Siswa SATP Mimika Jadi Petani Sukses Raup Ratusan Juta dari Pertanian Modern

Program Edupreneur di SATP Mimika: Kombinasi Pertanian Hidroponik dan Pendidikan Kewirausahaan

Program Edupreneur yang diterapkan oleh Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) Timika telah menjadi contoh sukses dalam menggabungkan pendidikan kewirausahaan dengan sistem pertanian modern. Dengan fokus pada pengembangan sistem hidroponik untuk tanaman pakcoy dan selada, program ini tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga memperkuat kemampuan berpikir kritis siswa melalui proses ilmiah.

Pendapatan yang Menghasilkan

Selama dua tahun berjalan, program ini telah mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp200 juta. Hasil panen sayuran tersebut disuplai kepada mitra pangan PT Freeport Indonesia. Siswa-siswi SATP melakukan berbagai tahapan dalam proses pertanian, mulai dari pengadaan bibit, penyemaian, perawatan, hingga panen dan penjualan. Proses ini dilakukan secara rutin dan menjadi bagian dari pembelajaran praktis.

Metode Pembelajaran Sains

Selain belajar bertani, siswa juga diajak untuk melakukan proses ilmiah seperti mengolah data pertumbuhan tanaman dan membuat grafik. Hal ini membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan rasa ingin tahu mereka. Menurut Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Kurikulum SMP SATP Mimika, Elpianus Paat, rata-rata hasil panen sekali kali bisa mencapai 100 kilogram. Sayuran ini dijual dengan harga Rp50.000 per kilo kepada kontraktor PT Namo Jaya Timika, yang kemudian menyalurkannya ke Pangan Sari PT Freeport Indonesia.

Awal Mula Program

Program ini bermula dari kunjungan seorang ahli hidroponik, Leroy, dari PT Freeport Indonesia (PTFI), yang melihat aktivitas Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah. Saat itu, para siswa sedang melakukan praktik penanaman hidroponik sebagai bagian dari pembelajaran. Diskusi berlanjut hingga akhirnya Leroy mengirimkan tenaga ahli, Okto Magai, yang membangun Green House dan menyediakan semua perlengkapan serta peralatannya. Selain itu, ia juga mendatangkan beberapa karyawannya untuk melatih anak-anak dan guru-guru di SATP.

Baca Juga  Berapa Iuran BPJS Kesehatan Tahun 2026? Ini Rincian Lengkapnya

Setelah satu hingga dua bulan pendampingan, anak-anak kemudian dilepas. Namun, kerja sama tetap berjalan, di mana seluruh hasil panen dijual kembali kepada pihak mitra, PT Namo Jaya Timika milik Okto Magai.

Fasilitas dan Kapasitas Produksi

Lahan seluas 40 x 25 meter di SATP mampu menghasilkan 100 kg sayur sekali panen. Di dalamnya terdapat 20 meja tanam hidroponik. Satu meja memiliki 100 lubang, setiap lubang menghasilkan 1 kg sayur. Untuk keperluan proyek ini, bibit dan pupuk AB mix khusus untuk tanaman hidroponik masih bisa diperoleh di Timika. Namun, salah satu kendala adalah ketersediaan plastik UV yang sering habis. Oleh karena itu, SATP bekerja sama dengan yayasan dan meminta bantuan dari Yayasan Pusat di Jakarta, meskipun biaya tetap dibebankan kepada sekolah.

Penanaman di Bedeng-Bedeng Pertanian

Selain hidroponik, siswa juga melakukan penanaman di bedeng-bedeng pertanian di area sekolah, seperti terong dan tanaman lainnya. Ini menjadi bahan perbandingan metode tanam dan memberikan wawasan lebih luas tentang berbagai teknik pertanian.

Kepala SATP: Pembelajaran Sains yang Intensif

Kepala SATP, Sonianto Kuddi, menyambut baik program ini karena selaras dengan pembelajaran sains. Anak-anak dilibatkan secara langsung dalam proses ilmiah, mulai dari menanam, mengukur pertumbuhan tanaman, mengolah data, membuat grafik, hingga menarik kesimpulan dari hasil pengamatan. Dari proses ini, rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis siswa berkembang dengan kuat.

“Anak-anak bisa mengolah data lalu dibuat dalam bentuk grafik. Dari grafik itu mereka bisa membuat satu kesimpulan. Ternyata kita ada mengalami kerugian di sini, atau tanamannya kurang tumbuh. Kenapa? Di situlah rasa ingin tahu ingin menanyakan lebih lagi itu muncul dari anak-anak. Jadi ada proses sains yang sangat kuat dalam program ini,” ujarnya.

Baca Juga  Permainan papan tentang sejarah Roma untuk sekolah dan perpustakaan, diluncurkan di Rumania

Ia berharap siswa dapat menerapkan pengetahuan ini di rumah masing-masing nantinya setelah lulus. Dengan lahan yang luas dan bekal keterampilan hidroponik, mereka diharapkan mampu memenuhi sendiri kebutuhan sayur keluarga, bahkan mengembangkannya menjadi usaha yang bernilai ekonomi.

YPMAK: Lembaga Nirlaba yang Berkomitmen

YPMAK adalah lembaga nirlaba yang dipercaya untuk mengelola dana kemitraan dari PT Freeport Indonesia (PTFI). Dana ini dialokasikan untuk pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Mimika. Sesuai namanya, yayasan ini memprioritaskan pemberdayaan bagi masyarakat dari suku Amungme dan suku Kamoro, serta lima suku kekerabatan lainnya seperti Mee, Moni, Dani, Damal, dan Nduga.

YPMAK fokus pada tiga bidang utama yaitu Pendidikan yang meliputi pemberian beasiswa dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi serta asrama bagi pelajar dan sekolah. Mereka juga memberikan pembiayaan fasilitas kesehatan seperti RSMM di Timika dan program kesehatan masyarakat. Pada sektor ekonomi, YPMAK mendorong pengembangan usaha rakyat, infrastruktur lokal seperti Pelabuhan Pomako dan bantuan modal usaha.

Sebelum menjadi YPMAK pada akhir 2019, lembaga ini dikenal dengan nama Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK). Perubahan menjadi yayasan bertujuan agar tata kelola organisasi lebih profesional, transparan, dan akuntabel.

unnamed Siswa SATP Mimika Jadi Petani Sukses Raup Ratusan Juta dari Pertanian Modern