Krisna lulus S3 Farmasi UGM dalam 2 tahun 4 bulan dengan IPK 4,00
Lulusan Doktor Ilmu Farmasi Tercepat di UGM
Made Krisna Adi Jaya menjadi lulusan tercepat dari Program Studi Doktor Ilmu Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 2 tahun 4 bulan 8 hari dengan IPK sempurna, yaitu 4,00. Padahal, rata-rata masa studi untuk jenjang doktoral biasanya mencapai 4 tahun 6 bulan.
Sebagai dosen farmasi di FMIPA Universitas Udayana, Bali, Krisna melakukan riset disertasi yang berkaitan dengan proses skrining hipoglikemia terkait dengan terapi obat. Penelitiannya ini berupaya memberikan solusi praktis dan berbasis bukti untuk meningkatkan keselamatan pasien.
Alasan Mengambil Pendidikan Doktoral
Meskipun meraih predikat lulusan tercepat dan IPK pujian, gelar doktor tidak hanya menjadi kebutuhan akademik atau tanggung jawab profesional bagi Krisna. Keputusannya untuk melanjutkan pendidikan doktoral muncul dari dorongan pribadi untuk berkontribusi lebih besar dalam pengembangan ilmu farmasi.
“Program doktoral memberi ruang bagi saya untuk menjembatani praktik kefarmasian dengan pengembangan evidence-based practice yang lebih sistematis,” ujarnya melalui keterangan tertulis.
Riset tentang Skrining Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah kondisi ketika kadar gula darah berada di bawah batas normal, sering terjadi pada penderita diabetes sebagai efek samping terapi obat. Berawal dari ketidakakuratan pada proses skrining pasien rawat jalan, Krisna merasa perlu adanya pengembangan dan implementasi instrumen skrining risiko hipoglikemia berat untuk membantu apoteker.
Temuan penelitiannya juga bertujuan untuk mencegah kejadian hipoglikemia melalui sistem penilaian yang terstruktur dan aplikatif. Tujuan utama Krisna adalah menghadirkan solusi yang praktis, berbasis bukti, dan dapat langsung diimplementasikan.
Dukungan dalam Penelitian
Dengan dukungan Beasiswa Pendidikan Indonesia, Kemdikbudsaintek, dan kampus Universitas Udayana, Krisna berupaya membangun disiplin riset, komunikasi intensif dengan promotor dan ko-promotor, serta terus mengembangkan kemampuan metodologi penelitian dan analisis data secara mandiri.
Nilai Integritas dan Konsistensi
Capaian ini tidak bisa diraih tanpa nilai integritas akademik, konsistensi, dan kebermanfaatan ilmu yang selama ini ia junjung. “Saya meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus dikembangkan secara jujur, bertanggung jawab, dan diarahkan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Sebagai akademisi, Krisna harus menyeimbangkan peran untuk memenuhi tuntutan akademik maupun kepentingan pekerjaan. Salah satu tantangan terbesar selama menempuh studi doktoral adalah menjaga keseimbangan antara tuntutan akademik, pekerjaan profesional, dan tanggung jawab pribadi.
“Kompleksitas riset, seperti pengembangan instrumen, validasi metodologis, hingga penerapan di lapangan menuntut konsistensi, ketelitian, dan manajemen waktu yang tinggi,” imbuhnya.
- Science Reveals 3 Traits Linked to Financial Success - February 15, 2026
- Survei Mengungkap Beberapa Orang Masih Percaya Makanan Pedas Menyebabkan Persalinan, dan Lebih Banyak Mitos Kehamilan yang Tidak Terbukti - February 15, 2026
- Science Minister States Coupang Investigation Based on Law, No Discrimination - February 15, 2026




Leave a Reply