Rifqi Komara: Pembentukan Karakter Anak di Era Digital
jabar.Bisakimia, KABUPATEN BOGOR – Perkembangan teknologi digital yang pesat telah menghadirkan tantangan baru dalam dunia pendidikan, terutama di jenjang sekolah dasar (SD). Anak-anak usia dini kini tumbuh di tengah arus informasi yang cepat dan kedekatan yang nyaris tanpa jarak dengan gawai. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait ketahanan pendidikan karakter anak di tengah dominasi dunia digital.
Sekolah dasar selama ini dikenal sebagai fase awal pembentukan karakter anak secara sistematis. Tidak hanya mengajarkan kemampuan akademik dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung, SD juga menjadi ruang bagi anak untuk belajar nilai-nilai sosial, seperti disiplin, empati, kerja sama, serta pengendalian emosi. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting bagi sikap dan perilaku anak di masa depan.
Namun, tantangan zaman digital membawa dinamika baru. Akses informasi yang mudah sering kali tidak diiringi dengan kemampuan menyaring dan memahami makna secara kritis. Dalam praktik pembelajaran sehari-hari, anak dinilai semakin terbiasa dengan kecepatan dan keinstanan, sehingga proses belajar yang menuntut kesabaran kerap dianggap membosankan.
Interaksi sosial anak pun mengalami pergeseran. Ketergantungan pada layar berpotensi mengurangi kepekaan sosial dan empati jika tidak disertai pendampingan yang tepat. Situasi tersebut meskipun tampak sederhana, dapat berdampak panjang terhadap pembentukan karakter anak apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Dalam konteks ini, sekolah dasar memegang peran strategis sebagai penyeimbang. Pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui slogan atau hafalan nilai moral semata, melainkan melalui keteladanan dan pembiasaan yang konsisten. Anak belajar kejujuran dari sikap jujur guru, belajar disiplin dari budaya sekolah yang tertib, serta belajar empati dari cara orang dewasa memperlakukan mereka dengan hormat.
Guru sekolah dasar dinilai memiliki posisi kunci dalam proses tersebut. Di tengah tuntutan administrasi dan capaian akademik, guru tetap menjadi figur utama yang diamati dan diteladani peserta didik. Cara guru berkomunikasi, menyelesaikan konflik, hingga menggunakan teknologi akan terekam kuat dalam ingatan anak.
Pendidikan karakter di era digital juga tidak dimaknai sebagai penolakan terhadap teknologi. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana penanaman nilai, seperti melalui pengenalan literasi digital yang sederhana dan kontekstual. Etika berkomunikasi di ruang digital, penghargaan terhadap karya orang lain, serta kemampuan membedakan informasi yang benar dan menyesatkan dapat diperkenalkan secara bertahap sesuai usia anak.
Selain peran guru, budaya sekolah turut berpengaruh besar dalam membentuk karakter peserta didik. Kebiasaan sederhana seperti salam pagi, diskusi kelas, kerja kelompok, dan refleksi singkat dinilai lebih bermakna jika dilakukan secara konsisten dibandingkan program besar yang tidak berkelanjutan.
Pendidikan karakter juga tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Sinergi antara sekolah dan orang tua menjadi faktor penting, terutama di era digital ketika ruang belajar anak meluas hingga ke rumah dan lingkungan sosial. Keselarasan nilai antara rumah dan sekolah membantu anak memahami bahwa karakter bukan sekadar tuntutan akademik, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di tengah kemajuan teknologi, pendidikan karakter anak SD dipandang sebagai investasi jangka panjang yang tidak bisa ditunda. Sekolah dasar bukan hanya tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang awal anak belajar menjadi manusia. Dengan fondasi karakter yang kuat sejak dini, teknologi justru dapat menjadi mitra dalam membentuk generasi yang cerdas, beretika, dan berkepribadian kuat.
- Rifqi Komara: Pembentukan Karakter Anak di Era Digital - February 7, 2026
- Why Statins Cause Muscle Pain in Some People - February 7, 2026
- Kasus campak dilaporkan di wilayah Upstate: DPH - February 7, 2026




Leave a Reply