Dindik Jatim Kuatkan Sekolah Inklusif, Latih Ratusan Guru SMA-SMK Kompetensi GPK
Workshop Pelatihan Dasar Pendidikan Inklusif untuk Guru dan Kepala Sekolah di Jawa Timur
Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur (Jatim) mengambil langkah konkret untuk memperkuat layanan pendidikan inklusif di wilayahnya. Langkah ini diwujudkan melalui Workshop Pelatihan Tingkat Dasar Pendidikan Inklusif bagi kepala sekolah dan guru jenjang SMA dan SMK. Kegiatan yang dipusatkan di SMKN 6 Surabaya ini, berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 3 hingga 6 Februari 2026.
Total peserta mencapai 150 orang yang berasal dari satuan pendidikan di wilayah Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo. Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas masih terbatasnya ketersediaan Guru Pendamping Khusus (GPK) di sekolah-sekolah reguler di Jatim.
Perubahan Pola Pikir dan Praktik Pembelajaran
Workshop ini menekankan perubahan pola pikir dan praktik nyata pembelajaran berdiferensiasi di ruang kelas. Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat layanan pendidikan yang adil dan bermartabat.
Menurut Aries, setiap anak memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa diseragamkan begitu saja. Adaptasi dari pihak sekolah dan guru menjadi kunci keberhasilan pendidikan inklusif. “Setiap anak itu unik dan tidak bisa diseragamkan. Pendidikan inklusif tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi membutuhkan mindset yang benar, kebijakan sekolah yang adaptif, serta kompetensi guru dalam pembelajaran dan asesmen,” ujarnya.
Tantangan Pendidikan Inklusif
Aries juga mengakui, bahwa tantangan pendidikan inklusif di sekolah masih cukup kompleks. Beberapa masalah yang sering ditemui di lapangan antara lain guru yang belum percaya diri menangani Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK), kurikulum dan asesmen yang belum adaptif, hingga kebijakan internal sekolah yang belum sepenuhnya berpihak pada prinsip inklusi.
“Penguatan pendidikan inklusif harus berjalan dari mindset hingga praktik di kelas. Mulai dari kebijakan dan manajemen sekolah, identifikasi dan asesmen PDBK, penyediaan akomodasi yang layak, pembelajaran berdiferensiasi, hingga penyusunan Program Pembelajaran Individual (PPI) dan Rencana Tindak Lanjut (RTL),” jelas Aries.
Fokus pada Kualitas Layanan
Saat ini, Jawa Timur sebenarnya telah memiliki ratusan satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Namun, Dindik Jatim menegaskan, bahwa fokus utama ke depan bukan lagi sekadar mengejar jumlah sekolah, melainkan meningkatkan kualitas layanan.
“Penguatan kapasitas kepala sekolah dan guru menjadi prioritas kami. Kami ingin pendidikan inklusif benar-benar hidup di ruang kelas, bukan sekadar tertulis di dokumen administrasi,” tandas Aries.
Materi Pelatihan dan Fokus Pengembangan
Berdasarkan pantauan, rangkaian materi yang diberikan kepada 150 peserta workshop meliputi berbagai aspek teknis dan manajerial, di antaranya:
- Kebijakan dan manajemen pendidikan inklusif di jenjang SMA dan SMK.
- Pembangunan mindset positif bagi tenaga pendidik.
- Proses identifikasi awal dan asesmen kebutuhan belajar bagi PDBK.
- Penyediaan akomodasi yang layak bagi siswa berkebutuhan khusus.
- Penyusunan kurikulum modifikasi dan Program Pembelajaran Individual (PPI).
- Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen adaptif.
- Diseminasi praktik baik dan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) bagi masing-masing sekolah.
Tips Menghadirkan Sekolah Ramah Inklusi
Pendidikan inklusif bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan memerlukan dukungan ekosistem yang sehat. Bagi orang tua dan pihak sekolah, berikut beberapa poin penting untuk menunjang pendidikan inklusif yang optimal:
- Identifikasi Dini: Orang tua disarankan melakukan asesmen ahli sebelum anak masuk sekolah reguler, agar sekolah bisa mempersiapkan pendampingan yang tepat.
- Lingkungan Tanpa Stigma: Sekolah wajib membangun budaya saling menghargai untuk mencegah perundungan terhadap siswa berkebutuhan khusus.
- Komunikasi Intensif: Perlu koordinasi berkala antara guru kelas, guru pendamping, dan orang tua dalam memantau perkembangan Program Pembelajaran Individual (PPI) anak.
- Sinergi Masyarakat: Warga sekolah diharapkan memberikan dukungan sosial yang empatik guna menciptakan ekosistem pendidikan yang setara bagi semua anak.
- AI dapat memperkuat kesiapan menghadapi wabah - February 6, 2026
- Dindik Jatim Kuatkan Sekolah Inklusif, Latih Ratusan Guru SMA-SMK Kompetensi GPK - February 6, 2026
- SmileHub Unveils 2026 Top States for Women’s Health - February 6, 2026




Leave a Reply