RSUCM Langsa Gelar Edukasi Pencegahan TBC, Kenali Gejala dan Penularannya

Edukasi Pencegahan TBC di RSU Cut Meutia Langsa

RSU Cut Meutia Langsa bekerja sama dengan PT Cut Meutia Medika Nusantara (CMN) mengadakan edukasi pencegahan Tuberkulosis (TBC) kepada pasien dan pengunjung. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan penyakit menular, khususnya TBC.

Materi yang disampaikan mencakup pengertian TBC, gejala-gejala yang muncul, cara penularan melalui droplet, serta kelompok berisiko tinggi seperti penderita HIV, perokok, dan lansia. Masyarakat juga diimbau untuk melakukan deteksi dini, menjalani pengobatan tuntas selama minimal 6 bulan, serta menerapkan langkah-langkah pencegahan agar target Indonesia Bebas TBC pada tahun 2050 tercapai.

Penyebab dan Jenis TBC

Dr Ghaskhan Shah Ghanar, dokter yang menyampaikan materi, menjelaskan bahwa TBC adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Ia menekankan bahwa TBC bukan penyakit keturunan dan bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia maupun jenis kelamin.

Secara medis, TBC terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • TBC paru, yang menyerang organ paru-paru.
  • TBC ekstra paru, yang merupakan infeksi di luar paru-paru seperti kelenjar getah bening, tulang, dan organ tubuh lainnya.

Penularan TBC terjadi melalui udara. Bakteri TBC menyebar lewat percikan droplet yang keluar saat penderita berbicara, batuk, atau bersin. Dr Ghaskhan menjelaskan bahwa saat berbicara, seorang pasien TBC dapat menyebarkan sekitar 210 bakteri. Ketika batuk, jumlah bakteri yang tersebar dapat mencapai 3.500, sedangkan saat bersin, jumlahnya bisa mencapai 4.500 hingga satu juta bakteri ke udara.

Kondisi ini membuat penyakit TBC sangat mudah menular, terutama di lingkungan tertutup dan daerah yang padat penduduk.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Beberapa gejala umum TBC yang perlu diwaspadai sejak dini antara lain:

  • Batuk berdahak lebih dari dua minggu.
  • Batuk berdarah.
  • Sesak napas.
  • Keringat berlebih pada malam hari.
  • Penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab yang jelas.
Baca Juga  Penelitian mengungkap rahasia rambut beruban, ada harapan kembali hitam tanpa pewarna

Kelompok Berisiko Tinggi

Kelompok yang berisiko tinggi tertular TBC meliputi:

  • Orang yang melakukan kontak erat dengan pasien TBC.
  • Penderita HIV.
  • Perokok.
  • Pasien diabetes melitus (DM).
  • Bayi, anak-anak, dan lansia yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dengan penderita TBC.
  • Masyarakat yang tinggal di lingkungan padat penduduk.

Upaya Pencegahan dan Pengobatan

Meski berbahaya, TBC bukanlah penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Pengobatan TBC harus dijalani minimal selama 6 bulan dan tidak boleh terputus agar bakteri benar-benar mati dan tidak menimbulkan resistensi obat. Pemerintah juga memastikan bahwa obat TBC dapat diperoleh secara gratis di fasilitas pelayanan kesehatan.

Upaya pencegahan TBC dapat dilakukan melalui beberapa langkah, antara lain:

  • Pemberian vaksin BCG sejak dini.
  • Pemeriksaan kontak erat dengan pasien TBC.
  • Berhenti merokok.
  • Menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
  • Membiasakan cahaya matahari masuk ke dalam rumah.
  • Menghindari lingkungan yang lembab.

Pentingnya Deteksi Dini

Pasien ataupun masyarakat diimbau untuk tidak takut memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala mengarah pada penyakit TBC. Deteksi dini dan pengobatan yang tuntas menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan TBC. Dengan upaya bersama, diharapkan Indonesia dapat mencapai target Bebas TBC pada tahun 2050.


unnamed RSUCM Langsa Gelar Edukasi Pencegahan TBC, Kenali Gejala dan Penularannya