Kisah di Balik Dapur SPPG APT Pranoto Kutim, Menyajikan Ribu Porsi Tiap Subuh Tanpa Vetsin
Kehidupan di Dapur Satuan Pelayanan Program Gizi APT Pranoto
Di balik keriuhan jam belajar sekolah di Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, ada denyut nadi yang mulai berdetak kencang sejak pukul satu dini hari. Di sebuah gedung produksi yang tertata rapi, puluhan relawan berjibaku dengan uap panas dan aroma masakan demi memastikan ribuan anak sekolah mendapatkan asupan bergizi tepat waktu.
Dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) APT Pranoto kini menjadi tumpuan bagi pemenuhan gizi generasi muda di Sangatta, Kutai Timur. Tak main-main, setiap harinya mereka harus memproses sekitar 2.750 porsi makanan yang didistribusikan ke enam sekolah dan satu posyandu di wilayah Gang Volvo serta Gang Anggrek.
Kepala SPPG APT Pranoto, Dinan Ananda Perdana, mengungkapkan bahwa operasional dapur dimulai sejak dini hari demi mengejar standar kesegaran. “Kami biasanya masuk tim produksi itu sekarang jam 1 atau jam 2 malam sudah mulai masak. Selesainya sekitar jam 7 atau 8 pagi karena proses memasak untuk ribuan porsi itu memakan waktu 5 sampai 6 jam,” ujar Dinan, Selasa (3/2/2026).
Proses pendinginan menjadi kunci utama sebelum makanan dimasukkan ke dalam wadah atau kompreng. Dinan menjelaskan, makanan tidak boleh langsung dipacking dalam kondisi panas mendidih karena uap air yang terperangkap dapat memicu pertumbuhan bakteri yang menyebabkan makanan cepat basi.
Manajemen komplain pun dikelola secara profesional. Jika ada keluhan mengenai rasa atau menu yang kurang disukai anak-anak, tim yang terdiri dari ahli gizi, akuntan, dan tim produksi langsung duduk bersama untuk melakukan evaluasi menyeluruh tanpa mengabaikan standar gizi yang ditetapkan. “Kalau memang komplainnya sudah berulang kali, berarti ada kesalahan dari kami dan harus berbenah, atau mungkin mengganti menu. Tapi kami telusuri dulu, jangan sampai hanya karena satu atau tiga anak tidak suka ikan, kita ganti menu untuk ribuan orang, jadi tergantung tingkat urgensinya,” jelas Dinan.
Pendekatan Ekonomi Kerakyatan
Sisi menarik lainnya adalah komitmen SPPG APT Pranoto dalam mendukung ekonomi kerakyatan. Mereka menggandeng Koperasi Pemuda Kutim Hebat yang membina petani lokal untuk memasok bahan baku segar. Meski terkadang harus mencari stok tambahan ke toko-toko besar saat terjadi kelangkaan, prioritas utama tetap memberdayakan hasil bumi lokal Kutai Timur.
Dinan menambahkan bahwa tantangan terbesar seringkali muncul dari selera lokal yang terkadang bertabrakan dengan struktur gizi ideal. “Kendala paling besar itu masalah selera, ada yang minta kapurung atau ikan asin, tapi kan tidak sesuai struktur gizi. Kami hadirkan telur, ternyata ada anak yang bosan, jadi itulah tantangan edukasi gizinya,” tuturnya.
Penggunaan Bahan Alami
Untuk menjaga kesehatan jangka panjang para siswa, penggunaan penyedap rasa kimia atau vetsin dilarang keras di dapur ini. Sebagai gantinya, tim masak menggunakan kaldu jamur dengan dosis yang sangat terukur dan diawasi ketat agar rasa makanan tetap gurih namun tetap sehat bagi anak-anak. “Sesuai perintah pimpinan, kami dilarang penggunaan vetsin. Alternatifnya pakai kaldu jamur, itu pun dengan toleransi kadar yang tidak boleh berlebihan, tidak seperti penggunaan masako atau ajinomoto pada umumnya,” tegasnya.
Fasilitas dan Kesejahteraan Karyawan
Fasilitas untuk para pekerja pun diperhatikan dengan penyediaan mes karyawan yang memadai. Dengan total 42 relawan dapur dan 3 staf inti, ritme kerja diatur sedemikian rupa agar tidak melebihi beban kerja yang manusiawi, namun tetap produktif dalam menghasilkan ribuan porsi makanan berkualitas setiap Senin hingga Kamis.
Mengenai fleksibilitas menu, Dinan menjelaskan bahwa substitusi karbohidrat seperti mengganti nasi dengan ubi atau sagu bukanlah masalah selama unsur protein dan serat tetap terpenuhi. Hal ini dilakukan untuk mengadaptasi ketersediaan pangan lokal tanpa mengurangi nilai 4 sehat 5 sempurna.
Harapan Masa Depan
Menutup perbincangan, Dinan berharap program ini terus mendapat dukungan masyarakat demi memutus mata rantai stunting di Kutai Timur. “Harapan kami program ini dipertahankan baiknya. Kami ingin anak-anak tumbuh hebat tanpa stunting, karena ada kebanggaan tersendiri saat makanan yang kami masak membantu mereka menjadi orang sukses di masa depan,” pungkasnya.
- Soal Tes Kompetensi Akademik (TKA) SD Bahasa Indonesia 2026 - February 13, 2026
- The Science Behind the Modern Base Season: Why Zone 2 Falls Short Now - February 13, 2026
- Black Ops 7’s Ultimate Loadout: The Rapid-Fire Ricochet Rifle - February 13, 2026




Leave a Reply