Melihat Disabilitas Netra Membaca Al-Quran Braille di Kudus

Membaca Al-Quran dengan Braille: Kehidupan Disabilitas Sensorik Netra di Panti Pelayanan Sosial Pendowo
Di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, para disabilitas sensorik netra menunjukkan ketangguhan mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Meskipun tidak memiliki penglihatan, mereka tetap bisa mengaji Al-Quran melalui rabaan menggunakan Al-Quran braille. Kegiatan ini dilakukan di Panti Pelayanan Sosial Pendowo yang berada di bawah naungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah.
Kegiatan Mengaji Al-Quran Braille
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa sejumlah disabilitas sensorik netra berkumpul untuk melakukan kegiatan mengaji Al-Quran braille pada hari Kamis (26/2) pagi. Mereka terdiri dari 16 siswa putra dan tujuh siswi putri yang berusia antara 15 hingga 50 tahun. Mereka ditempatkan di sisi selatan Musala Qurattul ’Ain untuk siswa putra dan sebelah utara untuk siswi putri, masing-masing didampingi tiga orang guru.
Kegiatan dimulai dengan membaca bersama beberapa surat, seperti Surat Al-Fatihah, Surat At-Takasur, Surat Al-Humazah, Surat Al-‘Asr, Surat Al-Fil, Surat Quraisy, dan Surat Al-Ma’un. Selain itu, mereka juga membaca Surat Al-Kausar, Surat An-Nasr, Surat Al-Lahab, Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, Surat An-Nas, serta beberapa ayat Surat Al-Baqarah. Setelah itu, setiap siswa secara bergantian membaca Al-Quran.

Cara Mengaji yang Berbeda
Mengaji Al-Quran braille bukan hanya dilakukan saat Ramadan, tetapi juga setiap malam Jumat dan Rabu pagi. Selama satu jam, puluhan disabilitas netra mengaji dengan cara meraba huruf braille. Al-Quran yang digunakan juga berhuruf braille.
Jari-jemari mereka meraba tiap huruf hijaiyah braille yang terdapat pada setiap halaman Al-Quran. Mereka tampak lihai meraba huruf braille sambil mengucapkan lafaz surat-surat Al-Quran.
Menurut Yosi Susanto, pembimbing baca tulis Al-Quran braille, huruf braille yang tertera merupakan huruf braille yang sudah menjadi hijaiyah. Mirip seperti braille huruf abjad, tetapi ada yang disesuaikan. Misalnya, braille huruf A menjadi alif, B menjadi ba, dan seterusnya.

Kepedulian dan Kepekaan Siswa
Yosi menyampaikan bahwa anak-anak tidak mengalami kesulitan selama mengaji Al-Quran braille. Mereka sudah memiliki kepekaan pada area tangan. Namun, faktor usia kadang memengaruhi kepekaan tangan. Ia tetap membantu anak-anak sampai mereka bisa membaca Al-Quran braille.
Siswa yang belum paham biasanya diajari dan dites berulang-ulang sehingga mereka mengerti. Seiring waktu, mereka mampu mempelajari Al-Quran braille dengan baik. Al-Quran braille didapatkan dari Dinas Sosial Jawa Tengah sebagai fasilitas untuk para disabilitas sensorik netra.
Kegiatan Lain di Panti
Selain kegiatan mengaji Al-Quran braille, ada pelajaran lain yang dilakukan di panti, seperti bimbingan agama Islam, kajian fikih, kajian tafsir, dan hadis. Mata pelajaran umum seperti kewarganegaraan dan bahasa Indonesia juga diberikan.

Kehidupan Harian di Panti
Puluhan disabilitas sensorik netra sehari-harinya bermukim di panti. Totalnya ada 50 siswa. Mereka mendapatkan jatah libur setiap Sabtu dan Minggu. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Kudus, Kendal, Blora, Semarang, dan daerah lainnya.
Pihak panti membuka kesempatan bagi disabilitas sensorik netra yang hendak bergabung. Syaratnya berusia 15-50 tahun, tidak memiliki cacat ganda, hanya disabilitas netra, serta mampu mandiri. Calon siswa harus memiliki surat keterangan sebagai disabilitas sensorik netra dari Dinsos tingkat kabupaten dan desa domisili, surat keterangan sehat dari puskesmas, serta membawa biodata diri dan kartu BPJS Kesehatan.

Pengalaman Siswa
Salah seorang disabilitas sensorik netra, Akhsan Muliyono, mengatakan dirinya sudah setahun berada di panti. Ia senang setiap kali membaca Al-Quran braille. Meski awalnya sulit, kini ia mulai terbiasa.
“Terkadang kepekaan tangan berkurang. Tetapi sedikit demi sedikit bisa mengikuti,” ucapnya.
Ia menyampaikan, ada perbedaan antara huruf braille pada abjad dengan huruf braille hijaiyah. Namun, ia yakin mampu mengikuti.

Harapan dan Kebiasaan
Hal serupa diutarakan oleh disabilitas sensorik netra, Desi Handayani. Perempuan asal Sukoharjo itu sudah dua tahun berada di panti. Ia sempat mengalami kesulitan membaca Al-Quran braille. Namun, perlahan ia mulai beradaptasi dan mampu mengikuti.
“Saya hafalkan huruf hijaiyah braille-nya sedikit demi sedikit. Mulai tanda bacanya, harakat, dan yang lainnya. Alhamdulillah bisa mengikuti,” ucapnya.
Adanya mengaji Al-Quran semoga dapat meningkatkan daya baca anak-anak dan menjadi ladang pahala bagi mereka. Kegiatan ini akan terus berlanjut sebagai kebutuhan dasar dan pedoman seorang muslim.




Leave a Reply