Ketika Ruang Rawat Penuh, Mengapa Empati Tetap Harus Ada?

AA1VxwFy Ketika Ruang Rawat Penuh, Mengapa Empati Tetap Harus Ada?
Kasus penolakan pasien kembali menjadi perhatian masyarakat. Dalam beberapa hari terakhir, media sosial dihebohkan oleh video keluarga pasien lansia di Tebing Tinggi yang mengaku kesulitan mendapatkan perawatan rumah sakit karena alasan “kamar penuh”. Peristiwa serupa juga dilaporkan terjadi di Bangkalan dan Bekasi.

Fenomena ini kembali memunculkan pertanyaan penting: ketika fasilitas kesehatan dalam kondisi penuh, bagaimana seharusnya sistem merespons pasien yang datang dalam keadaan darurat?

Bagi tenaga medis dan manajemen rumah sakit, ketersediaan tempat tidur adalah masalah teknis. Namun bagi pasien dan keluarganya, jawaban “penuh” sering kali terasa sebagai penolakan di saat paling genting. Di sinilah pentingnya komunikasi dan empati dalam proses pelayanan kesehatan.

Pasien Tidak Datang untuk Ditolak

Pasien dan pendampingnya tidak datang ke Instalasi Gawat Darurat untuk berdebat soal data ketersediaan tempat tidur. Mereka datang dengan harapan agar nyawa orang yang mereka cintai bisa diselamatkan. Ketika respons yang diterima hanya bersifat administratif dan kaku, konflik hampir tak terhindarkan.

Dari sudut pandang pasien, yang dibutuhkan dalam keadaan darurat bukan sekadar informasi “ada” atau “tidak ada” kamar, melainkan kepastian bahwa mereka tidak ditinggalkan. Pertolongan awal, penjelasan yang jelas, serta arahan rujukan yang konkret menjadi kebutuhan mendesak.

Perbedaan Bahasa Medis dan Bahasa Pasien

Banyak konflik layanan kesehatan yang viral di media sosial sejatinya berasal dari perbedaan cara pandang. Bahasa medis yang teknis sering kali tidak sejalan dengan bahasa pasien yang emosional dan penuh kecemasan.

Kalimat “kamar penuh, silakan cari rumah sakit lain” tentu berbeda dampaknya dibandingkan dengan penjelasan bahwa rumah sakit sedang padat, namun pasien tetap akan distabilkan sambil dibantu proses rujukan. Secara klinis mungkin hasil akhirnya sama, tetapi secara psikologis dan kemanusiaan, dampaknya sangat berbeda.

Baca Juga  Pengambilan Data TPG Triwulan 3 2025 Tahap 2 Dimulai, Prioritas SKTP Oktober?

Di tengah tekanan kerja dan risiko kelelahan tenaga kesehatan, aspek empati tetap tidak bisa diabaikan. Terlebih, regulasi kesehatan di Indonesia menegaskan bahwa dalam kondisi gawat darurat, keselamatan nyawa harus menjadi prioritas utama.

Belajar dari Kasus yang Berulang

Kasus penolakan pasien yang terus berulang seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama. Bukan hanya soal penambahan fasilitas atau distribusi tempat tidur, tetapi juga tentang standar komunikasi dalam situasi krisis.

Bagi pasien dan pendamping pasien, kejelasan prosedur dan sikap manusiawi sering kali sama pentingnya dengan tindakan medis itu sendiri. Ketika komunikasi gagal, kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan pun ikut terkikis.

Perbaikan sistem kesehatan tidak cukup hanya dengan teknologi dan infrastruktur. Pendekatan yang lebih manusiawi, transparan, dan berorientasi pada pengalaman pasien menjadi pekerjaan rumah yang tak kalah penting.

Karena pada akhirnya, pasien mungkin lupa detail tindakan medis yang diberikan, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana mereka diperlakukan saat berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.

unnamed Ketika Ruang Rawat Penuh, Mengapa Empati Tetap Harus Ada?