SpaceX Luncurkan Ribu Satelit Starlink, Operasi Deorbit Terbesar dalam Sejarah
Perubahan Besar dalam Konstelasi Satelit Starlink
Perusahaan antariksa SpaceX, yang didirikan oleh Elon Musk, baru-baru ini mengumumkan langkah signifikan untuk meningkatkan keselamatan orbit Bumi. Langkah ini terkait dengan penurunan ketinggian orbit ribuan satelit Starlink guna mengurangi risiko tabrakan di luar angkasa.
Menurut laporan dari Fast Technology pada 2 Januari, SpaceX akan melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap konstelasi satelitnya. Seluruh satelit yang saat ini beroperasi di ketinggian sekitar 550 kilometer akan diturunkan ke orbit sekitar 480 kilometer. Wakil Presiden Teknik Starlink, Michael Nichols, menjelaskan bahwa perubahan ini bertujuan untuk memindahkan satelit ke lapisan orbit yang lebih longgar, sehingga risiko tabrakan dapat diminimalkan.
Selain itu, penurunan ketinggian orbit juga membantu satelit yang mengalami gangguan teknis untuk lebih cepat keluar dari orbit dan terbakar di atmosfer. Hal ini sangat penting dalam menekan potensi terbentuknya sampah antariksa yang semakin meningkat.
Nichols menyebutkan bahwa sekitar 4.400 satelit Starlink akan terlibat dalam penurunan orbit ini sepanjang tahun ini. Ini akan menjadi operasi deorbit satelit terbesar dalam sejarah manusia. Dengan langkah ini, SpaceX berupaya memastikan bahwa satelit Starlink tetap aman dan tidak menjadi ancaman bagi objek lain di luar angkasa.
Keputusan ini juga berkaitan erat dengan aktivitas Matahari. Siklus Matahari berlangsung sekitar 11 tahun dan sangat memengaruhi kepadatan atmosfer atas Bumi. Menjelang minimum Matahari yang diperkirakan terjadi pada awal 2030-an, kepadatan atmosfer akan menurun, membuat satelit bertahan lebih lama di orbit.
Dengan menurunkan ketinggian orbit, waktu peluruhan alami yang semula bisa mencapai lebih dari empat tahun dapat dipersingkat menjadi hanya beberapa bulan. Bahkan, laju deorbit bisa meningkat hingga lebih dari 80 persen. Hal ini sangat penting untuk memastikan bahwa satelit yang tidak berfungsi lagi tidak mengganggu lingkungan orbit Bumi.
Namun, sebagai jaringan satelit terbesar di dunia, Starlink juga menghadapi tantangan serius. Laporan menyebutkan bahwa antara Desember 2024 hingga Mei 2025, satelit Starlink melakukan lebih dari 140 ribu manuver penghindaran tabrakan. Tidak hanya itu, pada 2021 lalu, satelit Starlink sempat dua kali mendekati Stasiun Luar Angkasa China, sehingga memaksa stasiun tersebut melakukan manuver darurat demi keselamatan para astronot.
Tantangan dan Solusi untuk Masa Depan
Langkah-langkah yang dilakukan oleh SpaceX menunjukkan komitmen perusahaan untuk menjaga keselamatan dan keberlanjutan lingkungan luar angkasa. Penurunan ketinggian orbit satelit Starlink adalah salah satu upaya penting dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks di luar angkasa.
Beberapa faktor yang memengaruhi keputusan ini termasuk siklus Matahari, kepadatan atmosfer, dan jumlah satelit yang semakin meningkat. Dengan strategi ini, SpaceX berharap dapat mengurangi risiko tabrakan dan mempercepat proses deorbit satelit yang tidak berfungsi.
Selain itu, langkah ini juga membuka jalan bagi pengembangan teknologi dan sistem manajemen satelit yang lebih canggih. Dengan adanya peningkatan jumlah satelit di orbit Bumi, penting bagi perusahaan seperti SpaceX untuk terus berinovasi dan memastikan bahwa setiap satelit memiliki rencana pengelolaan yang jelas.
- Pleasant Grove Cancer Survivor Shines in National Baking Contest - January 28, 2026
- Lomba luar angkasa lainnya: Mengapa dunia terobsesi mengirimkan benda ke orbit - January 28, 2026
- SpaceX Luncurkan Ribu Satelit Starlink, Operasi Deorbit Terbesar dalam Sejarah - January 28, 2026



Leave a Reply