Inisiasi Kelas Belajar Isyarat, Ratu Tenny Bawa Harapan Kesetaraan Kaum Tuli
Kelas Bahasa Isyarat Gratis untuk Meningkatkan Kesetaraan bagi Komunitas Tuna Rungu di Sumatera Selatan
Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya inklusi dan kesetaraan, kelas bahasa isyarat gratis kini hadir sebagai langkah nyata dalam mendukung komunitas tuna rungu di Sumatera Selatan. Inisiatif ini dilakukan oleh Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sumsel, Ratu Tenny Leriva MM, yang ingin memberikan peluang sama bagi masyarakat, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan dalam pendengaran.
Kelas belajar bahasa isyarat ini digelar perdana pada batch pertama di kantor DPD RI Sumsel di Jakabaring. Tujuan utamanya adalah untuk memperluas akses literasi dan komunikasi bagi teman-teman tuli, sehingga mereka bisa merasakan kesetaraan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam pekerjaan, informasi, maupun layanan publik.
“Kesetaraan dalam literasi dan komunikasi bagi teman-teman tuli di Sumatera Selatan masih menjadi kebutuhan penting. Selama ini, mereka kerap hanya menerima bantuan yang bersifat konsumtif atau habis pakai. Padahal, yang mereka harapkan adalah kesetaraan yang sesungguhnya,” ujar Ratu Tenny Leriva saat membuka kegiatan tersebut.
Permasalahan utama yang dihadapi komunitas tuli adalah terbatasnya jumlah Juru Bahasa Isyarat (JBI) di Sumatera Selatan. Kondisi ini menyebabkan akses komunikasi bagi komunitas tuli di berbagai sektor, terutama layanan publik, menjadi belum optimal.
Langkah Konkret untuk Menciptakan Kesetaraan
Melalui penyelenggaraan kelas bahasa isyarat ini, diharapkan akan lahir lebih banyak Juru Bahasa Isyarat yang kompeten. Ratu Tenny Leriva berharap peserta kelas dapat berperan aktif membantu layanan publik, menjadi penerjemah dalam berbagai kegiatan resmi, serta mendukung komunikasi para pemimpin daerah, termasuk kepala daerah di Sumatera Selatan, agar lebih inklusif dan setara bagi semua.
Sampai saat ini, dari 17 kabupaten dan kota di Sumsel belum ada juru bicara isyarat yang membantu kepala daerah menerjemahkan bahasa isyarat. Oleh karena itu, melalui kelas ini, posisi-posisi yang masih kosong diharapkan dapat segera terisi.
Peserta pelatihan berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa hingga pekerja. Kelas bahasa isyarat ini digelar tujuh kali pertemuan atau 14 jam. Setiap pertemuan durasinya dua jam dan diajarkan langsung oleh Gerkatin Sumsel.
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pelatihan, peserta akan memperoleh kompetensi sebagai Ahli Bahasa Isyarat Tingkat Satu. Namun, mereka belum dapat disebut sebagai Juru Bahasa Isyarat, karena untuk menjadi Juru Bahasa Isyarat diperlukan proses pembelajaran dan sertifikasi hingga empat tingkatan. Sehingga harus kembali mengasah ilmu dan kemampuan komunikasinya lagi agar bisa mencapai empat tingkat tersebut.
Ratu Tenny Leriva juga memberikan semangat bagi peserta agar bisa mengikuti kelas dengan baik sehingga berhasil nantinya.
Inisiatif yang Berkelanjutan
Kepala Dinas Perpustakaan Sumsel, Fitriana, menjelaskan bahwa kelas bahasa isyarat ini diinisiasi oleh Duta Literasi Sumsel Ratu Tenny Leriva yang peduli dengan literasi bagi teman tuli. Kelas ini digelar gratis dan dibiayai olehnya, serta akan digelar beberapa batch.
Alasan kelas tidak boleh terlalu banyak pesertanya adalah agar ilmu yang disampaikan terserap dengan baik dan dipahami oleh peserta. “Iya nanti akan digelar batch lainnya dan semua gratis dibiayai ibu Ratu Tenny Leriva,” katanya.
- GTK 2026 Tidak Bisa Dibuka Hari Ini? Ini Penyebab dan Solusinya - January 24, 2026
- Soal dan Pembahasan Larutan untuk Tingkat SMA - January 24, 2026
- Inisiasi Kelas Belajar Isyarat, Ratu Tenny Bawa Harapan Kesetaraan Kaum Tuli - January 24, 2026




Leave a Reply