Dari Polewali ke Dunia: Doktor UNASMAN Ciptakan ‘Mata Elang’ AI untuk Kakao

Teknologi AI untuk Membangkitkan Kembali Industri Kakao Indonesia

Pada hari Kamis siang, 26 Februari 2026, ruangan di lantai 4 Gedung JK SCA Kampus Teknik Universitas Hasanuddin dipenuhi oleh wajah-wajah yang penuh ketegangan dan haru. Di depan layar proyektor, grafik dan citra daun kakao terpampang, menampilkan bercak-bercak kecil yang bagi sebagian orang tampak sepele, namun bagi para peneliti bisa berarti kegagalan panen. Di hadapan dewan promotor dan penguji, Ir. Basri, S.Kom., MT., M.I.Kom., IPM, berdiri tenang. Ia mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pendekatan Visi Komputer untuk Industri 4.0 pada Budidaya dan Produksi Pengolahan Kakao.” Di ruangan itu, masa depan kakao Indonesia sedang dipertaruhkan dalam bentuk algoritma.

Ketika AI Turun ke Kebun

Indonesia pernah menjadi salah satu raksasa kakao dunia. Namun dalam dua dekade terakhir, produktivitas menurun akibat penyakit tanaman, kualitas biji yang tidak konsisten, serta lemahnya kontrol mutu pascapanen. Basri melihat persoalan itu bukan sekadar isu pertanian, melainkan celah teknologi. Ia memperkenalkan arsitektur Deep Learning bernama YOLOv11-Hybrid. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi penyakit mikro pada daun kakao melalui kamera smartphone atau drone. Layaknya mata elang digital, model tersebut mampu mengenali gejala dini yang kerap luput dari pengamatan manual petani.

Inovasi itu tidak berhenti di hulu. Pada sektor hilir, ia mengonversi parameter Standar Nasional Indonesia SNI 2323:2008 ke dalam algoritma Machine Learning. Artinya, mutu biji kakao dapat diklasifikasi secara digital dengan tingkat akurasi tinggi, menggantikan metode manual yang rentan subjektivitas. Pendekatan ini membangun sistem holistik: dari deteksi penyakit di kebun hingga penjaminan kualitas di pabrik pengolahan.

Pendekatan Inklusif dalam Teknologi

Yang membuat riset ini berbeda adalah pendekatannya yang inklusif. Basri menegaskan bahwa teknologi tersebut tidak eksklusif untuk korporasi besar. Sistem dapat diimplementasikan di koperasi petani menggunakan perangkat terjangkau seperti Raspberry Pi. Di sinilah demokratisasi AI terjadi, ketika kecerdasan buatan tidak lagi milik laboratorium mahal, melainkan alat kerja petani.

Baca Juga  Najwa Shihab dan Nicholas Saputra Bagikan Inspirasi di Un-Class Session Generasi Campus Medan

Riset Lokal, Dampak Global

Dalam sidang terbuka itu, Basri menyampaikan harapannya agar inovasi ini dapat diadopsi kementerian dan pelaku industri. Targetnya jelas: memperkuat hilirisasi dan mengembalikan daya saing kakao Indonesia di pasar dunia. Model hybrid yang ia kembangkan juga memberikan kontribusi akademik global. Deteksi objek mikro dengan presisi tinggi selama ini menjadi tantangan dalam pengolahan citra. Dengan pendekatan arsitektur yang ia rancang, akurasi meningkat tanpa memerlukan perangkat komputasi kelas atas.

Langkah ini sejalan dengan agenda transformasi digital pertanian dan visi Indonesia Emas 2045, khususnya pada sektor ketahanan pangan dan agroindustri cerdas.

Pesan yang Lebih Besar

Di balik gelar doktor yang diraih, ada pesan yang lebih besar. Bahwa inovasi tidak selalu lahir dari pusat-pusat riset metropolitan. Dari kampus biru di Polewali Mandar, gagasan tentang visi komputer dan biji kakao bisa menembus forum akademik dan berpotensi menjangkau pasar global.

Ruang sidang itu akhirnya hening ketika palu keputusan diketuk. Gelar doktor resmi disematkan. Namun yang sesungguhnya dimulai justru setelahnya: perjalanan membawa algoritma keluar dari layar presentasi menuju kebun-kebun kakao di seluruh Indonesia.

Dari satu ruang di Makassar, gema itu bergerak pelan. Dan jika teknologi ini benar-benar mendarat di tangan petani, mungkin di situlah kebangkitan kakao Indonesia dimulai kembali.

unnamed Dari Polewali ke Dunia: Doktor UNASMAN Ciptakan 'Mata Elang' AI untuk Kakao