Kisah Dokter Rosa: Menyelamatkan Kelahiran di Mobil Grab Tanpa Seragam Medis

Kisah Dokter Rosa: Dari Kursi Belakang Mobil Hingga Menyelamatkan Nyawa Bayi

Di malam yang hujan, sebuah mobil Grab menjadi tempat lahirnya seorang bayi. Dokter Rosa, seorang dokter umum di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya yang tengah menempuh pendidikan spesialis Penyakit Dalam, menjadi saksi sekaligus penolong dalam momen paling menentukan dalam hidup seorang ibu. Peristiwa ini akhirnya viral dan menjadi cerita tentang dedikasi, ketulusan, serta kemanusiaan seorang dokter.

Perjalanan Seorang Dokter

Rosa bukan wajah baru di dunia pelayanan kesehatan. Ia mengabdi di RSUD dr. Doris Sylvanus sejak 2015 sebagai tenaga honorer, lalu resmi menjadi dokter PNS pada 2019. Sebagai dokter umum, ia telah menangani beragam pasien, mulai dari kasus ringan hingga kondisi gawat darurat.

Pada 2021, ia mendapat tugas belajar untuk menempuh pendidikan spesialis Penyakit Dalam di Surabaya, dengan beasiswa dari Kementerian Kesehatan. Namun, perjalanan akademik itu tidak selalu mulus. Kendala personal dan tekanan lain membuat studinya tertunda hingga semester ke-11. Meski begitu, Rosa tetap menjalani proses belajarnya dengan tekad kuat.

Menjadi Pengemudi Grab

Di tengah masa penelitian dan berkurangnya jadwal jaga klinis, Rosa mencari cara untuk tetap produktif. Sejak Oktober 2025, ia memutuskan untuk menjadi pengemudi Grab Car. Bagi Rosa, ini bukan sekadar pekerjaan tambahan. Ini adalah ruang untuk tetap bergerak, tetap berguna, dan tetap bertemu manusia.

“Saya daftar Grab untuk mengisi waktu, dan ternyata juga membantu secara mental dan finansial,” ujarnya.

Malam yang Tidak Terduga

Pada suatu malam, Rosa menerima penumpang seorang perempuan muda berinisial S, yang tengah hamil. Perjalanan dari Tambaksari menuju Asemrowo diperkirakan memakan waktu sekitar 30–40 menit. Sepanjang perjalanan, Rosa tanpa mengungkap profesinya, berbincang ringan. Ia menanyakan riwayat kehamilan, persalinan sebelumnya, dan kontrol medis. Dari percakapan itu, Rosa menyadari bahwa S belum pernah menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin.

Baca Juga  5 Fakta Menarik Socorro Mockingbird, Burung Endemik Unik Pulau Socorro

Sebagai tenaga kesehatan, naluri Rosa muncul. Ia mengedukasi S tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan dan perencanaan keluarga. Namun, saat mendekati tujuan, suasana berubah. S terlihat mulai gelisah. Napasnya berat. Responnya melambat. Hingga akhirnya, dengan suara gemetar, ia berkata bahwa ia merasa akan melahirkan.

Momen yang Tak Terlupakan

Rosa segera memutar arah mobil, berniat mencari bidan atau klinik terdekat. Tapi waktu bergerak lebih cepat dari rencana. Ketuban pecah. Kontraksi semakin kuat. Proses persalinan tidak bisa ditunda.

“Saya bilang ke dia, tenang saja. Saya dokter. Kita usahakan bersama,” kenangnya.

Disitulah Rosa membuka identitas aslinya yang selama ini tidak pernah ia ungkap ketika menjadi pengemudi mobil Grab. Di ruang sempit itu, Rosa bertindak cepat dan tenang. Ia menopang tubuh S, memastikan posisi aman, mengontrol jalan lahir agar tidak robek, dan membantu proses keluarnya kepala bayi hingga bahu.

Beberapa menit yang terasa seperti seumur hidup pun berlalu. Tangisan bayi akhirnya pecah di tengah malam. “Begitu bayi menangis dan warnanya berubah merah, saya tahu kondisinya stabil. Rasanya lega sekali,” katanya.

Tanpa kain medis, Rosa menggunakan pakaian seadanya untuk menjaga kehangatan bayi. Ia memastikan ibu dan anak dalam kondisi aman, sebelum segera membawa mereka ke bidan terdekat untuk penanganan lanjutan.

Dedikasi Tanpa Batas

Keluarga S terlihat berasal dari kalangan sederhana. Setelah kejadian itu, mereka berkali-kali meminta maaf karena merasa telah merepotkan. Mereka memberi tambahan uang sebagai tanda terima kasih, namun Rosa menolak meminta kompensasi besar. Walaupun mobilnya harus terdapat ceceran bekas cairan dan darah.

“Saya tidak ingin membebani mereka. Yang penting ibu dan bayinya selamat,” tuturnya.

Ia juga memilih untuk tidak mengungkap latar belakang keluarga tersebut ke media, demi menjaga martabat dan privasi mereka.

Baca Juga  Apa Itu Tes CPET? Ini Tujuan dan Prosedurnya

Keberanian dan Keteguhan

Di balik semua itu, Rosa adalah seorang ibu dari dua anak, usia 13 dan 7 tahun yang tinggal bersamanya. Anak-anaknya memahami perjuangan sang ibu, bahkan sering bertanya dengan bangga apakah ia akan “narik Grab” hari itu.

“Anak-anak saya sangat pengertian. Mereka tahu Mama sedang berjuang,” ucapnya sambil tersenyum.

Keluarga besarnya pun mendukung penuh. Bagi Rosa, menjadi pengemudi Grab bukan soal gengsi, melainkan tentang ketahanan hidup dan keikhlasan membantu sesama.

“Kalau bisa membantu orang dan memberi manfaat, kenapa harus malu?” katanya tegas.

Peristiwa persalinan di dalam mobil bukan satu-satunya pengalaman darurat Rosa. Sebelumnya, ia pernah membantu penumpang lansia dengan penurunan kesadaran, anak kecil dengan kejang demam, hingga pasien gawat darurat lainnya. Semua itu memperlihatkan satu hal, yakni Rosa tidak pernah berhenti menjadi dokter meski sedang tidak berada di rumah sakit. Ia adalah cerita tentang keteguhan, tentang perempuan yang berdiri di antara profesi, keluarga, pendidikan, dan kehidupan, namun tetap memilih untuk menolong.

unnamed Kisah Dokter Rosa: Menyelamatkan Kelahiran di Mobil Grab Tanpa Seragam Medis