437 Madrasah Aceh Siap Kembali Beraktivitas, 63 Unit Belum Siap
Kesiapan Madrasah di Aceh untuk Pembelajaran Tatap Muka
Sebanyak 437 unit madrasah di berbagai kabupaten dan kota di Aceh yang terdampak bencana hidrometeorologi mulai bersiap melaksanakan pembelajaran tatap muka pada 5 Januari mendatang. Data ini diperoleh dari laporan Tim Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2025 Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Aceh.
Ketua Tim Tanggap Darurat, Khairul Azhar, menyampaikan bahwa dari total 500 madrasah yang terdampak bencana, sebanyak 437 telah siap menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (PBM) secara langsung. Ia mengapresiasi semangat para pendidik, tenaga kependidikan, serta dukungan masyarakat dalam memulihkan layanan pendidikan bagi anak-anak.
Meski demikian, masih ada 63 madrasah yang belum siap melaksanakan PBM. Daerah dengan jumlah madrasah yang belum siap paling banyak adalah Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Berikut rincian penyebarannya:
- Aceh Utara: 19 madrasah
- Aceh Tamiang: 17 madrasah
- Aceh Tengah: 14 madrasah
- Pidie Jaya: 7 madrasah
- Bireuen: 4 madrasah
- Bener Meriah: 2 madrasah
Kendala yang Dihadapi
Menurut Khairul Azhar, kendala utama yang dihadapi madrasah-madrasah tersebut meliputi:
- Belum rampungnya pembersihan ruang kelas dan halaman sekolah yang masih dipenuhi lumpur
- Ruang kelas yang tertimbun material banjir
- Akses jalan menuju madrasah yang belum dapat dilalui
- Beberapa wilayah masih menggunakan madrasah sebagai lokasi pengungsian
- Adanya kawasan yang berstatus siaga bencana, seperti di Bener Meriah
Selain itu, ada 10 lembaga pendidikan yang roboh atau hanyut karena banjir. Meskipun demikian, madrasah-madrasah ini tetap siap melaksanakan PBM, meski harus direlokasi ke tempat sementara seperti masjid/meunasah, lapangan desa, atau lapangan milik madrasah yang masih ada.
Upaya Percepatan Pemulihan
Khairul Azhar menjelaskan bahwa Kemenag terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, satuan pendidikan, serta relawan untuk mempercepat proses pemulihan sarana dan prasarana madrasah. Tujuan dari upaya ini adalah agar seluruh peserta didik dapat segera kembali mengikuti pembelajaran secara aman dan nyaman.
“Kami terus melakukan pendampingan dan koordinasi agar madrasah yang belum siap dapat segera menyusul. Prinsipnya, PBM hanya akan dilaksanakan jika kondisi benar-benar aman dan nyaman bagi peserta didik dan guru,” ujarnya.
Komitmen Kemenag Aceh
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, menegaskan komitmen Kemenag dalam memastikan layanan pendidikan madrasah tetap berjalan, meski di tengah keterbatasan akibat bencana.
“Pendidikan adalah layanan dasar yang harus segera dipulihkan. Namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Karena itu, kami mendorong percepatan pemulihan sarana prasarana madrasah tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kesiapsiagaan bencana,” katanya.
Ia juga mengapresiasi solidaritas berbagai pihak yang telah membantu proses pemulihan madrasah, mulai dari relawan, aparat pemerintah daerah, hingga masyarakat sekitar.
Dengan berangsur pulihnya kondisi madrasah pascabencana, Kemenag Aceh berharap seluruh peserta didik dapat segera kembali mengikuti pembelajaran secara normal, sehingga hak anak atas pendidikan tetap terpenuhi meski dalam kondisi darurat.




Leave a Reply