Nasib Siswa SDN yang Bolos Sekolah Setahun, Ancaman Putus Pendidikan Mengancam

Kasus Siswa SDN di Bali yang Bolos Sekolah Setahun

Seorang siswa SDN di Bali telah bolos sekolah selama satu tahun tanpa diketahui penyebab pastinya. Kasus ini menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi meningkatnya angka anak putus sekolah di wilayah perkotaan Singaraja, Buleleng.

Siswa tersebut merupakan murid dari SD Negeri 2 Banyuning, Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali. Ia tercatat tidak hadir sejak Oktober 2024 hingga Februari 2026. Hal ini memicu kekhawatiran akan adanya peningkatan jumlah anak yang tidak melanjutkan pendidikannya.

Kepala SD Negeri 2 Banyuning, Desak Putu Sri Sadwity, mengatakan bahwa pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya persuasif sejak awal siswa tersebut tidak masuk sekolah. Sebulan setelah siswa tidak hadir, guru langsung melakukan kunjungan ke rumah. Namun, pendekatan tersebut belum membuahkan hasil.

Memasuki 2025, sekolah berkoordinasi dengan Unit Layanan Disabilitas (ULD) Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng untuk menghadirkan pendampingan profesional. Psikolog kemudian dilibatkan untuk melakukan asesmen langsung.

“Pesikolog langsung lakukan kunjungan ke rumahnya dan bertanya langsung dengan si anak. Dengan berbagai upaya, membujuk dan lain sebagainya,” ujar dia di Buleleng, Rabu (25/2/2026).

Penyebab Tak Diketahui

Meski pendekatan psikologis telah dilakukan, hingga kini belum ada simpulan final terkait faktor utama penyebab siswa enggan kembali ke sekolah. Secara administratif, siswa tersebut masih terdaftar aktif dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Artinya, secara sistem siswa belum dinyatakan berhenti sekolah.

“Tidak ikut semester dua, sampai sekarang. Dikatakan berhenti tidak, data anak tersebut masih ada di sekolah. Masih terdaftar di Dapodik. Arahan dari kasi kurikulum, diupayakan. Kami sudah didata yang berpotensi drop out,” ucap Sri Sadwity.

Baca Juga  Wamensos Ajak Pemda Bangun Sekolah Rakyat untuk Tumbuhkan Kesejahteraan

Situasi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara data administratif dan kondisi faktual di lapangan. Secara dokumen, siswa masih memiliki hak atas layanan pendidikan. Namun secara riil, ia telah lebih dari satu tahun tidak mengakses pembelajaran.

Perhatian Serius dari DPRD Buleleng

Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya, menilai kasus tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Kondisi ini bisa jadi alarm dini adanya potensi putus sekolah yang luput dari pantauan sistem pendidikan.

Menurut dia, kejadian di SD Negeri 2 Banyuning bisa menjadi indikasi persoalan yang lebih luas terkait anak putus sekolah, bahkan di wilayah perkotaan yang akses pendidikannya relatif mudah.

“Jangan sampai, ini kejadiannya seperti fenomena gunung es. Seperti calistung kemarin,” ujar Dhukajaya.

Ia mengingatkan agar Dinas Pendidikan tidak hanya mengandalkan laporan administratif. Melainkan, aktif melakukan verifikasi dan pendataan langsung ke lapangan untuk memastikan tidak ada anak yang terlewat dari pengawasan.

Selain pendataan, DPRD juga mendorong sekolah-sekolah di Buleleng memperkuat kegiatan ekstrakurikuler sebagai strategi pencegahan putus sekolah. Menurut Dhukajaya, kenyamanan dan keterikatan emosional anak terhadap lingkungan sekolah dapat dibangun melalui aktivitas non-akademik.

“Ekstrakulikuler ini menyebabkan anak merasa nyaman berada di lingkungan sekolah. Faktor penyebab anak seperti ini agak banyak, lingkungan, guru, faktor pribadi anak, perhatian. Maka dari itu perhatian, pendekatan dengan anak seperti tadi itu memang harus sensitif,” ucapnya.

Berita Lain

Sebelumnya, siswa SMP bolos sekolah selama satu bulan karena malu punya utang besar di Pinjol hingga ke beberapa teman dan kerabat. Kasus ini diungkap oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulonprogo, Nur Hadiyanto.

Menurut Nur, kasus ini terungkap berawal dari adanya laporan pihak sekolah karena bocah tersebut tidak pernah masuk tanpa keterangan apapun. Ternyata, alasan siswa tersebut tidak masuk sekolah karena malu kepada teman-temannya.

Baca Juga  Dosen dan Mahasiswa Teknokrat Meraih Penghargaan Paten dari Kemenkumham RI

Pasalnya, uang yang digunakan untuk melunasi utang judol dan pinjol itu berasal dari siswa tersebut meminjam kepada teman-temannya di sekolah. Nur mengungkapkan pelajar itu tidak bisa membayar uang yang dipinjam dari teman-temannya tersebut.

“Penyebabnya karena takut tidak bisa membayar uang yang dipinjam dari teman-temannya,” kata Nur Sabtu (25/10/2025).

Ternyata uang yang dipinjam pelajar tersebut digunakan untuk membayar utang pinjol. Sementara, uang yang diperoleh dari pinjol itu ternyata digunakan untuk bermain judol.

“Ya kurang lebih sekitaran Rp4 juta yang dipinjam dari teman-temannya,” lanjut Nur.

Nur mengungkapkan awal mula siswa salah satu SMP di Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo itu terjerat judol dan pinjol ketika bermain sebuah gim online yang mewajibkan melakukan top up uang. Hal itu membuat pelajar tersebut ketagihan dan berujung berpikir untuk berutang melalui pinjol lalu bermain judol.

Adapun uangnya yang berasal dari judol itu niatnya agar bisa melakukan top up gim online yang dimainkan.

“Awalnya karena gim online, terus kecanduan sampai akhirnya kayak gitu,” tuturnya.

Nur menyebut bahwa kasus semacam ini baru pertama kali terjadi. “Baru kali ini ada pelajar di Kulon Progo yang terjerat judol dan pinjol,” ujarnya.

Di sisi lain, Nur mengatakan pihaknya akan membantu proses pemindahan siswa itu ke sekolah lain jika yang bersangkutan menginginkannya. Apabila tidak, siswa itu bisa mengikuti program Kejar Paket B.

“Kalau dipindahkan akan kami bantu prosesnya. Kalau tidak, yang bersangkutan bisa ikut program Kejar Paket B,” ujarnya.

Terpisah, perwakilan dari Dinas Sosial (Dinsos) dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Siti Sholikhah turut mengamini pernyataan Nur di mana kasus ini baru pertama kali terjadi di Kulonprogo.

Baca Juga  Mahasiswa Teknokrat Kembangkan AgroBot Feed, Robot Pakan Ternak

Siti mengatakan telah mengutus psikolog untuk mendampingi siswa tersebut di rumahnya.

“Semua pihak harus bisa menciptakan situasi yang aman dan nyaman bagi anak,” katanya.


unnamed Nasib Siswa SDN yang Bolos Sekolah Setahun, Ancaman Putus Pendidikan Mengancam