Azis Subekti: Pendidikan, Poros Kebangkitan Bangsa
Kebangkitan Bangsa Dimulai dari Pendidikan
Anggota DPR RI, Azis Subekti, menyampaikan bahwa kebangkitan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau sumber daya alam, tetapi lebih pada kualitas manusia yang dibangun melalui pendidikan. Ia mengambil contoh dari pengalaman Jepang pasca-perang dunia kedua sebagai bukti bahwa pendidikan menjadi fondasi strategis dalam membangun ketahanan dan daya saing bangsa.
Belajar dari Jepang: Bangsa Bangkit dari Investasi Manusia

Azis mengingatkan kembali bagaimana Jepang setelah Hiroshima luluh lantak akibat bom atom. Alih-alih fokus pada kekuatan militer, pemimpin Jepang saat itu justru memprioritaskan keberlangsungan pendidikan. Dalam pernyataannya, ia menuturkan bahwa ketika Hiroshima runtuh menjadi hamparan puing akibat ledakan bom atom, Kaisar Hirohito justru bertanya tentang guru—berapa banyak yang masih hidup.
Menurut Azis, keputusan ini menunjukkan kesadaran bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kemampuan membangun kembali akal dan karakter manusia. Jepang kemudian menjadikan sekolah sebagai pusat pemulihan peradaban, menempatkan guru sebagai figur terhormat, serta mengarahkan pendidikan pada pembentukan disiplin, tanggung jawab, dan ketekunan.
“Hasil dari pilihan ini bukan sekadar kemajuan ekonomi, tetapi transformasi kualitas manusia,” kata Azis.
Pendidikan Memerlukan Keberlanjutan Kebijakan
Lebih lanjut, Azis menekankan bahwa pendidikan tidak dapat dibangun melalui kebijakan jangka pendek atau sekadar retorika politik. Ia menegaskan bahwa sejarah Jepang memberi pelajaran penting bahwa pendidikan tidak bekerja dalam bentuk janji, melainkan melalui keberlanjutan tindakan.
Ia menyebutkan bahwa Jepang memastikan pemenuhan gizi anak, memperluas akses sekolah hingga tingkat komunitas dasar, serta membuka akses pengetahuan secara luas. Investasi tersebut membentuk daya tahan nasional yang memungkinkan Jepang bertahan menghadapi krisis ekonomi, bencana alam, dan perubahan global.
Menurut Azis, pendekatan tersebut relevan untuk dijadikan rujukan dalam pembangunan pendidikan di Indonesia.
Soroti Arah Kebijakan Pendidikan di Era Prabowo

Azis menilai bahwa dalam satu tahun terakhir, pemerintahan Presiden RI, Prabowo Subianto mulai menempatkan pendidikan sebagai poros pembangunan nasional. Program makan bergizi bagi anak sekolah, santri pesantren, ibu hamil, dan balita merupakan langkah mendasar yang berangkat dari fakta ilmiah bahwa kecerdasan tidak mungkin berkembang optimal tanpa pemenuhan gizi.
Bangsa yang ingin maju harus terlebih dahulu memastikan generasinya tumbuh sehat secara fisik dan mental, menurut Azis. Selain itu, pemerintah juga memperluas penerima beasiswa, memperbaiki sekolah-sekolah rusak, membangun infrastruktur dasar di wilayah terpencil, serta mendirikan sekolah rakyat berasrama gratis bagi anak dari keluarga miskin.
Di sisi lain, pembangunan sekolah unggulan, perluasan SMA berstandar nasional, serta kerja sama dengan universitas terkemuka di Inggris dinilai sebagai upaya meningkatkan daya saing global pendidikan nasional.
Meski demikian, Azis mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan tidak hanya bergantung pada negara. “Pemerintah dapat membuka jalan, tetapi akal budi hanya akan berkembang bila kita semua ikut menumbuhkannya. Saatnya berhenti sekadar mengamati perubahan, dan mulai mengambil peran di dalamnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tanpa partisipasi kolektif, pembangunan manusia tidak akan berjalan optimal dan berkelanjutan.
Perkuat Tata Kelola, BPJS Kesehatan Bersinergi dengan Mahkamah Agung
- 100 Soal dan Kunci Jawaban Matematika SD Kelas 1 Semester 2 Kurikulum Merdeka 2026 - February 15, 2026
- 6 Manfaat Cokelat Gelap, Mulai dari Jantung yang Lebih Sehat hingga Memori yang Lebih Tajam - February 15, 2026
- Azis Subekti: Pendidikan, Poros Kebangkitan Bangsa - February 15, 2026




Leave a Reply