Tren HIV/AIDS Meningkat, Pengobatan ARV Belum Maksimal
PALANGKA RAYA
– Tren penemuan kasus baru HIV/AIDS di Kalimantan Tengah (Kalteng) menunjukkan peningkatan dalam dua tahun terakhir. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah Orang Dengan HIV (ODHIV) baru pada 2025 mencapai 487 kasus, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 419 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng, Suyuti Syamsul menyebutkan, Kota Palangka Raya kembali menjadi daerah dengan temuan kasus tertinggi selama dua tahun berturut-turut. Pada 2024, Palangka Raya mencatat 143 kasus ODHIV baru. Tahun 2025 masih menjadi yang tertinggi dengan 120 kasus.
Selain Palangka Raya, kasus HIV/AIDS terbanyak juga ditemukan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yakni 82 kasus pada 2024 dan 78 kasus pada 2025. Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menyusul dengan 66 kasus pada 2024 dan meningkat menjadi 71 kasus pada 2025.
Sementara itu, Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) tercatat sebagai wilayah dengan temuan terendah, yakni nol kasus pada 2024 dan satu kasus pada 2025.
Meski jumlah kasus meningkat, capaian pengobatan dinilai belum sepenuhnya optimal. Pada 2024, dari 419 ODHIV baru, sebanyak 375 orang tercatat memulai terapi Antiretroviral (ARV). Namun pada 2025, dari 487 ODHIV baru, hanya 359 orang yang memulai terapi.
“Ini menjadi perhatian karena terdapat selisih yang cukup besar antara kasus yang ditemukan dengan yang memulai pengobatan,” jelas Suyuti.
Berdasarkan tinjauan lapangan, peningkatan kasus HIV/AIDS di Kalteng dipengaruhi sejumlah faktor, terutama perilaku seksual berisiko seperti berganti-ganti pasangan dan tidak menggunakan kondom. Faktor usia, jenis kelamin, serta status sosial ekonomi juga turut berperan dalam penularan.
Pada 2025, kelompok risiko dengan temuan ODHIV baru tertinggi adalah Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) sebanyak 125 kasus. Disusul populasi umum 87 kasus, pasangan berisiko tinggi 59 kasus, serta pelanggan pekerja seks sebanyak 52 kasus.
Untuk mendukung upaya penanggulangan, seluruh fasilitas layanan kesehatan di Kalteng telah mampu melakukan pemeriksaan HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS). Selain itu, tersedia 85 layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota.
Suyuti menambahkan, data kasus HIV/AIDS tahun 2026 belum dapat dianalisis karena proses kompilasi dilakukan pada tanggal 5–15 setiap bulan berikutnya. “Data Januari 2026 masih dalam proses pengumpulan,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan dan pengendalian, Dinkes Kalteng terus mendorong edukasi kesehatan, skrining di puskesmas dan rumah sakit, pemenuhan alat tes HIV dan kondom bagi populasi kunci, penyediaan obat ARV dan IMS, serta pemeriksaan Viral Load gratis untuk memantau keberhasilan terapi.
Beberapa strategi utama yang diterapkan oleh Dinkes Kalteng meliputi:
- Peningkatan kesadaran masyarakat melalui program edukasi kesehatan yang berkelanjutan.
- Pelaksanaan skrining rutin di puskesmas dan rumah sakit untuk deteksi dini.
- Penyediaan alat tes HIV dan kondom secara gratis atau murah bagi populasi rentan.
- Akses mudah terhadap obat Antiretroviral (ARV) dan obat untuk Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS).
- Pemeriksaan Viral Load gratis yang bertujuan untuk memantau efektivitas terapi dan menghindari resistensi obat.
Selain itu, Dinkes Kalteng juga bekerja sama dengan berbagai organisasi non-pemerintah dan lembaga kesehatan untuk memperluas cakupan layanan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pencegahan HIV/AIDS.
Faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan kasus HIV/AIDS di Kalteng antara lain:
- Perilaku seksual berisiko seperti berganti-ganti pasangan tanpa penggunaan alat kontrasepsi.
- Kurangnya akses terhadap informasi dan layanan kesehatan reproduksi.
- Stigma dan diskriminasi terhadap individu yang terinfeksi HIV/AIDS.
- Ketidaksetaraan sosial dan ekonomi yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengakses layanan kesehatan.
- Keterbatasan sumber daya dan infrastruktur kesehatan di beberapa daerah terpencil.
Dengan adanya peningkatan ini, Dinkes Kalteng terus berupaya untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan memastikan semua masyarakat memiliki akses yang sama terhadap layanan pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS.
Langkah-langkah penting yang perlu diambil untuk mengurangi penyebaran HIV/AIDS di Kalteng meliputi:
- Penguatan sistem pelayanan kesehatan dengan peningkatan jumlah tenaga medis dan fasilitas kesehatan.
- Peningkatan koordinasi antar lembaga dan organisasi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan.
- Pengembangan program edukasi yang lebih inovatif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
- Peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosialisasi dan skrining kesehatan.
- Pemantauan dan evaluasi berkala terhadap kebijakan dan program pencegahan HIV/AIDS.
- Rekomendasi praktik klinis untuk transplantasi sel hematopoietik dan terapi CAR-T, baru untuk tahun 2025 - February 6, 2026
- Top Baby Bottles for 2026: Anti-Colic to Breast-Like Styles - February 6, 2026
- Tren HIV/AIDS Meningkat, Pengobatan ARV Belum Maksimal - February 6, 2026




Leave a Reply