Pondok Pesantren: Pendidikan atau Pelayanan?
Bisakimia.CO.ID, JAKARTA — Pendidikan nasional saat ini sedang menghadapi paradoks yang semakin jelas. Di satu sisi, standar kualitas, fasilitas, dan sistem administratif terus ditingkatkan dengan investasi yang cukup besar. Di sisi lain, keluhan tentang karakter yang rapuh, daya tahan mental yang rendah, serta kemandirian yang lemah pada generasi muda semakin sering terdengar. Perkembangan kelembagaan tidak selalu sejalan dengan kekuatan pembentukan manusia—sebuah ironi yang sangat mengkhawatirkan.
Situasi ini menuntut evaluasi ulang terhadap makna pendidikan itu sendiri, khususnya model pendidikan berasrama seperti pesantren. Evaluasi ini tidak berhenti pada bentuk institusi atau kelengkapan fasilitas, tetapi menyentuh cara pandang dasar terhadap hubungan pendidikan. Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab: apakah pendidikan dipahami sebagai proses pembentukan manusia dewasa yang utuh, ataukah telah bergeser menjadi mekanisme pelayanan kenyamanan bagi peserta didik?
Pendidikan dalam Kerangka Pelayanan
Pemaknaan pendidikan sebagai pelayanan membawa implikasi serius yang perlu ditelaah secara kritis. Ketika logika pasar memasuki ruang pedagogis, lembaga pendidikan bertransformasi menjadi penyedia jasa (service provider), peserta didik diposisikan sebagai pengguna (consumer), dan kepuasan dijadikan indikator utama keberhasilan. Dalam kerangka tersebut, tuntutan cenderung dilunakkan, disiplin dipersempit ruang geraknya, dan kesulitan diperlakukan sebagai gangguan terhadap kenyamanan yang harus dieliminasi.
Pendekatan demikian memang sah dalam dunia bisnis dan perhotelan. Namun, dunia pendidikan—terutama pendidikan karakter—membutuhkan logika yang berbeda secara fundamental. Tujuan mendidik bukanlah membuat hidup terasa mudah dan nyaman, melainkan menyiapkan manusia untuk menghadapi kenyataan hidup yang keras, kompleks, dan tidak selalu ramah.
Dominasi logika pelayanan berisiko mengikis proses pendewasaan yang justru menjadi inti pendidikan. Kecakapan akademik mungkin tetap berkembang, tetapi ketangguhan mental dan kedewasaan emosional sering tertinggal jauh di belakang. Akibatnya, lahir generasi yang terampil secara teknis namun tidak memiliki kesiapan psikologis untuk menghadapi tekanan, kegagalan, dan tanggung jawab sosial yang melekat pada kehidupan dewasa.
Pesantren dan Relasi Pendidikan yang Otentik
Sejarah panjang pesantren menunjukkan watak pendidikan yang berbeda secara mendasar. Pesantren tidak tumbuh sebagai penyedia layanan yang berorientasi kepuasan pelanggan, melainkan sebagai ruang transformasi ilmu dan pembentukan karakter yang integral. Santri datang dengan kesadaran sebagai penuntut ilmu (thalib al-‘ilm), bukan sebagai konsumen yang menuntut hak. Kesadaran akan disiplin, kesabaran, dan pengorbanan menyertai proses belajar sejak awal—bukan sebagai beban, tetapi sebagai bagian intrinsik dari proses pendewasaan.
Relasi kiai dan santri dalam tradisi pesantren bersifat pedagogis yang asimetris namun penuh kasih sayang. Kiai berfungsi sebagai murabbī (pembimbing) dalam proses pendewasaan, bukan sekadar pengajar yang menyampaikan informasi. Santri menyiapkan diri untuk “ditempa” melalui berbagai proses yang tidak selalu menyenangkan. Kesederhanaan hidup, keterlibatan dalam kerja harian (khidmah), serta kedisiplinan yang ketat dijalani sebagai metode pendidikan karakter yang konsisten dan teruji oleh waktu.
Pengalaman historis pesantren menegaskan satu prinsip penting yang sering terlupakan: kekuatan pendidikan tidak selalu bertumpu pada kelengkapan fasilitas atau canggihnya teknologi. Keteguhan proses (rigor) justru menjadi fondasi utama. Karakter terbentuk melalui pengalaman berulang, latihan tanggung jawab yang konsisten, dan disiplin yang terjaga—bukan melalui slogan indah atau fasilitas mewah yang tidak menyentuh inti pendidikan.
Risiko Pendidikan Berasrama Modern
Pendidikan berasrama modern atau boarding school lahir dari kebutuhan nyata akan sistem yang profesional, aman, terukur, dan terkelola. Model tersebut menjawab tuntutan zaman pada batas tertentu, terutama dalam hal efisiensi administratif dan standardisasi kualitas. Namun, ketika dominasi pendekatan pelayanan (service-oriented approach) tidak dikontrol secara kritis, muncul risiko serius: pendidikan tereduksi menjadi sekadar pengelolaan kenyamanan (comfort management) alih-alih transformasi karakter.
Pengambilalihan berbagai aspek kehidupan peserta didik oleh sistem yang serba terorganisir cenderung mempersempit ruang latihan tanggung jawab personal. Semua kebutuhan disediakan, semua masalah diselesaikan oleh sistem, semua kesulitan diminimalisir. Kompetensi akademik memang tetap dihasilkan, tetapi kesempatan untuk melatih kemandirian sejati, ketahanan mental, dan keberanian mengambil keputusan dengan konsekuensinya sering berkurang secara signifikan.
Tantangan krusial pendidikan berasrama hari ini terletak pada pencarian keseimbangan yang tepat. Profesionalisme sistem perlu dijaga untuk menjamin efisiensi dan akuntabilitas. Namun, proses pendewasaan yang mensyaratkan “kesulitan mendidik” tidak boleh dikorbankan demi kenyamanan administratif atau kepuasan pelanggan. Inilah dilema yang harus diselesaikan dengan bijaksana.
Menegaskan Ulang Hakikat Pendidikan
Modernitas tidak menuntut penolakan terhadap kemajuan. Fasilitas memadai, teknologi pembelajaran, dan sistem tertata memang berfungsi sebagai sarana penting. Namun, pendidikan kehilangan arah dan substansinya ketika sarana tersebut diangkat menjadi tujuan akhir. Pendidikan sejati menuntut keberanian untuk mempertahankan unsur-unsur yang mungkin tidak populer namun esensial: kesulitan yang mendidik, disiplin yang membentuk, serta tanggung jawab yang melatih kedewasaan.
Tradisi pesantren, dengan segala keterbatasannya, menawarkan pelajaran bernilai yang melampaui konteks spesifiknya. Pendidikan sejati menyiapkan manusia agar sanggup hidup mandiri, bertanggung jawab, dan bermakna bagi komunitasnya. Kenyamanan tidak dijadikan tujuan akhir yang harus dicapai dengan segala cara. Ketangguhan karakter, integritas moral, dan kemandirian intelektual justru ditempatkan sebagai hasil utama yang harus diperjuangkan meskipun prosesnya tidak nyaman.
Warisan pedagogis pesantren mengajarkan bahwa proses pendidikan memerlukan pengorbanan, kesabaran, dan disiplin—dari pendidik maupun peserta didik. Ketika elemen-elemen tersebut dihilangkan atau dilunakkan secara berlebihan atas nama modernisasi atau pelayanan prima, yang tersisa hanyalah cangkang pendidikan tanpa jiwa transformatifnya.
Arah Peradaban di Persimpangan
Bangsa ini tidak kekurangan lembaga pendidikan. Sekolah dan perguruan tinggi bertebaran di berbagai penjuru. Tantangan mendasar justru terletak pada kualitas proses pendewasaan yang dialami generasi muda. Ketika pemahaman pendidikan sebagai pelayanan menjadi dominan tanpa kritik, risiko yang muncul adalah lahirnya generasi yang terbiasa dilayani, terlatih menuntut hak namun enggan memikul tanggung jawab.
Pertanyaan “pendidikan atau pelayanan” bukan sekadar persoalan istilah atau semantik belaka. Pertanyaan tersebut menyentuh akar filosofis tentang arah peradaban yang hendak kita bangun. Jawaban yang kita berikan—melalui kebijakan, praktik, dan budaya pendidikan kita—akan menentukan apakah pendidikan benar-benar membentuk manusia tangguh yang siap memimpin peradaban, ataukah sekadar mengelola kenyamanan sementara yang tidak menghasilkan karakter.
Pilihan ada di tangan kita. Masa depan generasi mendatang bergantung pada keberanian kita untuk menegaskan kembali hakikat pendidikan yang sejati.
Mantingan, 2 Januari 2026
- 23 MPS Schools May Add Sixth Grade This Fall - February 26, 2026
- Strong Bones for Life: A Guide to Midlife and Beyond - February 26, 2026
- Pondok Pesantren: Pendidikan atau Pelayanan? - February 26, 2026




Leave a Reply