Kronologi Siswa SD Ngada Bunuh Diri Karena Tak Bisa Beli Alat Tulis, DPR: Peringatan untuk Negara

Tragedi Siswa SD di Ngada: Peringatan Serius bagi Negara

Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBS (10 tahun), ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya pada Kamis (29/1/2026). Kejadian ini menjadi perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk anggota DPR RI yang menilai kasus ini sebagai bentuk kegagalan negara dalam menjalankan kewajibannya terhadap pendidikan dan hak asasi manusia.

YBS ditemukan tewas di bawah sebuah pohon cengkeh yang terletak tidak jauh dari rumah neneknya, Welumina Nenu. Lokasi kejadian berada di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Di sekitar tempat kejadian, ditemukan surat yang ditulis oleh YBS. Dalam surat tersebut, ia meminta ibunya, MGT (47 tahun), untuk mengikhlaskan kepergiannya.

Sebelum mengakhiri hidupnya, YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Namun, karena sang ibu tidak memiliki uang, permintaan itu urung terpenuhi. Harga buku dan pena tersebut tidak sampai Rp10 ribu, namun hal itu tetap menjadi masalah besar bagi keluarga yang hanya bisa bertahan dengan bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.

Pendidikan sebagai Hak Konstitusional

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, menegaskan bahwa tragedi YBS menjadi peringatan serius bagi seluruh masyarakat Indonesia. Ia menyatakan bahwa kasus ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan sebagai hak konstitusional yang harus dijamin sepenuhnya oleh negara.

Menurutnya, Undang-undang Dasar RI Tahun 1945 Pasal 31 ayat (3) secara tegas menyatakan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” Selain itu, pasal yang sama juga menyebutkan bahwa “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.”

Baca Juga  Perawat Sekolah Menengah Cooper memimpin inisiatif keselamatan jantung dengan Proyek Adam

MY Esti menilai bahwa seharusnya tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang terhambat sekolah hanya karena alat tulis. Ia menegaskan bahwa tragedi di Ngada harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap implementasi kebijakan pendidikan di daerah, khususnya terkait akses, pemerataan, dan keberpihakan kepada anak-anak dari keluarga tidak mampu.

Desakan Evaluasi dari Anggota DPR

Desakan evaluasi juga datang dari anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB, Habib Syarief. Ia mendesak agar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengusut tuntas latar belakang tragedi YBS. Ia menyatakan bahwa kejadian ini menjadi alarm keras bahwa masih ada anak-anak yang tidak mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar.

Habib menilai peristiwa di Ngada sebagai potret buram dunia pendidikan nasional, yang menunjukkan adanya celah besar dalam pemenuhan hak belajar bagi anak dari keluarga kurang mampu. Ia menegaskan bahwa alokasi anggaran pendidikan dari APBN seharusnya mampu menjamin kebutuhan dasar siswa, termasuk buku dan alat tulis.

Ia menekankan pentingnya investigasi menyeluruh untuk memastikan tidak terjadi kelalaian sistemik dalam penyaluran bantuan pendidikan, khususnya di daerah tertinggal.

Catatan Redaksi

Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda atau orang di sekitar mengalami tekanan emosional berat, segera cari bantuan profesional atau layanan kesehatan terdekat.


unnamed Kronologi Siswa SD Ngada Bunuh Diri Karena Tak Bisa Beli Alat Tulis, DPR: Peringatan untuk Negara