Testimoni Kelas 1986 Mgr. Hans Monteiro di Seminari Menengah Hokeng

Dionisius Donatus, Alumni Seminari Menengah Hokeng, Hadir di Seminari Tinggi Interdiosesan Santu Petrus Ritapiret

Dionisius Donatus, alumnus Seminari Menengah Hokeng angkatan 1986, hadir di Seminari Tinggi Interdiosesan Santu Petrus Ritapiret pada Selasa (3/2/2026) pagi. Kehadirannya untuk memberikan penghormatan kepada sahabat seangkatannya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, yang baru saja terpilih menjadi Uskup Larantuka.

Kabar terpilihnya Mgr. Yohanes Hans Monteiro membawa kebahagiaan mendalam bagi keluarga besar alumni Seminari, khususnya bagi mereka yang pernah berbagi bangku pendidikan di masa muda. Salah satu ungkapan syukur yang paling emosional datang dari Dionisius Donatus, warga Paroki Bloro sekaligus teman seangkatan sang uskup terpilih Larantuka ini.

Di sela-sela acara penjemputan gembala baru Keuskupan Larantuka itu, Dionisius mengisahkan bahwa perjalanan mereka dimulai sejak tahun 1986. Saat itu mereka bersama-sama menempuh pendidikan di Seminari Menengah Hokeng. Kebersamaan tersebut berlanjut hingga lulus pada tahun 1990, kemudian berlanjut ke Seminari Nela, dan memasuki masa pendidikan di Ritapiret pada tahun 1991.

Pribadi yang Tenang dan Tekun

Dalam ingatan Dionisius, Mgr. Yohanes Hans Monteiro adalah sosok yang sejak masa Frater sudah menunjukkan kualitas pribadi yang luar biasa. Ia mengenang rekannya tersebut sebagai pribadi yang tenang, tekun, dan tidak banyak bicara, namun memiliki sikap santun yang konsisten kepada siapa pun.

“Ketika masih sama-sama di seminari, orangnya tenang dan tekun. Dia omong juga tidak banyak, orangnya tidak omong banyak, lalu bergaulnya itu dengan siapa saja dia bergaulnya baik. Orangnya sopan sekali. Sopan, tekun, tenang. Itu luar biasa dari Monsinyur,” ujar Dionisius dengan nada haru.

Kesetiaan dalam Persahabatan

Meski jalan hidup mereka berbeda, Dionisius memilih jalan hidup awam setelah menyelesaikan tingkat empat, sementara Mgr. Hans Monteiro melanjutkan panggilan hingga menjadi uskup. Walaupun Mgr. Hans sudah menjadi uskup, tali persaudaraan keduanya tidak pernah putus.

Baca Juga  Soal PAI Kelas 3 SD dan Kunci Jawaban, Ulangan Harian & Semester 2

Dionisius mengisahkan bagaimana sang Uskup terpilih tetap menunjukkan kepeduliannya sebagai sahabat, termasuk kehadirannya saat masa duka wafatnya ibunda Dionisius beberapa waktu lalu.

“Lalu saya bersyukur pada saat kematian mama saya. Monsinyur masih sempat untuk hadir pada saat pemakaman. Juga misa empat malam itu masih juga hadir. Itu sangat membanggakan bagi kami,” kenangnya.

Komunikasi antar-teman seangkatan pun masih terjalin erat melalui grup WhatsApp. “Kami komunikasi hanya di WA grup saja, saling sapa di WA grup, sampaikan ini profisiat, lalu beliau juga ucapkan terima kasih. Luar biasa,” tambahnya.

Kebanggaan di Tengah Kesederhanaan

Momen yang paling mengharukan bagi Dionisius adalah ketika Mgr. Hans secara terbuka memperkenalkannya sebagai teman seangkatan di depan khalayak. Bagi Dionisius, sikap tersebut membuktikan bahwa Mgr. Hans adalah pemimpin yang tetap mengakar dan tidak melupakan sahabat lama meski telah mengemban tanggung jawab besar di Gereja.

“Senang sekali ketika dia perkenalkan saya sebagai teman seangkatan itu. Saya bangga sekali. Dia tidak melupakan kami, biar kami sudah di luar, tapi tidak melupakan kami (awam). Senang sekali,” ungkapnya.

Profil Mgr. Hans Monteiro

Yang Mulia Mgr. Yohanes Hans Monteiro lahir pada 15 April 1971 di Larantuka, Flores Timur. Sejak muda, ia telah menapaki jalan panggilan imamat dengan masuk Seminari Menengah Santo Domingo Hokeng. Setelah itu, ia melanjutkan studi filsafat dan teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Ledalero, sebelum menjalani masa tahun pastoral di Paroki St. Yoseph Lewotobi.

Ia ditahbiskan menjadi imam pada 14 Juli 1999. Berikut adalah rangkaian karier dan pengabdian Mgr. Hans Monteiro:

  • Tahun 1999–2004 – Pengajar di Seminari Menengah Santo Domingo Hokeng
  • Tahun 2005–2018 – Menempuh Studi Lisensiat dan Doktorat Liturgi di Fakultas Teologi Katolik, Universitas Wina, Austria.
  • Tahun 2005–2018 – Melayani sebagai Vikaris Paroki di Gereja Franz-von-Assisi (Mexikoplatz) dan Gereja Maria Himmelfahrt di Bad Deutsch-Altenburg, Wina.
  • Sejak 2018 – Dosen Liturgi di IFTK Ledalero dan formator di Seminari Tinggi Antar Keuskupan St. Petrus Ritapiret, Keuskupan Maumere
  • Sejak 2022 – Anggota Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
Baca Juga  Here’s what error rates can say about a judge’s performance


unnamed Testimoni Kelas 1986 Mgr. Hans Monteiro di Seminari Menengah Hokeng