Menara Pendidikan Tinggi: Mimpi Kampus Dunia di Tengah Jeritan KIP

Januari 2026: Mimpi Besar Presiden Prabowo Subianto di Lancaster House

AA17MrJC Menara Pendidikan Tinggi: Mimpi Kampus Dunia di Tengah Jeritan KIP

Di tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto berdiri di depan para profesor dari universitas-universitas elite Inggris seperti Oxford dan Cambridge. Di Lancaster House, London, ia melukis mimpi besar untuk Indonesia. Rencananya megah: membangun 10 universitas baru dengan standar dunia, fokus pada kedokteran, farmasi, sains, dan teknologi (STEM). Bahasa Inggris akan menjadi pengantar, dan mahasiswa terbaik akan mendapatkan beasiswa penuh. Ini adalah lompatan besar yang bertujuan mengejar ketertinggalan. Namun, mari kita lihat realitas yang sesungguhnya di tanah air.

Surplus Kampus, Defisit Mutu

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan kampus. Kita memiliki lebih dari 4.200 perguruan tinggi, hampir tiga kali lipat jumlah universitas di China. Namun, kualitasnya tidak sebanding. Dari ribuan itu, hanya sekitar 226 kampus yang menyandang akreditasi unggul. Sementara banyak yang lain hidup segan mati tak mau. Anggota Komisi X DPR, Abdul Fikri Faqih, sudah mengingatkan bahwa Indonesia sedang surplus perguruan tinggi, tetapi mutu institusi rendah. Banyak mahasiswa menjadi korban dari kualitas yang buruk.

Membangun 10 kampus baru di atas fondasi ribuan kampus yang bocor kualitasnya terasa seperti membangun hotel bintang lima di tengah pemukiman yang kekurangan air bersih. Mengapa pemerintah tidak fokus pada akuisisi atau merger? Mengapa harus menambah beton baru saat atap kampus lama masih bocor?

KIP Kuliah: Mimpi yang Terpangkas

Pendidikan tinggi seharusnya menjadi tangga bagi masyarakat miskin untuk naik kelas. Namun, kenyataannya sungguh pahit. Tahun 2026, kuota Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) dipastikan tidak akan naik. Angkanya tetap sama: sekitar 220 ribu mahasiswa baru. Padahal, pendaftarnya setiap tahun mencapai 900 ribu orang. Artinya, ada sekitar 700 ribu anak bangsa yang harus pulang dengan tangan hampa.

Baca Juga  Mekanisme Seleksi BCKS 2025: Kriteria, Verifikasi, dan Kelulusan

Ironisnya, untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), negara sanggup menggelontorkan dana hingga Rp335 triliun. Sofyan Tan dari DPR menyentil dengan tajam: mengapa untuk KIP-K hanya ada Rp15 triliun? Tambahan Rp5 triliun saja bisa membuat ratusan ribu orang tua tersenyum bangga melihat anaknya menjadi sarjana.

Antara Piring Makan dan Bangku Kuliah

Saat ini, anggaran pendidikan sedang menjadi medan tempur kepentingan. UU APBN 2026 digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) oleh para guru dan dosen karena program Makan Bergizi Gratis “diselundupkan” masuk ke dalam pos anggaran pendidikan 20 persen. Dalam hitungan para penggugat, anggaran pendidikan murni hanya tersisa sekitar 11,9 persen saja. Sisanya digunakan untuk urusan logistik pangan. Anak yang lapar tentu sulit belajar.

Namun, apa gunanya anak yang kenyang jika kursi kuliah mereka dijual mahal? Di daerah seperti Dompu, Aceh Utara, dan Sumedang, gaji guru PPPK paruh waktu bahkan ada yang hanya ratusan ribu per bulan karena anggaran daerah yang tercekik kebijakan pusat.

Eksklusivitas di Atas Kebutuhan Riil

Presiden Prabowo benar bahwa kita butuh dokter. Kita kekurangan 140 ribu dokter. Kita hanya sanggup mencetak 9.000 lulusan per tahun. Membangun kampus kedokteran baru memang rencana strategis. Namun, standar internasional dengan pengantar bahasa Inggris ini berisiko menciptakan kasta baru. Siapa yang sanggup menembus standar IELTS dan seleksi ketat itu? Sering kali, kemampuan bahasa asing berkorelasi linear dengan status ekonomi keluarga. Anak petani di pelosok tentu harus berjuang sepuluh kali lebih keras dibanding anak pejabat di Jakarta.

Akses yang Belum Merata

Data menunjukkan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi kita baru berada di kisaran 32,9 persen pada 2025. Kita masih tertinggal jauh dari Thailand dan Vietnam yang sudah menyentuh 45 persen. Kesenjangan ini sejatinya adalah bom waktu. Pendidikan tinggi di Indonesia masih dianggap sebagai beban, bukan investasi. Alokasi anggaran untuk Kementerian Pendidikan Tinggi hanya sekitar 8 persen atau Rp61 triliun dari total dana pendidikan. Sebagian besar uang itu habis untuk bantuan operasional dan beasiswa KIP-K yang kuotanya tak kunjung ditambah.

Baca Juga  Tas Unik Warnai Hari Tanpa Ransel di SMPN Dander, Siswa Bawa Sangkar Burung hingga Ban Truk

Di sisi lain, kampus-kampus negeri terus didorong menjadi Badan Hukum (PTN-BH) yang ujung-ujungnya menaikkan tarif UKT untuk menutup biaya operasional. Rakyat menengah yang tak masuk kategori miskin, tapi tak cukup kaya pun, kian terjepit di tengah-tengah.

AA1X6EwV Menara Pendidikan Tinggi: Mimpi Kampus Dunia di Tengah Jeritan KIP

Sebuah Catatan Akhir

Mimpi Presiden Prabowo untuk membawa standar Oxford ke Indonesia adalah niat yang mulia. Kita ingin SDM kita mumpuni secara internasional. Kita ingin riset kita berdampak nyata bagi industri. Namun, kemajuan tidak boleh hanya milik segelintir elite semata. Pendidikan bukan sekadar soal statistik peringkat dunia atau gedung-gedung laboratorium yang wangi. Pendidikan adalah tentang keadilan akses.

Apa gunanya 10 kampus baru yang mentereng jika di saat yang sama 700 ribu anak pendaftar KIP-K disuruh pulang dan berhenti bermimpi? Jangan sampai kita terlalu sibuk memoles wajah pendidikan untuk dunia, tetapi lupa menyembuhkan luka di kaki pendidikan dalam negeri. Membangun manusia adalah pekerjaan yang sunyi dan panjang. Ia butuh lebih dari sekadar beton dan janji beasiswa untuk “lulusan terbaik”. Ia butuh negara yang hadir untuk mereka yang paling lemah.

AA19KeQv Menara Pendidikan Tinggi: Mimpi Kampus Dunia di Tengah Jeritan KIP

Jika kita sanggup memberi makan gratis bagi jutaan anak, seharusnya kita juga sanggup memastikan bangku kuliah tidak hanya menjadi milik mereka yang berdompet tebal. Pendidikan tinggi harus tetap menjadi jembatan nasib, bukan dinding pemisah yang semakin tebal.

AA1X6zGW Menara Pendidikan Tinggi: Mimpi Kampus Dunia di Tengah Jeritan KIP

unnamed Menara Pendidikan Tinggi: Mimpi Kampus Dunia di Tengah Jeritan KIP