Opini: Pentingnya Manajemen Karier di SMA di Tengah Kebisingan Hasil TKA
Peran Manajemen Karier dalam Pendidikan Menengah
Di penghujung tahun 2025, dunia pendidikan menengah Indonesia diramaikan oleh pengumuman hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA). Perbincangan publik tidak hanya berkisar pada capaian nilai, tetapi juga pada keterbatasan akses hasil asesmen tersebut bagi sebagian satuan pendidikan dan murid. Situasi ini memunculkan beragam tafsir, kegelisahan, dan kecemasan, baik di kalangan murid, orang tua, maupun pendidik.
Riuh hasil TKA sesungguhnya menyingkap persoalan yang lebih mendasar dalam pendidikan menengah. Di balik angka, grafik, dan perbandingan capaian, muncul pertanyaan reflektif tentang makna pendidikan SMA itu sendiri. Apakah SMA sungguh menjadi ruang pembentukan manusia muda yang mengenal diri dan arah hidupnya, atau justru tereduksi menjadi ruang persiapan menghadapi seleksi demi seleksi.
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika murid mengalami tekanan psikologis yang tidak selalu sebanding dengan kesiapan reflektif mereka. Berbagai pernyataan pemerintah menegaskan bahwa asesmen akademik bukan satu-satunya penentu dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi. Nilai TKA diposisikan sebagai syarat administratif atau pelengkap, bukan faktor tunggal penentu kelulusan seleksi. Namun, dalam praktik di lapangan, murid tetap merasakan kecemasan yang besar karena asesmen akademik sering dipersepsi sebagai ukuran nilai diri.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan makro dan pengalaman mikro murid di sekolah. Kesenjangan tersebut menuntut refleksi yang lebih mendalam dari satuan pendidikan. Sekolah tidak cukup hanya menjelaskan mekanisme seleksi, tetapi perlu mendampingi murid memahami makna belajar dan tujuan hidupnya. Tanpa pendampingan yang memadai, asesmen akademik berisiko menjadi sumber kecemasan alih-alih sarana pengembangan diri.
Dari titik inilah urgensi manajemen karier di SMA menjadi semakin nyata. Masa SMA merupakan fase krusial dalam perkembangan identitas remaja. Pada tahap ini, murid sedang membangun pemahaman tentang diri, nilai hidup, dan peran sosial yang ingin mereka jalani di masa depan. Berbagai studi menunjukkan bahwa remaja yang tidak mendapatkan pendampingan reflektif cenderung mengalami kebingungan identitas dan kesulitan mengambil keputusan jangka panjang.
Oleh karena itu, pendidikan SMA tidak dapat dipersempit hanya pada penguasaan materi akademik. Dalam konteks asesmen dan seleksi yang semakin kompetitif, sekolah sering kali terjebak pada logika hasil. Murid didorong untuk mencapai nilai tertentu tanpa diajak memahami relevansi belajar bagi kehidupan mereka. Akibatnya, proses pendidikan kehilangan dimensi maknanya.
Fenomena ini sejalan dengan temuan Savickas et al. (2020) yang menyebut bahwa kegagalan pendidikan karier sering berakar pada absennya dialog makna dalam pembelajaran. Banyak murid yang secara akademik tergolong berhasil, tetapi merasa asing terhadap dirinya sendiri. Mereka mampu mengerjakan soal dengan baik, namun kesulitan menjawab pertanyaan tentang minat, nilai, dan tujuan hidup.
Kondisi ini sering baru disadari ketika murid harus mengambil keputusan besar, seperti memilih jurusan atau jalur pendidikan lanjutan. Pada titik inilah kebingungan arah hidup muncul secara nyata. Sekolah memiliki peran strategis untuk mencegah kebingungan tersebut. Dengan menjadikan SMA sebagai ruang refleksi dan eksplorasi, murid dapat dilatih mengenali dirinya secara bertahap.
Pendidikan yang demikian tidak meniadakan asesmen akademik, tetapi menempatkannya dalam kerangka pengembangan manusia seutuhnya. Pendekatan inilah yang menjadi dasar pemikiran manajemen karier di SMA.
Contoh Program Pendampingan Karier di SMA
Program pertama adalah mentoring alumni terstruktur yang dirancang secara berkelanjutan. Alumni dilibatkan sebagai narator perjalanan hidup, bukan sebagai promotor institusi pendidikan atau profesi tertentu. Melalui perjumpaan rutin, murid mendengarkan kisah nyata tentang pilihan, kegagalan, dan penyesuaian hidup yang dialami alumni. Pendekatan naratif ini terbukti efektif dalam membantu murid membangun harapan yang realistis.
Relasi lintas generasi dalam mentoring alumni memberi ruang dialog yang autentik. Murid belajar bahwa jalur hidup tidak selalu lurus dan sukses tidak datang secara instan. Kisah nyata alumni membantu murid mengelola ekspektasi terhadap diri sendiri dan lingkungan. Dengan demikian, mentoring alumni berfungsi sebagai pembelajaran kehidupan yang konkret.
Program kedua adalah sesi narasi karier yang dilakukan secara terstruktur. Murid diminta menulis kisah hidup, pengalaman belajar bermakna, nilai yang diyakini, serta aspirasi masa depan. Proses menulis ini membantu murid melakukan klarifikasi diri dan refleksi mendalam. Guichard (2021) menegaskan bahwa narasi personal merupakan alat penting dalam pembentukan identitas karier.
Program ketiga adalah observasi dunia kerja atau job shadowing. Murid diberi kesempatan mengamati langsung praktik kerja di berbagai bidang melalui kunjungan atau kerja sama dengan mitra eksternal. Pengalaman ini memperkaya pemahaman murid tentang realitas profesi yang sering kali tidak tergambar dalam buku pelajaran.
Program keempat dan kelima adalah integrasi isu karier dalam pembelajaran serta pengembangan portofolio karier murid. Guru mengaitkan materi ajar dengan konteks profesi dan kehidupan nyata. Sementara itu, portofolio karier menjadi alat refleksi berkelanjutan yang mendokumentasikan perkembangan diri murid dari waktu ke waktu.
SOP Pendampingan Karier di Tingkat SMA
Agar pendampingan karier berjalan sistematis, sekolah perlu memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas dan terdokumentasi. SOP diawali dengan pembentukan tim pendampingan karier yang melibatkan kepala sekolah, guru BK, wali kelas, dan perwakilan guru mata pelajaran. Tim ini bertanggung jawab merancang kebijakan, program, dan mekanisme evaluasi.
Tahap perencanaan dilakukan pada awal tahun ajaran dengan pemetaan kebutuhan murid berdasarkan jenjang. Kelas X difokuskan pada pengenalan diri dan eksplorasi minat, kelas XI pada eksplorasi pilihan pendidikan dan profesi, serta kelas XII pada pengambilan keputusan dan transisi pasca-SMA. Setiap tahap memiliki tujuan, indikator capaian, dan instrumen evaluasi yang jelas.
Tahap pelaksanaan mencakup kegiatan terjadwal seperti mentoring, lokakarya karier, sesi refleksi, dan observasi dunia kerja. Setiap kegiatan didokumentasikan dalam portofolio karier murid. Guru BK berperan sebagai koordinator utama, sementara wali kelas memastikan keberlanjutan pendampingan di tingkat kelas.
Tahap monitoring dilakukan melalui refleksi berkala murid dan umpan balik dari orang tua. Evaluasi program dilaksanakan minimal setiap semester melalui rapat tim pendampingan. Hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki desain program dan metode pendampingan.
Keberadaan SOP menjamin bahwa pendampingan karier tidak bergantung pada figur tertentu. Program menjadi bagian dari budaya sekolah yang berkelanjutan. Dengan demikian, manajemen karier dapat terus berjalan meskipun terjadi pergantian kepemimpinan atau guru.
- Soal dan Pembahasan Termokimia untuk Tingkat SMA - January 31, 2026
- Beban Mengajar Guru Tidak Terbaca di GTK 2026? Ini Penyebab dan Solusinya - January 31, 2026
- Patient Mistaken for Valet, Given Ticket by Rude Woman - January 31, 2026




Leave a Reply