Kisah Asmanidar: 35 Tahun Mengumpulkan Sampah, Satu Kali Kuliahkan Anak
Kehidupan Asmanidar, Pengepul Sampah Plastik di TPA Aie Dingin
Di tengah hamparan sampah yang penuh bau dan kotor, Asmanidar telah menghabiskan 35 tahun untuk mengepul sampah plastik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Aie Dingin, Kota Padang, Sumatera Barat. Aktivitas ini dilakukannya selama waktu luang, dengan alat sederhana yang ia gunakan untuk mencari botol-botol plastik yang bisa dijual kembali.
Asmanidar tidak melakukan pekerjaan ini setiap hari. Ia lebih memilih melakukannya saat ada waktu luang, seperti ketika tidak sedang berjualan di Tanjung Aua Nan XX atau berladang. Meskipun hasilnya tidak pasti, uang yang didapat cukup untuk membeli lauk pauk sehari-hari.
Setiap kali datang ke TPA, Asmanidar selalu membawa alat sederhana, yaitu besi berukuran 3 sentimeter dengan ujung yang dibengkokkan seperti mata kail. Dengan alat ini, ia mengambil botol plastik dari tumpukan sampah dan memasukkannya ke dalam karung. “Kadang sehari kurang dari dua karung ukuran 40 kilogram dapatnya. Tapi kalau karung kecil, bisa enam karung,” katanya.
Pekerjaan ini dimulai dari pagi hari, sekitar pukul 09:00 WIB hingga menjelang petang, tepatnya pukul 16:00 WIB. Ia selalu menggunakan topi matahari, baju batik, serta menutup mulut dan hidung dengan kain tipis berwarna hitam agar terhindar dari bau menyengat.

Proses Penyortiran Sampah Plastik
Sampah plastik yang dikumpulkan Asmanidar tidak langsung dijual. Ia terlebih dahulu melakukan penyortiran sesuai jenisnya. Mulai dari botol plastik, gelas plastik, hingga sampah plastik lainnya. Jika dipilah dan dikumpulkan sejenis, harganya bisa lebih tinggi.
Jika langsung dijual dengan kondisi bercampur, hanya dihargai oleh pembeli Rp1.700 per kilogram. Sedangkan jika dipilah, bisa mencapai Rp3.000 lebih sekilo untuk gelas plastik. Penyortiran dilakukan langsung di lokasi, di pondok yang sudah berdiri di tengah kawasan tersebut.
Tidak hanya dipilah, gelas plastik yang didapat harus dibersihkan bagian penutupnya, baru bisa dijual. “Kita sortir di sini, tidak dibawa ke rumah. Setelah selesai langsung dijual,” ujarnya.

Penghasilan yang Membantu Keluarga
Selama 35 tahun menekuni profesi ini, Asmanidar mampu menyekolahkan ketiga anaknya. Salah satu dari mereka bahkan berhasil menamatkan pendidikan tinggi di Universitas Negeri Padang (UNP). Baginya, uang dari hasil mengumpulkan botol plastik lebih menjanjikan dan instan.
Bau menyengat dari sampah sudah menjadi hal biasa baginya. Fokus utamanya adalah mengumpulkan sampah plastik sebanyak mungkin dalam setiap hari. Perizinan dalam mengepul sampah plastik di TPA Aie Dingin juga tidak memerlukan izin dari petugas. Cukup kemauan dan ketekunan dalam mencari, memilah, dan menerima hasil setelah dijual.
Meski hasilnya tidak seberapa, namun cukup untuk menghidupi ia dan keluarga. “Anak saya tiga, sekolahnya dari hasil ini semua, bahkan satu orang sudah tamat kuliah di UNP,” tambahnya sembari melanjutkan pekerjaan.
- 15 Camilan Kaya Magnesium untuk Membantu Anda Memenuhi Kebutuhan Harian Anda - February 13, 2026
- EPPD Issues Silver Alert for Missing 70-Year-Old Man with Schizophrenia - February 13, 2026
- Kisah Asmanidar: 35 Tahun Mengumpulkan Sampah, Satu Kali Kuliahkan Anak - February 13, 2026




Leave a Reply