Diskusi Orang Tua di Taman Karya Anak Sakola Motekar Ciamis: Ruang Belajar Parenting yang Relevan dan Membumi

Taman Karya Anak: Ruang Alternatif Pengasuhan dan Pendidikan Inklusif

Libur sekolah sering kali menjadi tantangan bagi para orang tua, terutama bagi ibu-ibu. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai, sementara kebiasaan mandi dan aktivitas dasar lainnya menjadi tugas yang melelahkan. Tidak semua orang tua memiliki waktu, kemampuan, atau biaya untuk menitipkan anak di lembaga pengasuhan yang jauh dan mahal.

Dari kekhawatiran tersebut, Sakola Motekar Ciamis kembali menghadirkan Taman Karya Anak sebagai ruang alternatif pengasuhan dan pendidikan yang inklusif. Program ini bertujuan untuk memberikan wadah yang aman dan bermanfaat bagi anak-anak selama masa liburan.

Berlangsung Selama Satu Minggu, Diikuti Banyak Peserta

Taman Karya Anak #6 diselenggarakan pada liburan sekolah akhir tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung selama satu minggu, mulai dari Minggu, 28 Desember 2025, hingga Sabtu, 4 Januari 2026. Puncak acara dilaksanakan melalui Gelar Karya dan Lelang Karya di Lembur Kaulinan Cibunar, Desa Sukajadi, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis.

Jumlah peserta dalam kegiatan ini mencapai sekitar 70 anak dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP hingga SMA. Yang menarik, peserta tidak hanya berasal dari Ciamis, tetapi juga dari daerah seperti Sukabumi, Bandung, Kota Banjar, dan Majalengka. Selain itu, sebanyak 40 relawan dari berbagai kota dan universitas turut serta dalam program ini, meskipun tidak semua dari mereka aktif secara penuh.

Forum Diskusi Orang Tua: Saling Belajar dan Berbagi Pengalaman

Salah satu aspek penting dalam Taman Karya Anak adalah forum diskusi orang tua yang berlangsung paralel dengan aktivitas anak. Saat anak-anak sibuk berkarya, para orang tua—terutama ibu-ibu—dikumpulkan dalam forum diskusi kepengasuhan atau parenting. Forum ini menjadi ruang aman untuk saling berbagi pengalaman, keluhan, dan refleksi seputar karakter anak, pola asuh di rumah, hingga kritik terhadap sistem pendidikan formal.

Baca Juga  Hari Guru: Ucapan Selamat dan Terima Kasih dalam Bahasa Arab

Diskusi ini bukan sekadar obrolan ringan, melainkan proses belajar bersama. Banyak orang tua menyadari bahwa pendidikan tidak selalu identik dengan sekolah, dan belajar tidak selalu harus melalui mata pelajaran. Kesadaran ini muncul dari dialog yang jujur dan pengalaman nyata sesama orang tua.

Dampak Positif yang Terasa Langsung

Banyak orang tua merasakan dampak positif dari kegiatan ini. Bu Maliha, salah satu peserta diskusi parenting, mengungkapkan perubahan signifikan pada anaknya, mulai dari kebiasaan bangun pagi, merapikan tempat tidur, hingga membantu pekerjaan rumah. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan anak adalah kerja kolektif.

Program Taman Karya Anak tidak hanya bermanfaat bagi anak, tetapi juga memperkuat kapasitas orang tua dan relawan dalam memahami esensi pengasuhan. Dengan konsistensi penyelenggaraan dan keterlibatan lintas lapisan masyarakat, Taman Karya Anak layak menjadi model praktik baik pendidikan berbasis komunitas di Indonesia.

Keberlanjutan dan Masa Depan

Taman Karya Anak #6 merupakan bagian dari program rutin yang telah berjalan sejak 2022 dan dilaksanakan setiap enam bulan sekali secara gratis dan terbuka untuk umum. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat memberikan alternatif pengasuhan dan pendidikan yang lebih inklusif dan mendukung perkembangan anak secara holistik.

Kehadiran Taman Karya Anak juga menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah, tetapi bisa berlangsung di mana pun, termasuk di tengah komunitas lokal. Dengan kolaborasi antara orang tua, relawan, dan masyarakat, Taman Karya Anak menjadi contoh yang baik dalam menciptakan lingkungan yang ramah dan mendukung bagi anak-anak.


unnamed Diskusi Orang Tua di Taman Karya Anak Sakola Motekar Ciamis: Ruang Belajar Parenting yang Relevan dan Membumi