Guru di Sorong Selatan keluhkan perjalanan 7 jam ke sekolah dengan biaya Rp10 juta
Kondisi Sekolah di Distrik Kokoda Utara yang Menyedihkan
Kondisi pendidikan di Distrik Kokoda Utara, Kabupaten Sorong Selatan, menjadi perhatian serius bagi masyarakat setempat. Guru-guru di wilayah ini mengeluhkan kesulitan yang mereka alami dalam menjalankan tugas pengajaran akibat jarak yang jauh dan biaya transportasi yang sangat mahal. Hal ini berdampak langsung pada ketidakhadiran guru di sekolah, yang kemudian memicu keluhan dari orang tua murid.
Perjalanan yang Melelahkan dan Biaya Tinggi
Perjalanan menuju Distrik Kokoda Utara tidak bisa dikatakan mudah. Dalam kondisi normal, waktu tempuh dari Pelabuhan Teminabuan ke distrik tersebut mencapai 6 hingga 7 jam. Untuk satu kali perjalanan, diperlukan sekitar 600 liter BBM dengan biaya hampir Rp10 juta. Hal ini membuat para guru terkendala secara finansial dan logistik.
Seorang guru yang tidak disebutkan namanya, RT, mengungkapkan bahwa keterlambatan keberangkatan sering memaksa guru untuk menginap di Kokoda demi menghindari risiko perjalanan malam hari. “Kalau malam muara itu berbahaya, karena kita masih harus menyusuri sungai sekitar empat jam lagi,” ujarnya.
Ketergantungan pada Dana BOS yang Tidak Teratur
Sekolah-sekolah di wilayah ini sangat bergantung pada dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Namun, dana tersebut sering terlambat cair. RT menjelaskan bahwa dana BOS paling cepat cair pada Februari dan paling lambat Mei. “Jika belum cair, kita mau berangkat pakai dana apa?” tanyanya.
Ia menilai mekanisme pendanaan ini berdampak langsung pada kehadiran guru. Akibatnya, muncul stigma bahwa guru hanya datang saat ujian. “Kalau kalender pencairan Maret, ya kami baru jalan Maret. Itu sudah masuk ujian sekolah, khususnya kelas 9,” katanya.
Kurangnya Dukungan Pemerintah Daerah
RT juga menyampaikan bahwa pemda dinilai kurang memberikan dukungan khusus bagi para guru yang bertugas di wilayah 3T (terpencil, terluar, dan tertinggal). “Kami yang mengajar jauh dan berisiko, kesejahteraannya sama saja dengan yang di kota,” ujarnya.
Menurutnya, lembaga pendidikan seharusnya menalangi biaya operasional guru agar mereka bisa berangkat mengajar, lalu menggantinya setelah dana BOS cair. Namun, hal ini belum terwujud.
Keluhan Orang Tua Murid
Orang tua murid di Kampung Atori dan Karirif, Distrik Kokoda Utara, mengeluhkan tidak aktifnya proses belajar mengajar akibat absennya kepala sekolah serta guru. SD YPK Bukit Zaitun Atori dan SMP Negeri 1 Kokoda Utara adalah dua sekolah yang menjadi fokus keluhan ini.
Andrikus Aume, salah satu orang tua murid, menyampaikan keluhannya melalui media sosial Facebook. Ia mengatakan bahwa kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada perubahan. “Mulai dari SD sampai SMP di Kampung Atori dan Karirif, kepala sekolah dan guru-guru semua tidak ada di tempat. Mereka biasanya datang hanya kalau mau ulangan atau ujian saja,” kata Andrikus.
Penggunaan Modul Pembelajaran yang Tidak Efektif
Menurut RT, penggunaan modul pembelajaran bagi siswa di sana tidak efektif untuk mengejar ketertinggalan. Mayoritas siswa belum menguasai kemampuan baca tulis. Anak-anak di lingkungan tersebut seringkali tidak mendapatkan pembelajaran yang cukup di sekolah.
Andrikus menambahkan bahwa kemampuan akademik anak-anak di lingkungan tersebut sangat memprihatinkan. Anaknya yang duduk di bangku kelas 4 SD YPK Bukit Zaitun Atori sudah bisa membaca dan menulis bukan karena pembelajaran di sekolah, melainkan hasil didikan orang tua di rumah. “Kadang untuk menghitung dan membaca kalimat panjang belum lancar,” katanya.
- Measles Crisis Spreads to 876 Cases in South Carolina - February 27, 2026
- Kelompok Hewan Wakulla memasang stasiun pemindaian mikrochip di seluruh Wakulla Co. untuk hewan peliharaan yang hilang - February 27, 2026
- Guru di Sorong Selatan keluhkan perjalanan 7 jam ke sekolah dengan biaya Rp10 juta - February 27, 2026




Leave a Reply