tetap terjaga.

Reva kemudian mengusulkan ide budidaya bunga telang kepada gurunya di SDN Tandes Kidul I Surabaya. Usulan tersebut diterima dan budidaya dimulai dari sekolah. Awalnya, hanya 50 bibit telang yang ditanam di pot-pot kecil. Dengan perawatan yang memadai, tanaman itu mulai merambat hingga menghasilkan ratusan kuntum bunga hanya dalam tiga bulan.

Melihat hasil yang baik, Reva mengajukan proyek ini dalam kompetisi Pangeran-Putri Lingkungan Kota Surabaya. Hasilnya, Reva berhasil menjadi juara Favorit pada 2023. Melalui penghargaan tersebut, Reva memberikan pelatihan budidaya bunga telang di dua kampung di Surabaya. Saat memberikan pelatihan, Reva dibantu oleh para finalis Putra-Putri Lingkungan Surabaya.

Awalnya, Reva sempat diremehkan karena usianya yang masih muda. Untuk membuktikan kemampuannya, Reva berinovasi dalam pengajaran. Dari situ, warga mulai antusias dan akhirnya percaya bahwa budidaya telang bisa menjadi produk UMKM yang menghasilkan cuan.

Dari pelatihan itu, dua kampung tersebut kini memiliki usaha budidaya telang. Darinya lahir inovasi produk UMKM seperti minuman dan camilan yang berasal dari bunga telang.

Reva kembali membawa ide budidaya telang saat memasuki jenjang pendidikan selanjutnya di SMPN 1 Surabaya. Sekolah tersebut menyediakan lahan khusus sebagai tempat budidaya telang. Selain itu, Reva mencari inovasi lain dari bunga telang. Berdasarkan literatur yang ia baca, bunga telang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga mengandung antioksidan dan antimikroba.

Baca Juga  Siswa Sentolo Dapat Telur Busuk, BGN Kulon Progo Akan Tegur SPPG

Dari hasil googling tersebut, Reva mencoba membuat face mist, sabun cair, dan hand sanitizer dari bunga telang. Untuk menghasilkan produk-produk tersebut, Reva melibatkan air mawar untuk face mist, cairan kimia untuk sabun, dan lidah buaya untuk hand sanitizer. Jika ada pameran UMKM, produk-produk tersebut rutin diproduksi.

Kepala SMPN 1 Surabaya, Eko Widayani, menyatakan melihat konsistensi Reva. Ia juga pembina di SDN Tandes Kidul I Surabaya. “Syukur akhirnya Reva bisa menularkan kepedulian lingkungan kepada teman-temannya sekarang,” ucapnya.

Sementara ibu Reva, Yuki Aprianova, mengaku setia menemani putrinya dalam pengembangan minat kepedulian lingkungan. Termasuk jika harus mengikuti lomba-lomba inovasi dan persiapannya. “Saya sampai berhenti kerja karena ingin terus menemani anak saya satu-satunya ini,” kata Yuki.

Kepedulian terhadap Mangrove

Terpisah, Adinda Putri Kusumawardhani di Pasuruan juga menunjukkan kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Dia, yang juga berada dalam kelompok Gen Z, mendukung pelestarian mangrove dan memberdayakannya untuk pengolahan makanan ringan hingga kopi non-kafein.

Cerita Adinda melestarikan tanaman mangrove berawal dari pandemi COVID-19 pada 2020 lalu. Saat itu, Adinda yang masih duduk di bangku kelas X SMAN 1 Purwosari harus bersekolah secara daring.

AA1X7KZe Gen Z Peduli Lingkungan, Cuan dan Berdayakan Komunitas

Adinda Putri Kusumawardhani, mahasiswi asal Pasuruan, Jawa Timur, menunjukkan buah mangrove yang bisa diolah dan dipasarkannya sebagai penganan keripik dan kopi non-kafein. Dok. Pribadi

Merasa bosan di rumah saja, Adinda memutuskan untuk sesekali mengisi waktu di rumah kakek-neneknya di kawasan Nguling. Kawasan itu dikenal sebagai budidaya mangrove, tepatnya di Pantai Penunggul yang berbatasan langsung dengan Selat Madura.

Mengaku sedang healing, Adinda melihat sampah berserakan di kawasan pantai itu. Tak terkecuali buah mangrove yang berjatuhan dan menjadi sampah. “Saya berpikir, apakah buah mangrove ini enggak ada manfaatnya? Apakah hanya tanamannya saja yang bermanfaat?” cerita perempuan berusia 21 tahun ini saat ditemui pada 20 Februari 2026.

Adinda pun mulai mencari tahu tentang manfaat buah mangrove lewat internet. Setelah ditelusuri, buah mangrove jenis Rhizophora mucronata yang tumbuh di Pasuruan bisa dijadikan berbagai makanan dan minuman. Dari sekian produk yang bisa dihasilkan, Adinda tertarik kopi non-kafein karena beberapa alasan. Pertama, ayahnya adalah pecinta kopi, namun kafein pada kopi bisa berdampak buruk pada tubuh jika berlebihan. Kedua, Adinda menyukai kopi berperisa yang sayangnya kerap membuat lambungnya bermasalah.

Baca Juga  Mahasiswa Teknokrat Tampil di KMI Expo 2025 Magelang

”Warga salah satu daerah di Nusa Tenggara Timur ternyata pernah mendapat pelatihan ini dan dipublikasikan di internet. Jadi saya mempelajarinya lewat tutorial yang dijelaskan pada artikel itu,” ucap mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Jember (Unej) ini.

Adinda menjelaskan bahwa kopi dari buah mangrove harus dibuat dengan penuh kesabaran karena prosesnya yang rumit dan memakan waktu. Awalnya, buah mangrove yang sudah matang dan jatuh ke tanah diambil lalu direndam menggunakan air kapur untuk menghilangkan racunnya. Proses perendaman ini memakan waktu tiga hari. Setelah itu baru dikupas dan bijinya dijemur di bawah terik matahari supaya benar-benar kering.

Biji mangrove yang kering lalu dihaluskan dan disaring. Kemudian, bubuk mangrove ditambahkan bubuk kopi robusta atau arabica dengan perbandingan sesuai selera. “Kalau hanya bubuk dari buah mangrove saja, rasanya akan hambar. Jadi lebih baik ditambahkan bubuk kopi atau blend,” ujarnya.

Tak hanya dimanfaatkan sebagai kopi, Adinda juga mengolah buah mangrove menjadi penganan keripik. Seluruh proses kreasi ini dibantu oleh lima teman dan kedua orang tuanya. Ketika produknya sudah jadi, Adinda dan kedua orang tuanya mempromosikan kopi dan keripik itu ke warga sekitar.

Produk olahan dari buah mangrove itu diakuinya sempat dicemooh karena sebagian warga menilai bahwa buah itu berbahaya. ”Ceritanya dulu memang pernah ada monyet yang berkeliaran di kebun mangrove itu dan dia suka makan buahnya. Monyet itu ternyata mati dan setelah itu warga menganggap bahwa buah mangrove itu beracun,” tuturnya.

Adinda tak putus asa. Dia beralih berjejaring dengan pelestari mangrove di Pasuruan dan mengenalkan produknya. Tidak lama setelah itu, Adinda mendapat kesempatan untuk mempresentasikan produknya ke Bagian Corporate Social Responsibility PLN dan akhirnya dapat pendanaan untuk mengembangkan produknya.

Setelah mendapat pendanaan dan memproduksi dalam jumlah banyak, produk Adinda mulai diterima oleh warga sekitar. Bahkan, produk yang dinamai Macaro itu juga memperoleh izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Usaha bisnis kopi non kafein dan keripik buah mangrove juga mendapat dukungan dari beberapa organisasi non-pemerintah. Seperti PLAN Indonesia dan Save the Children.

Baca Juga  Margaret Atwood fears her dystopian novel can 'now happen anywhere'

Saat ini, Adinda malah telah berhasil menggandeng pemuda karang taruna dan ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat untuk membuat, mempromosikan, dan menjual produk mangrove. Adinda menilai bahwa dua kelompok ini bisa sebagai perantara untuk mengentaskan kemiskinan dan mencegah patriarki di keluarga.

”Kawasan Nguling itu tinggi pernikahan dini dan kemiskinan,” katanya, “Dengan memberikan pemuda dan ibu-ibu penghasilan melalui produk ini, saya berharap mereka perlahan terlepas dari belenggu kemiskinan dan patriarki itu.”

Kini, produk kopi dan keripik mangrove Adinda telah dipasarkan secara luas melalui penjualan online. Adinda dan kelima temannya juga kerap memberi pelatihan pembudidayaan mangrove ke sekolah-sekolah dan organisasi. “Saya berharap bisa menularkan semangat pembudidayaan mangrove ke masyarakat yang lebih luas lagi di luar Pasuruan dan luar Jawa Timur.”

unnamed Gen Z Peduli Lingkungan, Cuan dan Berdayakan Komunitas